
Aidan dan sang ibu terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka berdua menoleh ke arah samping di mana Yara berada.
"Ya-Yara, kau sudah pulang?" Aidan beranjak bangun dan menghampiri Yara yang berdiri tidak jauh darinya.
Yara sendiri sangat terkejut saat melihat keadaan sang suami, di mana wajah tampan suaminya itu sudah babak belur di penuhi luka.
"Apa yang terjadi, Mas? Kenapa banyak luka di wajahmu?" tanya Yara dengan tajam sambil menyentuh luka yang ada di wajah Aidan membuat laki-laki itu meringis menahan sakit.
"Nanti saja ceritanya, Yara. Sekarang obati dulu luka-lukanya."
Yara tersentak kaget saat mendengar ucapan sang mertua, dia lalu mengangguk dan membawa Aidan kembali duduk di atas sofa.
Dengan cepat Yara mengambil perlengkapannya yang ada di dalam kamar, karena selain di klinik. Dia memang selalu menyimpan peralatan medis dan obat-obatan di rumah untuk berjaga-jaga.
Setelah mengambil perlengkapannya, Yara kembali menemui Aidan dan langsung mengobati wajah laki-laki itu. Dia ikut meringis saat Aidan kesakitan saat diobati, tetapi dia tetap melanjutkannya sampai selesai.
"Mas belum makan, 'kan?" tanya Yara setelah selesai mengobati wajah Aidan.
Aidan menggelengkan kepalanya membuat Yara segera beranjak ke dapur, dia mengambil makanan dan juga minuman untuk sang suami karena Aidan harus segera minum obat.
Aidan menikmati makanan yang Yara beri dengan penuh perjuangan. Wajahnya terasa sangat sakit saat mengunyah makanan itu, jadilah dia langsung menelannya membuat matanya melotot menahan sakit ditenggorokan.
Setelah selesai, Yara segera memberikan obat agar luka yang ada di wajah Aidan tidak membengkak. Juga tidak menimbulkan infeksi dan rasa sakit yang nantinya akan sangat menyiksa laki-laki itu.
Setelah semua rangkaian pemeriksaan dan obat-obatan selesai. Yara kembali bertanya pada Aidan tentang apa yang terjadi, dan siapa yang telah membuat wajah laki-laki itu babak beluk.
"Ta-tadi, tadi-" Aidan bingung sekali harus mengatakan apa. Haruskah dia mengatakan yang sejujurnya pada Yara? Atau haruskan dia berbohong dan mengarang cerita? Tapi, dia yakin jika Zafran pasti akan memberitahu Yara tentang apa yang terjadi.
"Kenapa diam, Mas? Cepat katakan apa yang terjadi sehingga membuat wajahmu babak belur kayak gitu," ucap Yara dengan tajam. Tentu saja dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi, karena sejak dia mengenal Aidan. Suaminya itu sama sekali tidak pernah berkelahi.
"Ta-tadi, tadi Zafran menghajarku,"
"Apa?" Yara dan Nova memekik kaget saat mendengar nama seseorang yang sudah menghajar Aidan. "Kenapa, Mas? Kenapa Zafran melakukan semua ini?" Yara benar-benar sangat syok saat mendengarnya. Mungkinkah adiknya itu marah karena masalah yang waktu itu?
"Itu karena, karena dia-"
__ADS_1
"Dia telah mengkhianatimu, Mbak!"
Deg.
Yara, Aidan dan juga Nova terlonjak kaget saat mendengar suara baritone seseorang. Mereka langsung menoleh ke arah samping kanan dan terkejut melihat kedatangan Zafran.
"Za-Zafran?" Yara melihat sang adik dengan bingung, apalagi saat mendengar apa yang adiknya itu katakan tadi.
Zafran sendiri beranjak mendekati Yara dan langsung menarik tangan kakaknya itu.
"Apa yang terjadi, Zaf? Kenapa kau menghajar kakakmu sendiri?" tanya Yara dengan tajam.
Zafran tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan sang kakak. Dia lalu melihat ke arah Aidan yang wajahnya tampak sangat pias saat ini.
"Aku yang mengatakannya, atau kau sendiri yang mengakui pengkhianatanmu?"
Deg.
Yara dan Nova tersentak kaget saat mendengar ucapan Zafran. Kedua wanita itu langsung menatap Aidan dengan tajam seolah meminta penjelasan dengan apa yang Zafran katakan.
Yara menatap Aidan dengan heran dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Zafran bisa sampai menghajar Aidan? Bahkan dia mengatakan jika Aidan seorang pengkhianat, sebenarnya ada apa?
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar dan apa maksud ucapan Zafran tadi, Mas? Apa kau selingkuh di belakangku?"
Deg.
Wajah Aidan semakin pias saat mendengar apa yang Yara katakan, apalagi saat melihat wajah wanita itu yang menatapnya dengan tajam.
"Ti-tidak, Yara. Zafran salah paham tentang apa yang terjadi antara aku dan juga Rosa, kau masih ingat dengannya 'kan?"
Yara terdiam saat mendengar jawaban Aidan, lalu dia menganggukkan kepalanya.
"Rosa teman kerjamu, 'kan?
Aidan langsung menganggukkan kepalanya. "Benar. Aku yang salah karena sering mengantar wanita itu pulang ke apartemen, dan kami sering mengerjakan pekerjaan di sana. Itu sebabnya Zafran salah paham."
__ADS_1
Zafran tersenyum miring saat mendengar penjelasan Aidan. Baiklah, dia akan diam saja saat ini. Dia ingin melihat sejauh apa laki-laki itu membohongi kakaknya.
"Tapi kenapa kau harus mengerjakan pekerjaan di apartemennya, Mas?" Yara cukup terkejut saat mendengarnya. Mungkinkah setiap malam suaminya bersama dengan wanita itu di apartemen?
"I-itu karena kebetulan apartemen Rosa dekat dengan perusahaan, Yara. Lagi pula kami tidak hanya berdua, tapi sama tim yang lainnya juga. Hanya saja kebetulan tadi aku mengantar Rosa sendirian, dan Zafran jadi salah paham saat melihatnya."
Zafran bersedekap dada sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagus, bagus sekali. Bukan hanya seorang pengkhianat, tapi kakaknya juga sudah menikahi seorang pembohong kelas kakap.
Yara menghela napas kasar lalu berbalik dan menghadap ke arah Zafran. Mungkin saja adiknya itu sudah salah paham pada Aidan.
"Zaf, bukankah Mbak-"
"Apa kau sudah selesai, wahai aktor papan atas?" Zafran langsung saja memotong ucapan sang kakak membuat Yara menatapnya dengan heran. "Apa tidak ada lagi yang mau kau katakan, atau masih ada banyak skenario yang harus kau ucapkan?"
Aidan menatap Zafran dengan tajam, kedua tangannya terkepal erat membuat Yara kian gelisah.
"Sudah cukup, Zaf. Semua bisa dibicarakan baik-baik, dan bukan dengan kekerasan seperti ini!" ucap Yara dengan penuh penekanan membuat sang adik membuang muka kesal.
"Mbak percaya dengan apa yang dia katakan?" Zafran menunjuk ke arah Aidan membuat Yara langsung menarik tangannya.
"Hentikan, Zaf. Mbak paling tidak suka jika kau tidak sopan dengan orang lain, dan urusan percaya atau tidak biarlah Mbak yang mengurusnya,"
"Benarkah? Apa Mbak mampu melawan pembohong besar sepertinya?"
"Zafran!" bentak Yara membuat semua orang terlonjak kaget. Untuk pertama kalinya dia membentak sang adik seperti itu.
"Lihat ini Mbak, lihat! Inilah yang pembohong itu lakukan selama ini di belakangmu." Zafran langsung melemparkan sesuatu tepat ke tubuh Aidan.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1