Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 67. Uang yang Cukup Besar.


__ADS_3

Ryder tersentak kaget saat mendengar ucapan Yara, begitu juga dengan Shanty dan Bisma yang langsung menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya.


"Apa, apa maksudmu, Yara? Kenapa kau-"


"Bukannya kau membawaku ke sini untuk menjadi bahan taruhan? Tentu saja aku harus mengabulkan niat mulia mu itu," ucap Yara membuat Ryder merasa tertampar dengan kuat.


Yara lalu beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju panggung, jelas saja semua orang langsung menatapnya dengan tajam. Terutama para wanita, sementara para lelaki memandang dengan takjub dan penuh gairah.


"Yara, tunggu!"


Ryder berlari untuk menyusul langkah wanita itu. Dengan cepat dia mencekal tangan Yara hingga langkah wanita itu terhenti.


"Jangan sentuh aku!"


Deg.


Ryder langsung membeku saat mendengar ucapan tajam dan dingin yang terasa menusuk dada, hingga cekalan tangannya terlepas dengan sendirinya dari lengan Yara.


"Hentikan Yara, aku minta maaf."


Yara tersenyum dengan sinis. "Bukannya semua wanita yang datang ke tempat ini untuk bermain? Lalu, kenapa aku tidak? lagi pula tujuan utamamu membawaku adalah untuk menjadi bahan taruhan, maka aku akan mengikutinya."


Yara kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju di mana Alan berada. Kedua tangannya mengepal kuat dengan rasa sakit yang menyesakkan dada.


Sungguh, Yara tidak menyangka jika Ryder tega menjadikannya sebagai bahan taruhan. Serendah itukah harga dirinya di mata laki-laki itu? Apa sehina itu harkat dan martabat seorang wanita dimata para lelaki?


Yara mengusap sudut matanya yang basah. Tidak, dia tidak akan menangis di hadapan mereka semua. Terutama Ryder, dia akan menunjukkan bahwa harga diri seorang wanita tidak layak untuk menjadi bahan taruhan seperti ini.


Dari sudut tempat itu, terlihat lelaki dengan kaca mata hitam dan topi hitam sedang memperhatikan ke semua tempat. Tampak senyum tipis tercetak diwajahnya, tentu saja dia senang saat mendengar apa yang kakaknya ucapkan.

__ADS_1


Yah, laki-laki itu adalah Zafran. Tentu saja dia juga ada di tempat itu karena Yara berada di sana, dia tidak akan membiarkan sang kakak pergi begitu saja bersama dengan Ryder.


"Bagus sekali. Dengan begini kau sudah membuat jarak yang sangat besar dengan kakakku, Ryder. Sungguh, kau pasti akan habis ditanganku."


Zafran lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada sang kakak jika dia ada di tempat itu juga, jadi lakukan apa saja yang menurut kakaknya baik tanpa merasa takut.


Setelah mengirim pesan, Zafran segera menelepon sang papa karena ingin melakukan sesuatu dan semua itu butuh izin dari papanya.


"Yah, Zafran. Apa kau baik-baik saja?" tanya sang papa yang ternyata sudah mengangkat panggilannya.


"Aku ingin mengambil uang sebesar 50 milyar, Pa."


"Apa?" Vano yang ada disebrang telepon memekik kaget saat mendengar ucapan sang putra. "Zafran, apa kau baik-baik saja?" Dia lalu bertanya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja, Pa. Aku sekarang membutuhkan uang itu, bukankah Papa sendiri yang menyuruhku untuk meminta uang pada Papa?"


Zafran tidak lagi mendengar suara sang papa, dia lalu menjauhkan benda pipih itu untuk melihat apakah panggilannya masih tersambung atau tidak.


"Apa Papa masih ada di sana?"


Vano terkesiap saat mendengar suara Zafran. "Apa kau yakin kalau baik-baik saja, Zaf? Memangnya uang itu untuk apa?" Dia lalu memutuskan untuk bertanya.


"Aku baik, Pa. Aku akan mengatakannya saat sudah kembali nanti, untuk sekarang aku akan mengambil uang yang aku sebutkan tadi."


Vano menghela napas berat. "Baiklah, terserah kau saja asal kau bisa mempertanggung jawabkan uang itu."


"Tentu, Pa. Aku akan tutup teleponnya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


Zafran lalu mematikan panggilannya saat sudah mendapat persetujuan sang papa, dia tahu jika papanya pasti sangat terkejut saat mendengar jumlah uang yang dia minta. Untung saja dia membawa cek kosong, dan hanya perlu mengisinya jumlah uangnya saja.


Pada saat yang sama, Yara sudah berhadapan dengan Alan. Dia sudah naik ke atas panggung dan menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Aku tidak tau permainan apa yang akan kalian lakukan, jadi bisakah Anda menjelaskannya?" pinta Yara membuat Alan terdiam.


"Apa tuan Ryder tidak menjelaskannya padamu?" Seorang wanita yang berada di samping Alan bersuara membuat Yara menggelengkan kepala.


"Kau harus memikat semua lelaki yang ada di tempat ini, terserah dengan cara seperti apa. Dan jika mereka menyukaimu dan memilihmu di antara wanita yang lain, maka kau akan menjadi pemenangnya. Jika kau sudah menjadi pemenang dalam acara ini, maka hidupmu pasti akan bergelimang harta."


Hati Yara terasa seperti sedang ditusuk oleh sebuah jarum besar saat mendengarnya. Dia lalu mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih pada wanita itu.


"Aku permisi ke toilet sebentar." Yara menganggukkan kepalanya pada Alan dan berlalu pergi, sementara laki-laki itu terus menatap Yara tanpa bisa mengeluarkan suaranya.


"Kau benar-benar sangat cantik dan menarik, Yara. Aku pasti akan mendapatkanmu." Alan mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat.


Yara berlalu masuk ke dalam toilet lalu menguncinya. Air mata yang sejak tadi ditahan langsung mengucur deras, sungguh hatinya sangat sakit saat melihat apa yang terjadi saat ini.


"Ya Allah, sungguh aku tidak menyangka jika masih saja ada orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Mereka rela menjual harga diri demi mendapatkan kekayaan, bahkan para lelaki juga merendahkan diri mereka sendiri hanya untuk kepuasan sesaat."


Yara mengusap wajahnya yang telah basah terkena air mata. Dia harus tetap kuat, dan menunjukkan jika tidak ada satu pun orang yang bisa menginjak-nginjak harga dirinya.


"Kau lihat saja, Ryder."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2