Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 137. Terluka.


__ADS_3

Ryder terus melayangkan pertanyaan tajam pada Bayu, dia ingin melihat sampai seberapa jauh laki-laki itu berbohong, dan bod*ohnya dia selama ini karena sudah percaya pada laki-laki sepertinya.


"Ka-kami memperhatikan pak Bayu dari kejauhan, Tuan. Lalu memutuskan untuk menghampiri beliau saat melihat Pak Bayu terjatuh ke tanah," sahut salah satu dari penjaga keamanan itu membuat Bayu bernapas lega.


"Benar, Ryder. Tiba-tiba saja mereka datang saat napasku terasa sesak. Mereka lalu pergi meninggalkanku untuk mencari bantuan, dan sekarang mereka kembali lagi ke sini," sambung Bayu.


Ryder terdiam sambil menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya. Andai saja saat ini mereka berada di kota, sudah pasti dia akan langsung menghajar mereka semua. Namun, saat ini dia tidak bisa melakukan itu karena berada di desa. Di tempat ini tidak boleh sembarangan, apalagi belum ada bukti kuat yang nantinya membuat masyarakat desa malah akan berbalik menyalahkannya.


Tiba-tiba Ryder mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya membuat dia harus segera menjauh dari mereka. "Kembali ke pos kalian!"


Kedua lelaki itu mengangguk lalu segera berlari ke arah pabrik untuk kembali ke pos, sementara Bayu benar-benar merasa lega karena berhasil membuat Ryder percaya dengan ucapannya.


"Kau sendiri dari mana, Rayder? Apa habis berduaan dengan Dokter Yara?" tanya Bayu dan bermaksud untuk menggoda laki-laki itu.


Ryder hanya dan tidak menjawab ucapan Bayu karena saat ini dia sedang fokus membaca pesan masuk diponselnya. Lalu sesaat kemudian dia kembali menyimpan benda pipih itu.


"Aku dari rumah kepala Desa," jawab Ryder. Dia lalu pamit untuk segera pulang karena harus mengambil berkas penting yang tertinggal.


Ryder lalu kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Dia tadi mendapat pesan dari Zafran bahwa laki-laki itu sudah berada di rumah, jadi dia harus segera menemui Zafran.


"Asslamau'alaikum," ucap Ryder saat sudah sampai di tempat tujuan. Dia melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.


Kakek Domi dan Weny segera menjawab salam Ryder, sementara Zafran sedang berada di dalam kamar mandi.


"Zafran di mana Nek?" tanya Ryder saat tidak menemukan Zafran di dalam kamar.


"Syukurlah kau sudah pulang, Ryder. Nenek dan kakek sangat khawatir dengan keadaan Zafran," ucap nenek Weny dengan pelan.


Wajah Ryder berubah pias. "Apa yang terjadi padanya Nek? Di mana dia sekarang?" Dia bertanya dengan tajam.

__ADS_1


Nenek Weny lalu mengatakan jika Zafran pulang ke rumah dalam keadaan tidak baik. Kedua kaki laki-laki itu penuh dengan luka karena tidak memakai sandal, bahkan pakaian yang dipakai juga basah karena keringat.


"Dia bilang ingin menghirup udara malam, dan akan segera kembali. Tapi hampir dua jam dia pergi dan tidak kembali, sampai kakek memutuskan untuk mencarinya. Tapi dia lalu kembali sebelum kakek pergi," ucap kakek Domi.


Ryder mengangguk paham. Dia lalu berjalan ke dapur untuk menghampiri Zafran yang sedang berada di dalam kamar mandi.


"Apa kau baik-baik saja, Zaf?" tanya Ryder sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Zafran yang sedang membersihkan luka di telapak kakinya tersentak kaget mendengar suara Ryder. "Aku baik-baik saja, tunggu sebentar." Dia kembali menyiram tubuhnya dengan air dingin yang terasa menusuk sampai ke tulang, sambil menahan perih dan sakit disekujur kaki.


Beberapa saat kemudian, Zafran keluar dari kamar mandi sambil berjalan dengan tertatih-tatih. Dengan cepat Ryder menghampirinya dan membantu menahan tubuhnya.


"Ya Tuhan, kenapa bisa sampai seperti ini, Zaf?" tanya Ryder dengan mata memerah, luapan kemarahan terlihat jelas diwajahnya.


"Nanti saja tanyanya. Bawa aku ke kamar dulu," pinta Zafran.


Ryder mengangguk paham, lalu memapah Zafran menuju kamar. Kakek Domi yang melihat juga ikut membantu, sementara nenek Weny segera menyiapkan obat-obatan herbal untuk dioleskan ditelapak kaki laki-laki itu.


Setelah selesai, Ryder kembali membawa Zafran ke ruang televisi agar kaki laki-laki itu bisa diobati, karena jika di dalam kamar, ruangannya sangat sempit dan sesak jika mereka semua masuk ke dalamnya.


"Kenapa kakimu bisa sampai seperti ini, Zaf? Dan sebenarnya apa yang sudah bajing*an itu lakukan?" tanya Ryder dengan tajam. Dia menggertakkan giginya karena sedang menahan emosi.


Zafran terdiam. Dia merasa ragu untuk mengatakan semuanya karena ada kakek Domi dan nenek Weny, dia takut jika sepasang istri itu juga mengkhianati Ryder.


"Tidak apa-apa, Nak. Katakan saja apa yang terjadi, kami bersumpah tidak akan mengatakan semua itu pada orang lain. Dan kami juga sudah menganggap Ryder sebagai anak kami sendiri," ucap Domi. Dia paham jika Zafran ragu mengatakan apa yang terjadi karena keberadaannya dan sang istri.


Zafran menghela napas kasar. Baiklah, dia akan percaya pada kakek Domi dan nenek Weny, semoga mereka benar-benar orang baik dan tidak seperti Bayu.


"Tadi kakek bilang kalau melihat Bayu memasuki pabrik, 'kan? Jadi aku pergi ke sana karena merasa ada sesuatu yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu." Zafran lalu menceritakan semua yang terjadi pada mereka. Juga semua percakapan Bayu dengan dua orang lelaki, tidak ada satu pun yang dia lewatkan.

__ADS_1


Ryder benar-benar murka saat mendengar semua cerita Zafran. Wajahnya merah padam dengan urat-urat yang menonjol di sekitar leher, terlihat jelas jika dia sedang sangat marah.


"Lalu ada seorang lelaki yang menyuruhku untuk pergi ke lorong yang ada di bagian paling belakang pabrik, dan masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu aku menemukan lemari yang dinding bagian belakangnya terbuat dari batu dan semen, dan ternyata dinding itu langsung tembus keluar dari pabrik," ucap Zafran kemudian.


Kakek Domi dan nenek Weny membelalakkan kedua mata mereka karena merasa terkejut, begitu juga dengan Ryder yang baru tahu jika di dalam ruangan itu ada lemari yang bisa langsung menembus keluar.


"Sebenarnya siapa laki-laki yang aku lihat itu? Aku yakin jika dia bukan manusia, dan ruangan apa yang aku masuki?" tanya Zafran dengan tidak mengerti.


Ryder terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu siapa laki-laki yang dimaksud oleh Zafran, sementara ruangan itu hanya ruangan tua yang sudah tidak digunakan lagi.


"Kakek juga tidak tahu siapa laki-laki yang kau maksud itu, Zafran. Tapi untuk ruangan yang ada di bagian belakang itu memang terkenal angker dan menyeramkan, semua orang takut dan tidak ada yang berani untuk mendekat," sahut kakek Domi.


"Benar. Dulu ruangan itu dipakai untuk menyimpan berkas, tapi setelahnya tidak digunakan lagi karena orang-orang yang ada di dalamnya terus mendapat gangguan mistis," sambung nenek Weny.


Ryder juga pernah mendengar cerita tentang semua itu dari Bayu, tetapi dia tidak percaya dengan setan dan menganggap itu hanya bualan manusia saja.


"Sudahlah, kita pikirkan itu nanti. Sekarang kau harus diobati dulu, Zafran. Aku akan menjemput Yara dan membawanya ke sini."


Zafran langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak ingin mbak Yara tahu jika aku sedang terluka. Aku tidak ingin membuatnya khawatir." Sudah cukup sakit perutnya membuat Yara khawatir, dan dia tidak mau membuat kakaknya semakin khawatir jika melihatnya seperti ini.


"Tidak bisa, Zaf. Lukamu itu cukup parah, kau harus diobati oleh Dokter," ucap nenek Weny. Walau dia sudah mengoleskan obat-obatan herbal ke kaki Zafran, tetap saja laki-laki itu harus diperiksa oleh Dokter.


Zafran menghela napas kasar. Kedatangannya hanya menyusahkan dan menambah kekhawatiran sang kakak saja, padahal ada banyak pekerjaan yang harus kakaknya selesaikan.


"Tidak apa-apa, nanti aku yang akan menjelaskannya pada Yara. Dan aku bersumpah akan membalas semua perbuatan bajing*an itu, aku akan membuatnya menyesal karena sudah berani mengusikku dan membuatmu terluka seperti ini."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2