
Setelah bertemu dengan Vano, River segera keluar dari ruangan sang tuan dan kembali ke ruangannya. Dia lalu duduk di kursi kerja sambil mengusap wajah dengan kasar.
"Ryder," gumam River sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia merasa geram dengan apa yang laki-laki itu lakukan pada Yara.
River memutar otak untuk mencari cara agar Ryder mendapat balasan dari apa yang sudah dilakukan, bagaimana mungkin laki-laki itu menjadikan Yara sebagai bahan taruhan?
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Yara, aku pasti akan benar-benar membunuhnya," ucap River dengan kesal. Jelas dia merasa emosi karena sudah menganggap Yara sebagai anaknya sendiri, tapi apa yang harus dia lakukan?
River menjadi bingung sendiri. Lalu, ada sesuatu yang tiba-tiba melintas dalam benaknya membuat dia tersenyum lebar.
"Ya, itu adalah hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan pada Yara."
River menganggukkan kepalanya dan bergegas untuk menelepon seseorang. Dia lalu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya pada orang tersebut setelah sambungan telepon itu di jawab.
Beberapa saat kemudian, River mematikan panggilan itu setelah mengatakan semua yang ada dalam pikirannya. Dia senang karena apa yang dia pikirkan disetujui oleh orang tersebut, dan sekarang saatnya menunggu semua itu terjadi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Mahen sedang duduk bersama dengan Riani di dalam kamar mereka. Dia baru saja menerima telepon dari River, dan laki-laki itu memintanya untuk menemui orang tua Ryder.
"Ada apa, Mas? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Riani dengan khawatir.
Mahen menganggukkan kepalanya. "Sesuai dengan apa yang aku bilang tadi, Rin. Besok aku akan datang menemui orang tua Ryder, aku pasti akan membuat keributan di sana."
Riani menghela napas kasar saat mendengar ucapan Mahen. Sebenarnya dia tidak ingin semakin memperbesar masalah ini, tetapi apa yang Ryder lakukan memang sudah sangat keterlaluan.
"Ryder memang membuat kesalahan, Mas. Tapi orang tuanya tidak, mereka orang-orang baik," ucap Riani. Dia tidak ingin hanya karena kesalahan Ryder, maka orang tua laki-laki itu terkena imbasnya.
__ADS_1
"Aku mengerti, Riani. Kau tenang saja, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Mahen memegang kedua bahu Riani untuk menenangkan sang istri. Kemudian mereka merebahkan diri di atas ranjang dan saling berpelukan untuk memasuki alam mimpi.
Sementara itu, saat ini Yara sedang sibuk dengan laptopnya. Untuk mengisi kekosongan waktu, dia memilih untuk lebih mengasah ilmunya. Dia banyak melakukan riset-riset tentang segala macam penyakit, juga obat-obatan yang sesuai dengan bidangnya.
Fokus Yara lalu terhenti saat mendengar suara dering ponselnya. Dia beranjak dari sofa dan berjalan ke ranjang untuk mengambil benda pipih itu.
Yara terdiam saat mendapat pesan dari seseorang. Dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya dan segera mengotak-ngatik ponsel itu dan sama sekali tidak membuka pesan tersebut.
"Lebih baik seperti ini, Ryder. Kita tidak ada ikatan apapun, bahkan pertemanan kita juga sudah kau hancurkan. Jadi aku juga akan memutus tali silaturahmi ini agar hatiku tetap sehat, dan tidak menyimpan kebencian padamu yang sudah menghancurkan harga diriku," gumam Yara. Dia memutuskan untuk memblokir nomor laki-laki itu karena enggan lagi untuk saling berkomunikasi.
Tidak mau larut memikirkan laki-laki itu, Yara memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi matanya masih enggan untuk terpejam.
Ryder yang saat ini sedang duduk di balkon kamarnya tampak sedang memandangi langit malam. Gemerlip bintang yang bertaburan di langit benar-benar membuat suasana saat ini sangat indah, apalagi sinar rembulan yang seakan menerpa wajahnya membuat hati kian menghangat.
Mata Ryder lalu menatap ke arah ponsel yang sejak tadi berada di atas pangkuan. Satu pesan sudah berhasil terkirim untuk seseorang, tetapi sampai saat ini pesan itu tidak kunjung di baca.
"Tuhan, aku telah membuat kesalahan besar, dan aku menyesalinya. Tidak bisakah Kau membuatnya kembali padaku?"
Dada Ryder kembali sesak saat memikirkan kesalahan yang telah diperbuat. Untuk pertama kalinya, dia jatuh cinta pada seorang wanita. Namun, dengan sengaja dia mendorong wanita itu untuk pergi dari hidupnya.
Rasa sesal kian melanda, tetapi apalah daya saat semua sudah terjadi demikian. Meratap juga tiada guna, tetapi mencoba untuk memperbaikinya lah yang menjadi jawaban.
Ryder kembali mengambil benda pipih itu untuk mengirim pesan pada teman-temannya, dia meminta agar besok siang mereka berkumpul di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari perusahaannya.
"Benar, seharusnya sejak dulu aku tidak melakukan hal seperti itu. Aku akan membubarkannya, tidak akan ada lagi wanita yang menjadi bahan taruhan. Terima kasih, Yara. Terima kasih karena telah menyadarkanku dengan kehilanganmu."
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, tepat pukul 11 siang. Mahen berangkat dari perusahaannya menuju perusahaan Eric. Dia sengaja tidak membawa sekretarisnya karena menyangkut hal pribadi, juga kejadian di masa lalu membuatnya trauma hingga tidak bisa mempercayai sekretarisnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Mahen sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam perusahaan itu. Dia lalu mendekat ke meja resepsionis dan langsung mengatakan jika ingin bertemu dengan Eric.
"Maaf, Tuan. Apa Anda sudah membuat janji?"
"Katakan pada Eric jika Mahendra Arkana ingin bertemu," ucap Mahen dengan penuh penekanan membuat wanita itu langsung mengangguk paham.
Setelah menunggu beberapa saat, sekretaris Eric datang dan menghampiri Mahen. Laki-laki itu tampak terkejut karena Mahen tidak memberitahu jika akan datang ke perusahaan mereka.
"Antar aku pada tuan Eric," ucap Mahen dengan cepat.
Sekretaris itu lalu mempersilahkan Mahen untuk mengikutinya menuju ruangan Eric. Pada saat mereka masuk ke dalam lift, bertepatan dengan Ryder yang baru keluar dari lift yang berbeda.
"Selamat datang, Tuan. Mahen. Maaf karena tidak menyambut Anda," ucap Eric saat Mahen sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak perlu, Tuan Eric. Saya datang ke sini bukan untuk berkunjung, tapi untuk menuntutmu atas apa yang telah putramu lakukan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.