Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 63. Ajakan Pergi.


__ADS_3

Semua orang tampak menahan tawa saat mendengar ucapan Zafran, sementara Ryder langsung memalingkan wajahnya yang memerah menahan malu.


"Si*alan. Berani sekali dia mengatakan hal seperti itu!" Ryder mengepalkan kedua tangannya dengan kesal.


Yara sendiri tampak menunduk karena merasa malu dengan apa yang adiknya ucapkan, tangannya lalu mencubit lengan sang adik yang berada tepat di sampingnya.


"Kenapa Mbak mencubitku?" tanya Zafran dengan suara tertahan.


"Diam dan makan saja makananmu, Zaf. Makan enggak boleh ngomong," ucap Yara dengan cepat, tentu saja untuk menutupi rasa malu yang sedang menyelimuti hatinya saat ini.


Setelah itu mereka semua mulai menikmati makanan yang sudah tersaji, tentu saja diiringi dengan obrolan ringan tentang kehebatan Yara dalam merawat Ryder membuat wanita itu bertambah malu.


Selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Mereka semua tampak berbincang dengan akrab, sementara para anak-anak sedang bersama dengan Yara dan juga Zafran.


"Bisa kita bicara sebentar, Yara?"


Yara mendongakkan kepalanya untuk menatap Ryder, dia lalu mengangguk dan beranjak pergi dari tempat itu.


Zafran yang melihatnya tentu tidak tinggal diam. Dia meminta Fahraz dan Yumi untuk tetap duduk tenang di tempat itu, sementara dia sendiri beranjak pergi untuk mendengar apa yang ingin laki-laki itu katakan.


Zafran tahu jika apa yang dia lakukan ini tidak benar. Seharusnya dia tidak menguping pembicaraan orang lain, apalagi kakaknya sudah sangat dewasa melebihi dirinya sendiri. Namun, apa yang terjadi di masa lalu benar-benar menjadi pelajaran besar untuknya. Dia tidak mau hal seperti itu terulang kembali.


Ryder membawa Yara duduk di sebuah gazebo yang ada di samping rumah. Semilir angin membuat hati menjadi sejuk, tetapi tidak untuk Yara yang tampak sedang mengusap-ngusap kedua lengannya.


"Pakai ini." Ryder memberikan kemeja yang dia pakai pada Yara.


Dengan cepat, Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku baik-baik aja kok."

__ADS_1


Ryder tetap memberikan kemeja itu pada Yara membuat Yara mau tidak mau menerimanya, sementara dia sendiri memakai kaos yang agak ketat membuat tubuh atletisnya tercetak sempurna. Bukan bermaksud ingin memamerkan tubuhnya, toh semua itu tidak berlaku untuk wanita itu.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Yara kemudian, setelah dia meletakkan kemaja laki-laki itu ke tubuhnya.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih karna selama ini kau sudah merawatku," ucap Ryder. Sangking sedihnya karena akan berpisah, dia sampai lupa mengucapkan terima kasih.


Yara tersenyum simpul. "Sama-sama. Lagi pula aku sudah mendapat bayaran yang sangat besar dari orang tuamu, itu sudah seperti ucapan terima kasih bukan?" Ucapan Yara mengandung makna sindiran, jelas dia menyindir Ryder yang baru mengucapkan terima kasih sekarang.


"Apa yang kau lakukan lebih dari sekedar uang," bantah Ryder dengan cepat. "Apa selama ini kau merawatku hanya karena uang?" Dia menatap Yara dengan tajam.


Yara diam sejenak saat mendengar ucapan Ryder. Diamnya itu tentu saja membuat Ryder menjadi kesal.


"Bayaran orang tuamu memang sangat banyak. Hanya dengan waktu seminggu lebih saja, aku sudah bisa membeli rumah mewah dengan uang itu," ucap Yara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ryder mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Jadi, selama ini Yara merawatnya hanya karena uang?


Hati Ryder yang kesal mendadak jadi luluh saat mendengar ucapan Yara. Benar juga sih, toh wanita itu juga tidak tahu jika orang tuanya akan memberikan uang sebesar 800 juta.


"Tidak semua hal bisa diukur dengan uang, begitu juga dengan apa yang aku lakukan. Munafik namanya jika aku berkata tidak butuh uang, tetapi ada hal-hal tertentu yang lebih berharga dari hanya sekedar uang," ucap Yara sambil tersenyum simpul.


Ryder terdiam saat mendengar ucapan Yara. Dia merasa tertampar saat wanita itu mengatakan jika tidak semua hal berkaitan dengan uang, sementara selama ini dia hanya sibuk berfoya-foya menghamburkan uang kedua orang tuanya.


"Yah. Apa yang kau katakan memang benar," balas Ryder.


Terkadang saat pikirannya sedang benar, dia akan serius bekerja dan menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya. Apalagi dia adalah anak tunggal, jika tidak dengannya, maka kedua orangtuanya akan menghabiskan waktu dengan siapa lagi?


Namun, sayangnya pikiran benarnya itu hanya terjadi setahun sekali saja. Itu pun kalau, jika tidak maka dia akan tetap berada di jalan yang salah.

__ADS_1


"Jadi, apa kau hanya ingin mengatakan ini saja?" tanya Yara, membuat lamunan Ryder terhenti.


Yara merasa sudah terlalu lama berada di luar, tentu saja dia merasa tidak nyaman berduaan seperti ini dengan keluarga laki-laki itu.


"Itu, aku, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok. Apa kau ingin pergi bersamaku?" Akhirnya Ryder bisa mengatakan tujuan utamanya mengajak Yara bicara, padahal tadi dia sudah hampir mengurungkan niat durjananya itu.


"Ke mana?" tanya Yara dengan cepat.


Ryder lalu mengatakan jika salah satu temannya sedang membuat acara, jadi dia diundang untuk datang ke tempat itu.


Yara diam sejenak untuk berpikir. Dia harus segera bersiap untuk kembali ke London, jadi tidak ada waktu untuk pergi. Lebih baik menghabiskan waktu dengan adik-adiknya saja.


"Teman-temanku juga ingin bertemu denganmu, mereka merasa penasaran dan ingin menyapamu secara langsung. Mau ya?" bujuk Ryder sambil menatap penuh harap.


Yara menghela napas kasar. "Baiklah. Tapi, apa acaranya malam? Kalau malam, aku tidak bisa." Dia tidak ingin terjadi sesuatu jika bepergian di malam hari.


"Tentu saja tidak. Acara akan diadakan siang sampai malam, kita hanya akan berada di sana sampai sore saja," jelas Ryder membuat Yara mengangguk paham.


"Baiklah, aku akan menjemputmu besok. Jadi bersiaplah," ucap Ryder kemudian.





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2