Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 114. Menyudutkan Musuh.


__ADS_3

River tercengang saat mendengar ucapan Ryder. Bisa-bisanya laki-laki itu membahas tentang Yara disaat seperti ini, benar-benar di luar akal sehat.


Dor.


Ryder dan River langsung menunduk saat kembali mendapat serangan. Dengan cepat mereka merayap untuk berpidah ke tempat lain agar tidak terkena tembakan, sambil berusaha untuk menyerang orang-orang yang berusaha untuk masuk.


Sementara itu, Eric, Vano, dan juga Zafran sedang berada disalah satu ruangan yang berada di lantai 2. Mereka mengarahkan pistol yang berada di tangan mereka ke arah para musuh yang saat ini berada di depan rumah itu, lalu menembakinya sampai mereka terkapar di atas tanah.


"Apa Papa membunuh mereka?" tanya Zafran saat sudah melesatkan tembakan.


Vano melihat ke arah Zafran sambil menyernyitkan kening, begitu juga dengan Eric yang mendengar ucapan laki-laki itu.


"Sekarang bukan itu masalahnya, Zaf. Kita harus menyelamatkan nyawa kita sendiri," ucap Vano. Tidak mungkin dia mengatakan di depan anaknya sendiri jika sudah membunuh orang lain. Lagi pula, dia berusaha untuk tidak membunuh walau hasilnya sangat minim sekali saat seperti ini.


Eric menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Zafran sekaligus jawaban yang Vano berikan. Namun, dia paham bagaimana perasaan mereka yang memang tidak berasal dalam dunia gelap seperti ini.


Baku tembak terus terjadi hingga akhirnya pihak Luke merasa terdesak, hingga mereka terus mundur membuat Caldo dan yang lainnya keluar rumah.


"Kau?" Luke membulatkan matanya saat melihat keberadaan Caldo, juga yang lainnya di markasnya sendiri. "Beraninya kalian menyerangku!" Dia menatap penuh dengan kemarahan.


Caldi tergelak saat melihat kemarahan Luke. "Kenapa kau marah, Luke? Seharusnya kau sudah memperkirakan semuanya saat menangkap River."


Luke mengepalkan kedua tangan erat. Matanya berkilat penuh kemarahan dan emosi, apalagi saat melihat River bersama dengan mereka.


"Oh yah, dan jangan lupa tentang sesuatu yang sudah kau lakukan pada adikku. Semua ini sepadan dengan percikan api yang kau cipatakan, bukan?" ucap Caldo dengan sarkas dan menusuk.

__ADS_1


Luke tersenyum sinis. "Adik? Jadi Wanita bod*oh itu benar-benar adikmu, ya?" Dia mencibir.


"Tutup mulutmu!" bentak Caldo sambil melemparkan pisau ke arah Luke, tetapi sayangnya laki-laki itu sigap menghindarinya.


River sendiri mengambil pisau yang sudah dia siapkan dan meletakkannya di tangan sebelah kiri. Dia menggenggam ujung pegangan pisau itu dengan erat, dan mencari sela saat Luke tidak fokus, karena kecepatan menghindar laki-laki itu luar biasa.


"Aku tidak percaya kalian datang dan mengghancurkan semuanya. Tapi, kalian tidak bepikir bahwa semuanya selesai sampai di sini, 'kan?" tanya Luke dengan sinis.


Caldo menatap Luke dengan geram. Dia dan yang lainnya tahu betul apa maksud ucapan laki-laki itu, karena Luke memang punya pasukan yang sengaja disiapkan untuk melawan pemerintah.


"Kenapa, apa kalian mengetahui sesuatu?" tanya Luke dengan nada mengejek. Beberapa saat yang lalu dia sudah menelpon salah satu anak buahnya, dan memberi perintah agar datang ke tempat ini.


Ryder yang sejak tadi diam sudah merasa sangat tidak sabar sekali. Dengan cepat dia mengambil pistolnya dan bersiap untuk menyerang Luke.


Zafran yang melihat tindakan Ryder menatap dengan khawatir, lalu bersiap juga memegang pistol untuk mengantisipasi jika ada anak buah Luke yang menyerang laki-laki itu.


Sasa yang masih berada di tempat itu tentu tidak tinggal diam, dia berdiri tepat ke tengah jalan untuk menghalau para anak buah Luke agar tidak bergabung dengan laki-laki itu.


"Apa yang Anda lakukan, Nona?" tanya salah satu anak Buah Luke saat melihat Sasa menghadang jalannya.


Sasa tersenyum. "Tidak ada. Tapi, kenapa kalian ada di sini?" Dia bertanya dengan pura-pura tidak tahu. Kebetulan posisi mereka saat ini masih beberapa meter lagi dari markas Luke, jadi anak buah laki-laki itu tidak bisa melihat apa yang terjadi.


"Kami diperintahkan oleh Tuan untuk datang, Nona," jawab lelaki itu.


Sasa mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menyuruh anak buahnya untuk memeriksa isi mobil dari orang-orang yang datang. Dia beralasan sebagai syarat keamanan, tetapi dibalik semua itu tersimpan rencana yang luar biasa.

__ADS_1


Luke yang tadinya senang mendengar suara mobil, kini tampak menunggu dengan heran dan bertanya-tanya kenapa mereka belum sampai juga.


Melihat Luke sedikit lengah, River langsung melemparkan sebuah pisau yang mengenai tepat ke kaki laki-laki itu.


"Aargh!" Luke memekik kesakitan saat darah segar mengalir dikakinya akibat pisau yang terlempar, membuat 4 orang anak buahnya langsung melindungi.


Tidak mau membuang kesempatan, Caldo dan lainnya langsung menodongkan senjata pada pihak Luke. Lalu memberikan tembakan demi tembakan yang tentu saja saling balas dengan anak buah laki-laki itu.


Dor.


"Aargh!" Luke kembali memekik sakit saat peluru dari pistol Ryder menembus kakinya, bersamaan dengan suara ledakan yang membuat mereka semua terperanjat.


"Suara apa itu?" ucap Vano dengan penasaran.


Semua orang langsung melihat ke arah suara ledakan yang terjadi sampai 3 kali, pertanda bahwa ledakan itu sengaja dilakukan.


Ketika yang lain sibuk dengan ledakan itu, River langsung menerjang Luke hingga membuat laki-laki itu tersungkur di atas tanah.


"Ternyata semudah ini untuk mengalahkanmu, Luke. Kenapa, apa karna kau sudah tua?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2