
Zafran menatap Aidan dengan tajam, apalagi saat mendengar ucapan laki-laki itu membuatnya benar-benar tidak mengerti.
"Jaga ucapanmu, Aidan!" ucap sekretaris Arif dengan penuh penekanan, jangan sampai Zafran merasa marah dan tersinggung.
Aidan terkekeh pelan. "Untuk apa, Tuan? Dia ini adik ipar saya, jadi tidak perlu-"
"Mantan. Aku adalah mantan adik iparmu."
Dengan cepat Zafran meralat ucapan Aidan yang ingin mengatakan jika mereka keluarga. Mimpi saja laki-laki itu bisa kembali menyebutnya sebagai adik.
Aidan langsung diam saat mendengar ucapan Zafran, sementara Arif melirik ke arah Aidan dengan senyum tipis. Tentu saja dia tahu jika laki-laki itu sudah bercerai dengan Yara, bahkan semua karyawan yang ada di perusahaan juga sudah tahu. Apalagi dengan kedekatan antara Aidan dan juga Rosa.
"Y-ya, sekarang kau memang mantan adik iparku. Itu sebabnya jangan ikut campur tentang pekerjaanku, apalagi berbuat hal memalukan seperti ini."
"Tutup mulutmu, Aidan."
Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan, dialah Direktur dari perusahaan D.O group yang sudah diakuisisi oleh Vano.
Aidan langsung menutup mulutnya saat melihat sang atasan, sementara Zafran menatap laki-laki paruh baya itu dengan tajam seolah bertanya apa yang sedang terjadi.
"Maafkan atas ketidak nyamanan ini, Tuan Zafran. Silahkan masuk."
Laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Zafran untuk masuk ke dalam ruangannya, setelah itu dia baru akan membereskan Aidan.
"Tolong ajari karyawan Anda sopan santun, Tuan Surya. Saya tidak mau lingkungan kerja yang tidak sehat seperti ini."
Zafran langsung masuk ke dalam ruangan tanpa menoleh ke arah Aidan, dia mengibaskan jasnya dengan sombong seolah menunjukkan perbedaan antara dia dan laki-laki itu.
"Ba-baik, Tuan." Laki-laki paruh baya bernama Surya itu menundukkan kepalanya, sementara Aidan mengepalkan tangannya dengan erat karena mendengar ucapan Zafran.
Surya lalu beralih menatap Aidan dengan tajam. "Kenapa kau membuat keributan seperti ini, Aidan? Apa kau tidak sadar dengan posisimu, hah?"
Aidan terkesiap dan menatap laki-laki paruh baya itu dengan tidak kalah tajam. "Maaf, Tuan. Saya hanya sedang mengatakan tentang kebenaran saja, juga tentang ketidak adilan yang saya rasakan."
__ADS_1
"Kebenaran dan ketidakadilan kau bilang?" Surya tertawa sinis. "Dengarkan aku baik-baik, Aidan. Kebenarannya adalah kau tidak akan naik jabatan, dan ketidakadilan yang kau katakan itu bukan untukmu. Melainkan untuk tuan Zafran yang tidak pantas mendengarkan ocehan sampahmu itu."
Deg.
Aidan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Cukup, sudah cukup. Sudah cukup mereka menginjak-nginjak harga dirinya seperti ini.
"Kau pikir kau pantas berada di posisimu saat ini, sehingga bermimpi ingin naik jabatan, hah?" Surya menepuk bahu Aidan dengan sedikit kuat.
"Dengan kemampuan dan kualifikasimu itu, tentu kau tidak pantas menjadi ketua tim inti dalam pemasaran. Apalagi naik jabatan, dan asal kau tau. Kami memberi posisi itu hanya karna kau adalah menantu tuan Vano, jadi sadarlah dan jaga sikapmu. Jika kau tidak suka, silahkan angkat kaki dari perusahaan ini."
Surya langsung berbalik dan masuk ke dalam ruangan, begitu juga dengan Arif yang ikut masuk meninggalkan Aidan yang terdiam di tempatnya.
Dadanya terasa panas saat mendengar semua ucapan Surya. Ada rasa sakit yang menyesakkan dada, juga rasa amarah yang menggelora hingga membuat darahnya seakan mendidih.
"Dia, dia bilang apa? Dia bilang posisi itu aku dapatkan hanya karena menjadi menantu tuan Vano?"
Aidan benar-benar tidak habis pikir. Tidak, semua itu pasti tidak benar. Laki-laki brengs*ek itu pasti sengaja mengatakannya supaya dia tidak kembali membuat keributan dengan Zafran.
Aidan mengepalkan kedua tangannya dan berlalu pergi dari tempat itu. Dia harus segera bertemu dengan Yara dan memberitahukan apa yang sudah keluarga wanita itu lakukan pada pekerjaannya, dia yakin jika mantan istrinya itu pasti tidak tahu kejahatan yang Zafran dan Vano lakukan.
Pada saat yang sama, di kediaman Mahen terlihat orang-orang sedang saling bersenda gurau sembari memanggang daging dan yang lainnya.
Sejak tadi Yara terus tertawa saat melihat kelucuan sang adik, hingga tidak sadar jika ponselnya sedang bergetar.
Aidan yang sudah berada di depan rumah Vano berusaha untuk menghubungi Yara, tetapi si*alnya tidak diangkat oleh wanita itu.
"Apa dia sengaja mengabaikanku?"
Tidak mau ambil pusing, Aidan segera mendekati rumah itu dan langsung mengetuk pintunya.
Mendengar suara ketukan dipintu membuat Bik Mina bergegas membukakan pintu, sementara Vano dan Via masih berada di dalam kamar karena baru saja selesai membersihkan diri.
"Eh, Tuan Aidan. Anda mencari siapa, Tuan?" tanya Bik Mina. Dia tidak boleh asal menyuruh Aidan masuk sesuai dengan pesan Vano.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Yara. Ah tidak-tidak, aku ingin bertemu dengan semua penghuni rumah ini."
Bik Mina mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Aidan, sementara Vano yang sedang menuruni anak tangga penasaran dengan seseorang yang bertamu saat maghrib begini.
"Siapa Bik?"
Aidan langsung tersenyum sinis saat mendengar suara Vano, dia lalu mendorong pintu itu dengan kuat membuat Bik Mina terdorong menghantam dinding.
Bruk.
"Astaghfirullah!"
Bik Mina memekik kaget karena dorongan Aidan membuat Vano membulatkan matanya, dengan cepat dia berjalan mendekati laki-laki kurang ajar itu.
"Mau apa kau?" tanya Vano saat sudah berdiri di hadapan Aidan.
"Saya ingin bicara dengan Anda, Tuan Vano yang terhormat," ucap Aidan dengan penuh penekanan. Tentu saja apa yang dia katakan itu membuat Vano menatapnya dengan tajam.
"Benarkah?" tanya Vano dengan tajam. Dia lalu berjalan ke arah sofa membuat Aidan mengikutinya. "Jadi, beginikah caramu bertamu ke rumah orang lain?"
Aidan langsung tersenyum tipis. "Ini adalah bentuk kesopanan saya, Tuan. Karena saya akan berlaku baik jika orang lain juga baik pada saya."
"Baiklah, terserah kau saja. Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Vano mencoba untuk menahan amarahnya walaupun sudah berada di ujung tanduk.
"Tuan Vano yang terhormat, tidak bisakah Anda dan anak Anda berhenti ikut campur dalam urusanku? Apa kalian tidak punya pekerjaan sehingga selalu mengusik ketenanganku?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1