
Semua orang menatap Mahen dengan bingung, sementara Aidan merasa benar-benar si*al saat ini.
"Akan ku pastikan kau menyesal telah melakukan hal ini pada putriku, ingat itu!"
Mahen langsung pergi dari rumah itu tanpa memperdulikan kepalanya yang bersimbah darah. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya menuju rumah Vano.
Sepanjang perjalanan Mahen terus terisak dengan lirih. Sungguh dia merasa sangat sedih sekali dengan apa yang terjadi pada Yara, dan dia sama sekali tidak mengetahuinya.
Apapun penjelasan Aidan, tentu semua itu tidak bisa membenarkan perselingkuhan yang telah laki-laki itu lakukan. Tentu Mahen paham betul dengan apa yang terjadi, karena di masa lalu dia juga telah menyelingkuhi sang istri hingga akhirnya terjadi perpisahan.
"Apa ini yang disebut dengan karma?"
Mahen menggelengkan kepalanya. Tidak, semua ini tidak boleh terjadi. Jika Tuhan memang masih belum memaafkannya atas apa yang terjadi di masa lalu, maka hukum saja dia. Bila perlu cabut nyawanya dan jangan menghukum putrinya yang tidak bersalah.
Beberapa saat kemudian, Mahen sudah sampai di halaman rumah Vano. Dia segera turun dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar gelak tawa Yara dari arah samping.
Mahen lalu memutar tubuhnya dan berjalan ke sumber suara. Terlihat Yara sedang berkumpul dengan Vano dan juga yang lainnya di tempat itu.
"Haha, tau enggak kalau Mbak Yara itu- Papa besar!"
Zayyan membulatkan matanya saat melihat kedatangan Mahen, sementara yang lainnya tersentak kaget dan langsung melihat ke arah yang sama dengannya.
"Pa-Papa?"
Yara sangat terkejut saat melihat kedatangan papanya. Dia lalu beranjak bangun dan tersenyum untuk menyambut kedatangan sang papa.
"Papa baru-"
Yara tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba sang papa memeluk tubuhnya dengan erat. Tentu saja dia merasa terkejut, begitu juga dengan yang lainnya.
"Maafkan papa, Nak. Maafkan papa."
Yara menepuk punggung sang papa dengan pelan, sungguh dia tidak mengerti dengan apa yang papanya lakukan saat ini.
__ADS_1
"Kenapa papa minta maaf?" tanya Yara dengan bingung.
Vano, Via, dan kedua putranya menatap Mahen dengan heran, mereka lalu bertambah syok saat melihat kepala sampai punggung laki-laki itu bersimbah darah.
"Astaghfirullahal'adzim, ada apa denganmu, Mas? Kenapa kepalamu berdarah?"
Yara yang mendengar teriakan sang mama langsung melepas pelukannya. Matanya membulat sempurna saat melihat tangannya sudah berwarna merah.
"Apa, apa yang terjadi pada Papa?" tanya Yara dengan mata berkaca-kaca, dia lalu berjalan memutari sang papa dan terkejut saat melihat banyaknya darah di punggung papanya.
"Apa yang terjadi denganmu, Kak? Kenapa datang-datang terluka seperti ini?"
Vano juga merasa sangat terkejut, dia lalu memerintahkan Yara untuk menyiapkan obat untuk sang kakak dan membawa kakaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Yara mengangguk paham dan berlari ke dalam kamar untuk mengambil alat-alat kesehatannya, begitu juga dengan Via yang berlari ke dapur untuk mengambilkan minuman dan kain serta air untuk membersihkan darah di tubuh Mahen.
"Kalian semua tenanglah, aku tidak apa-apa." Mahen mengibas-ngibaskan tangannya untuk menjelaskan bahwa keadaannya saat ini baik-baik saja.
"Tidak apa-apa bagaimana, Papa besar? Lihat, kepala papa besar itu berdarah," bantah Zayyan yang sedang berjalan di belakang Mahen.
Mahen dan Zafran terkikik geli saat mendengar ucapan Vano, sementara Zayya mencebikkan bibirnya karena kesal dengan apa yang papanya katakan.
Mereka lalu sampai di ruang keluarga dan duduk di atas karpet yang sudah disediakan oleh pembantu. Yara segera mengobati kepala papanya yang terluka, dan terpaksa mendapat beberapa jahitan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak? Kenapa kau datang dengan horor begini?"
Lagi-lagi Vano bertanya membuat Mahen berdecak kesal. Tentu yang lain juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi padanya hingga membuat kepalanya jadi seperti itu.
"Kepala Papa ini terkena pukulan suatu benda tajam, atau benda yang bisa pecah," ucap Yara saat sudah selesai mengobati kepala papanya.
Mahen menganggukkan kepalanya saat mendengar apa yang Yara katakan. "Tapi kepala papa enggak papa kan?"
"Aku sudah membersihkan lukanya, abis ini papa harus minum obat supaya tidak berdenyut."
__ADS_1
Mahen kembali mengangguk membuat Vano merasa geram. "Sekarang katakan kenapa kepalamu bisa sampai terluka, Kak?"
Mahen menghela napas kasar. "Sebelum aku mengatakan apa yang terjadi, bisakah kalian mengatakan lebih dulu apa yang terjadi pada Yara dan Aidan?"
Deg.
Semua orang langsung menegang saat mendengar ucapan Mahen, terutama Yara yang langsung menatap papanya dengan tajam.
"Apa kalian berpikir untuk menyembunyikan semuanya dariku, hah? Kalian pikir aku tidak berhak tau tentang apa yang terjadi?" sambung Mahen dengan emosi. Bisa-bisanya mereka merahasiakan hal penting seperti itu darinya.
"Apa Papa bertemu dengan mas Aidan?" Yara mulai paham dengan apa yang terjadi. "Dia yang melukai Papa?"
Pertanyaan Yara tentu memancing emosi semua orang, terutama Vano dan juga Zafran.
Mahen menggelengkan kepalanya, dia lalu menceritakan apa yang terjadi beberapa waktu lalu di rumah Yara.
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada papa, Yara? Kenapa?" tanya Mahen dengan mata berkaca-kaca membuat Yara tertunduk.
"Semua ini salah papa, apa yang kau rasakan saat ini adalah buah dari kejahatan yang telah papa lakukan."
Yara langsung menggelengkan kepalanya. "Apa yang Papa katakan? Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa!"
"Yara benar, Mas. Berhentilah mengingat tentang masa lalu." Via tahu benar jika Mahen pasti sedang membahas tentang rumah tangga mereka di masa lalu.
"Tidak, Via. Semua yang terjadi ini memang hasil dari masa lalu. Kesalahan yang telah aku lakukan berimbas pada putriku, hingga dia harus menanggung hukuman atas perbuatanku."
Semua orang menggelengkan kepala mereka untuk membantah ucapan Mahen. "Hentikan, Kak. Sekali lagi kau berkata seperti itu, maka aku tidak akan memaafkanmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.