Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 132. Jawaban yang diharapkan.


__ADS_3

Yara terdiam dengan tatapan tercengang karena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Ryder, sementara Ryder menatap wanita itu dengan penuh harap.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku, dan aku juga tidak tahu apakah kau mau menikah denganku atau tidak. Tapi, satu hal yang harus kau tahu. Aku benar-benar mencintaimu dan ingin menjadikanmu sebagai istriku. Aku juga ingin menetap di tempat ini bersamamu, membina bahtera rumah tangga yang bahagia dengan anak-anak kita," ucap Ryder kemudian. Terdengar jelas ketulusan dan harapan yang sangat besar diwajahnya.


Hati Yara sangat tersentuh saat mendengarnya hingga membuat dadanya berdebar keras, ribuan kupu-kupu juga terasa seperti sedang beterbangan di dalam perutnya.


Yara menarik napas panjang sambil mengumpulkan keberanian, dia lalu menghembuskannya secara perlahan berharap jika inilah saat yang tepat untuk bicara serius dengan Ryder.


"Terima kasih karena telah mencintaiku, Ryder. Aku, aku sama sekali tidak menyangka jika kau memiliki perasaan sebesar ini untukku, sungguh hatiku terasa sangat tersentuh," sahut Yara sambil menatap Ryder dengan hangat.


Ryder membalas tatapan Yara itu dengan penuh harap. Dia sama sekali tidak menginginkan ucapan terima kasih dari wanita itu, karena hanya satu hal saja yang dia inginkan, yaitu perasaan cinta yang terbalas.


"Sebenarnya aku tidak tahu harus berkata apa, aku sendiri merasa bingung dengan perasaanku." Lirih Yara sambil memalingkan tatapannya ke arah sungai.


"Seperti yang kau tahu, aku adalah seorang janda yang belum lama berpisah dari mantan suamiku. Jika diingat-ingat, belum genap satu tahun aku menyandang status itu. Dan dari perpisahan itu, aku banyak merasakan luka dan derita. Semua kepahitan memenuhi hidupku, hingga aku bisa terbebas dari rasa sakit yang hampir membuatku menyerah."


Ryder menatap Yara dengan sendu. Dia ikut merasakan penderitaan yang dialami wanita itu, hingga dadanya terasa sesak dan terbakar.


"Tapi dari semua itu aku juga mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga, dan menjadikanku wanita yang kuat dan tabah. Namun, selain itu aku juga merasakan ketakutan yang luar biasa." Yara kembali menoleh ke arah Ryder dan menatap laki-laki itu dengan penuh luka.


"Aku juga mencintaimu, Ryder. Aku bahagia saat kau menyatakan cinta padaku, bahkan berniat untuk menjadikanku sebagai istrimu. Tapi, di sisi lain aku juga merasa takut. Aku tidak ingin membandingkanmu dengan orang lain, tapi tetap saja aku takut jika rumah tanggaku kembali gagal. Aku, aku takut jika kembali terluka karenanya." Akhirnya pertahanan Yara runtuh juga. Dia terisak pilu sambil menundukkan kepalanya.


Hati Ryder terasa bak disayat-sayat sembilu melihat wanita yang dia cintai menangis seperti ini. Luka yang Yara rasakan, juga terasa menggores relung hatinya. Sungguh dia sama sekali tidak ingin membuat wanita itu meneteskan air mata.


"Maafkan aku, Yara. Maaf karna aku sama sekali tidak memikirkan perasaanmu, maafkan aku," ucap Ryder dengan sendu.


Sesaat mereka berdua tenggelam dalam kesedihan, seolah saling berbagi luka tentang apa yang sudah terjadi di masa lalu. Hingga isak tangis Yara mereda karena dia sudah merasa tenang dan bisa mengendalikan diri.


"Tidak, Ryder. Kau sama sekali tidak bersalah, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membandingkanmu dengan orang lain," sahut Yara dengan pelan sambil mengusap bekas air mata yang ada diwajahnya.

__ADS_1


Ryder hanya diam dengan tatapan hampa. Perasaan bersalah menghantamnya, seharusnya dia lebih memikirkan bagaimana perasaan Yara dan bukannya memikirkan perasaannya sendiri.


Yara terdiam beberapa saat untuk meyakinkan keputusannya, karena saat ini juga dia akan memberikan jawaban untuk Ryder. Bukan karena didesak oleh laki-laki itu, tetapi karena sudah memikirkannya dengan serius, juga sudah mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.


"Le-lebih baik sekarang kita kembali, hari sudah-"


"Aku menerimamu, Ryder."


Ryder tercengang saat mendengar ucapan Yara. Dia yang tadinya akan mengajak wanita itu pulang, langsung terdiam dan tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Ryder dengan tergagap.


Yara tersenyum dengan semburat rona merah diwajahnya. "Aku menerimamu, Ryder. Aku mau menikah denganmu."


Kedua mata Ryder membulat sempura disertai mulut menganga lebar, sungguh dia merasa sangat syok dengan apa yang Yara katakan, hingga membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Besok adalah hari terakhirku bekerja di sini, setelah itu aku akan kembali ke kota dan menunggumu. Datanglah bersama keluargamu, lalu jemput aku dan bawalah aku kembali ke sini," sambung Yara kemudian.


"Apa, apa kau serius? Kau, aku benar-benar ingin menikah denganku, Yara?" tanya Ryder kembali dengan tidak percaya.


Yara merasa tertegun melihat air mata yang menetes dari sudut mata Ryder. Dia lalu menganggukkan kepalanya. "Aku serius, Ryder. Ayo, kita menikah dan hidup bahagia di desa ini!"


Spontan Ryder langsung menarik tubuh Yara lalu memeluknya dengan erat membuat wanita itu terkesiap sambil membelalakkan kedua matanya.


"Ry-Ryder, ini-"


"Terima kasih, terima kasih banyak, Yara," seru Ryder dengan sangat bahagia, bahkan kebahagiaannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


Tubuh Yara berubah tegang dalam pelukan Ryder, apalagi laki-laki itu kini memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Ryder, ini-"


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Yara. Maaf jika mungkin dalam prosesnya nanti aku membuat kesalahan, tapi aku berjanji tidak akan pernah menduakan dan merusak kepercayaanmu. Aku berjanji," ucap Ryder dengan semangat.


Yara menganggukkan kepalanya. "Ba-baiklah, Ryder. Aku mengerti. Jadi bisakah kau melepaskanku?"


Ryder langsung melepaskan pelukannya karena baru sadar jika sedang memeluk Yara. Sangking bahagianya, tubuhnya terasa bergerak sendiri untuk memeluk wanita itu.


Yara langsung menarik oksigen banyak-banyak setelah merasa sesak akibat pelukan Ryder tadi, sementara laki-laki itu terus menatapnya dengan berbinar-binar.


"Maaf, Yara. Aku tidak sengaja. Aku merasa benar-benar bahagia, aku sangat bahagia."


Yara tersenyum lebar mendengar ucapan Ryder, apalagi melihat kebahagiaan yang terpancar jelas diwajah laki-laki itu.


"Semoga Allah memberikan keberkahan untuk hubungan kita ini, Ryder. Dan semoga semuanya dilancarkan," ucap Yara.


Ryder langsung mengaminkan ucapan baik yang Yara katakan. Setelah ini dia akan langsung menghubungi kedua orangtuanya untuk memberitahukan kabar baik ini, dan meminta mereka untuk segera mempersiapkannya.


"Kalau gitu ayo kita kembali!" ajak Yara kemudian.


Ryder mengangguk lalu bergegas pergi bersama dengan Yara dari tempat itu. Dia merasa beruntung karena sudah mengajak wanita itu bicara berdua, padahal sebelumnya dia merasa ragu karena takut membuat Yara kembali terluka.


"Terima kasih untuk semuanya, Tuhan. Terima kasih banyak."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2