Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 127. Sesukamu Sajalah.


__ADS_3

Myra mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sejak pertama kali melihat Ryder, dia sudah jatuh hati pada laki-laki itu. Apalagi dialah yang sudah banyak membantu Rayder dalam semua urusan desa, dia juga sering membantu Domi dan Weny.


Namun, tiba-tiba saja Yara datang ke desanya dan menghancurkan semuanya. Dia yang selama ini sudah bersusah payah mendekati Ryder, berakhir sia-sia akibat kehadiran wanita si*alan itu. Bahkan sekarang Ryder sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.


Setelah selesai memeriksa kesehatan Ryder, Yara lalu memeriksa keadaan para pekerja yang lain secara bergantian. Begitu juga dengan Ansel dan Lewis yang terlihat akrab dengan semua orang, apalagi para pekerja juga senang dengan kehadiran mereka.


"Ikut aku sebentar," bisik Zafran tepat ke telinga Ryder membuat laki-laki itu langsung menoleh dengan heran.


"Ada apa?" tanya Ryder.


Tanpa menjawab pertanyaan Ryder, Zafran langsung melangkah pergi dari tempat itu. Mau tidak mau Ryder terpaksa mengikuti langkah Zafran untuk menjauh dari sana dengan penuh tanda tanya.


Setelah merasa cukup jauh, Zafran membalikkan tubuhnya ke arah Ryder yang langsung ditatap dengan heran dan bingung oleh laki-laki itu.


"Sebenarnya ada apa, apa kau mencurigai sesuatu?" tanya Ryder kembali. Sebenarnya sejak tadi dia sudah merasa aneh dengan tingkah Zafran, apalagi sejak laki-laki itu naik ke atas pengait balok beberapa saat yang lalu.


Zafran menghela napas kasar. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa laki-laki hebat sepertimu bisa seceroboh ini?" Dia balik bertanya dengan tajam.


Ryder semakin dilanda kebingungan. "Katakan saja secara langsung, Zaf. Aku tidak-"


"Pengait itu sengaja diputus, dan bukan putus karena rapuh," potong Zafran dengan cepat membuat ucapan Ryder terhenti.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Ryder dengan tidak percaya.


Zafran benar-benar merasa kesal. padahal Ryder orang hebat yang selalu teliti akan segala hal, tetapi kenapa sekarang malah seperti ini? Apakah laki-laki itu sama sekali tidak berpikir bahwa kecelakaan itu disengaja?


"Aku sudah memeriksanya secara langsung, dan tadi kau juga sudah melihatnya sendiri. Pengait itu masih sangat kuat, Ryder. Sama sekali tidak rapuh seperti yang kau katakan, dan aku melihat dengan jelas bahwa patahannya itu bekas dipotong, bukan karena keropos," sambung Zafran dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Ryder terdiam saat mendengar ucapan Zafran. Kedua matanya menyorot dengan tajam dan rahangnya mulai mengeras, disertai dengan urat-urat yang menonjol ke permukaan.


"Si*alan. Apa mereka membohongiku?" gumam Ryder dengan marah.


Ryder memang tidak sempat mengurus masalah itu secara langsung. Jangankan mengurus, dia bahkan tidak sempat untuk memikirkannya karena sibuk dengan Yara. Apalagi dengan kejadian yang terjadi setelah dia sadar, tentu saja membuatnya sama sekali tidak memikirkan tentang hal itu.


"Bisa-bisanya kau percaya begitu saja dengan mereka tanpa memeriksanya secara langsung, sebenarnya apa yang kau pikirkan?"


Brak.


Zafran tersentak kaget saat tiba-tiba Ryder meninju sebuah pohon yang ada di hadapan mereka, terlihat jelas jika laki-laki itu sedang murka.


"Bajing*an! Beraninya mereka mempermainkanku," ucap Ryder dengan geram. Padahal dia sudah memberi kepercayaan pada mereka, tetapi mereka malah membohonginya, dan kemungkinan mereka jugalah yang berkonspirasi untuk melenyapkannya.


"Seperti yang kau katakan, tidak semua orang itu baik. Aku merasa bahwa ada seseorang yang ingin membunuhmu," sambung Zafran.


tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi ada seseorang yang sedang berdiri dibalik dinding dan sengaja untuk mendengar semua ucapan mereka.


"Brengs*ek. Aku harus segera mengurusnya sebelum Ryder melihat secara langsung," gumamnya dengan kesal. Dia segera pergi dari tempat itu untuk menghilangkan bukti yang Zafran katakan, lalu menggantinya dengan yang lain.


Bruk.


"Astaghfirullah," pekik Yara dengan kaget saat ada seorang lelaki yang tidak sengaja menabraknya.


Sangking buru-burunya, laki-laki itu sampai tidak melihat jika ada orang lain yang sedang berjalan di tempat itu.


"Maaf, apa Anda baik-baik saja, Dokter?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


Yara mengangguk sambil mengulas senyum tipis. "Saya tidak papa, hanya sedikit terkejut." Laki-laki itu menganggukkan kepala. "Tapi lain kali tolong hati-hati."


Laki-laki itu kembali mengangguk sambil mengucapkan maaf, lalu berlalu pergi dari tempat itu untuk melanjutkan tujuannya.


Yara menghela napas kasar. Untung saja tadi dia tidak terjatuh karena ditabrak oleh laki-laki itu. Padahal dia hanya ingin ke kamar mandi, tetapi ada saja sesuatu yang terjadi.


"Yara?"


Yara yang akan berbalik tidak jadi memutar tubuhnya saat mendengar suara Ryder. Dia lalu menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang bersama dengan Zafran.


"Lihatkan, baru sebentar saja aku pergi, tapi kau langsung menyusulku. Apa kau segitu tidak maunya jauh dariku?" seru Ryder sambil mengedipkan sebelah matanya, bermaksud untuk kembali menggoda Yara.


Yara memutar bola mata malas. "Dih, siapa juga yang menyusulmu." Dia membantah dengan sengit. "Aku mau ke kamar mandi, jadi jangan terlalu pede ya." Dia mencebikkan bibir dengan nada mengejek.


Ryder tergelak saat mendengarnya, sementara Zafran hanya diam sambil menggelengkan kepala. "Sudahlah, kau tidak perlu membantahnya, Yara. Aku sama sekali tidak keberatan, malah sangat keringanan sekali."


Yara benar-benar ingin sekali memukul mulut Ryder yang suka bicara seenak jidatnya sendiri, padahal semua itu tidak benar.


"Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk-"


"Ryder!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2