
Yara menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Lewis. "Tidak apa-apa, Dokter Lewis. Besok pasti udah lebih baik." Dia mengulas senyum sambil memberi sedikit pijatan dikakinya.
"Apa yang Lewis katakan benar, Dokter Yara. Bagaiman kalau besok bengkak? Anda pasti akan susah berjalan, dan harus istirahat di rumah saja," ucap Ansel, dia juga salah satu Dokter yang menjadi rekan Yara.
Yara diam sejenak untuk memikirkan ucapan rekan-rekannya. Jika kakinya bengkak, dia memang akan sulit bergerak dan tidak bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal. Namun, kenapa hanya terkikir kecil begini saja harus dipijat segala sih?
"Bagaimana?" tanya Ansel kembali.
Setelah pemikiran yang lumayan lama, akhirnya Yara mengikuti saran mereka untuk pergi ke tukang pijat yang ada di desa itu. Dengan menggukana motor yang memang disediakan untuk mereka, Yara pergi bersama dengan Ansel ke rumah tukang pijat yang katanya terkenal bagus di desa ini.
Mereka menghentikan motor sejenak di warung untuk bertanya di mana rumah Weny tukang pijat, dan orang-orang yang ada di warung menunjuk ke arah rumah sederhana bercet biru yang berada tidak jauh dari tempat itu.
Setelah sampai di tempat tujuan, Ansel segera memarkirkan motor itu dan membantu Yara untuk turun. Mereka lalu berjalan ke arah rumah yang pintunya sedikit terbuka.
"Permisi," ucap Ansel dengan nada suara yang sedikit kuat agar sih penghuni rumah mendengar suaranya.
"Iya, sebentar," teriak Weny yang sedang berada di dapur. Dia bergegas keluar untuk melihat siapa yang sedang bertamu ke rumahnya.
Ryder yang sedang berada di dalam kamar juga mendengar suara seseorang. Dia yang akan melihat mengurungkannya saat melihat Weny sudah keluar rumah.
"Anda cari siapa ya?" tanya Weny yang tidak mengenali siapa dua orang yang sedang berdiri di depan rumahnya saat ini.
"Maaf jika kedatangan kami menganggu Anda, tapi apa benar ini rumah Nek Weny tukang pijat?" tanya Yara dengan pelan, karena merasa tidak enak hati sudah menganggu malam-malam seperti ini.
"Iya benar, saya adalah Nek Weny. Apa kalian mau dipijat?" tanyanya sambil mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Iya, Nek. Sebelumnya maaf sudah menganggu waktu istirahat Anda." Lirih Yara yang di balas dengan senyum hangat Weny.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk, kita pijat di dalam saja!"
Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu dan duduk di atas karpet yang telah tersedia, sementara Weny berjalan ke dapur untuk mengambil minyak yang biasa dia gunakan untuk memijat.
__ADS_1
"Apa Anda berdua ini Dokter yang baru datang ke desa ini?" tanya Weny setelah kembali ke ruangan itu.
"Benar Nek, kami baru saja sampai," jawab Ansel. Dia lalu menceritakan apa yang terjadi pada kaki Yara sampai bisa terkilir seperti itu.
Dengan cepat, Weny langsung memegang kaki Yara dan memberikan pijatan di sana, membuat Yara yang semula tegang kini berangsur santai karena tidak merasa sakit.
"Ditahan ya Dokter, ini pasti akan sedikit sakit," ucap Weny sambil tetap memijat kaki Yara.
Yara menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan wanita itu, dia lalu mengangguk lemah dengan tubuh yang mulai menegang. Sampai tanda sadar tangannya berpegangan ke lengan Ansel, membuat laki-laki itu menjadi salah tingkah.
Ryder yang sedang mengerjakan sesuatu di dalam kamar sama sekali tidak mendengarkan obrolan Weny dengan seseorang yang datang ke rumah itu, dia bahkan tidak mendengar saat neneknya bertanya siapa nama dari para tamunya.
"Jangan tegang ya, lemas saja. Nanti kalau tegang akan semakin sakit," ucap Weny saat merasakan kaki Yara semakin tegang.
Yara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan agar merasa tenang, dan terus seperti itu sampai tidak merasa tegang lagi.
Setelah merasa pasiennya sudah tidak tegang, Weny segera memijat dibagian mata kaki yang mulai membengkak membuat Yara mengernyit kesakitan.
Bukan hanya Ansel saja yang terkejut, Ryder yang sedang menikmati kopinya di dalam kamar juga ikut terkejut sampai membuat kopi itu tumpah ke celananya.
"Sia*al!" Ryder mengibas-ngibaskan celana itu yang sudah basah tersiram kopi. Untung saja kopi itu sudah tidak terlalu panas, jika panas maka sudah bisa dipastikan jika so*sisnya berubah jadi so*sis rebus siap santap.
"Siapa sih, yang berteriak seperti itu cuma karna dipijat?" gerutunya dengan kesal. "Sudah kayak melahirkan anak saja." Dia benar-benar merasa tidak percaya.
"Aargh!" Yara kembali memekik sakit saat Weny semakin menekan kakinya. Ini adalah kali pertama dia dipijat karena terkilir, biasanya dia selalu dipijat releksasi di SPA langgangannya bersama sang mama.
"Nah, sudah siap," ucap Weny sambil mengusap-usap kaki Yara sembari membaca do'a agar Tuhan memberikan kesembuhan untuk kaki itu.
Napas Yara tersengal-sengal seperti habis berlari memutari lapangan badminton hanya karena dipijat saja, tetapi sakit dikakinya memang sedikit berkurang.
Ryder yang masih berada di dalam kamar segera mengganti celananya dengan yang bersih, lalu membawa celana yang terkena kopi itu ke kamar mandi yang ada di dapur.
__ADS_1
"Bawa piring ini sekalian, Ryder."
Deg.
Tubuh Yara langsung menegang saat mendengar nama yang tukang pijat itu sebutkan. Tidak, sepertinya kali ini dia tidak salah dengar. Apa mungkin ada orang lain yang bernama Ryder di desa ini? Merasa penasaran, Yara mendongakkan kepalanya dan menatap sosok laki-laki yang saat ini sedang membelakanginya.
Mendengar ucapan sang nenek, Ryder segera berbalik untuk mengambil piring bekas minyak yang digunakan untuk memijat tadi.
"Apa Nenek sudah-"
Deg.
Ryder tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat sosok wanita yang saat ini ada di hadapannya, tepat berada di belakang sang nenek. "Ya-yara?" Dia terpaku dengan kedua pupil mata melebar dan mulut terbuka saat melihat wanita yang selama ini dia rindukan.
Tidak ubahnya dengan Ryder, Yara bahkan jauh lebih syok saat melihat laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya dengan bertelanjang dada.
Sekilas Yara memejamkan matanya untuk memastikan sosok lelaki itu nyata atau hanya halusinasinya saja. Namun, ketika dia membuka mata. Ternyata Ryder tetap berada di sana dan tidak bergeser sedikit pun.
Weny dan Ansel yang melihat keterkejutan di wajah kedua manusia itu merasa bingung dan terheran-heran, mungkinkah mereka sudah saling kenal sebelumnya?
"Ry-Ryder?" Lirih Yara membuat Ryder terkesiap dan tersadar dari keterkejutannya. Namun, dia masih tidak menyangka jika Yara ada di hadapannya dan berada di dalam rumah yang sama dengannya.
"Apa yang kau lakukan ditempat ini, Ryder?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1