
Vano memekik kaget saat mendengar apa yang Eric katakan, bagaimana mungkin yang menyerangnya adalah mantan ketua River dulu?
"Saya merasa jika semua ini adalah konspirasi, Tuan. Tunggulan dalam 2 jam, saya akan sampai ke rumah Anda," ucap Eric.
Vano terkesiap dari lamunannya saat mendengar ucapan Eric. "Anda akan datang ke sini?" Dia bertanya dengan bingung.
"Benar, Tuan. Saat ini saya sedang berada di negara Anda, tetapi butuh waktu sampai 2 jam untuk tiba di kota," jelas Eric. Untung saja dia sudah keluar dari desa di mana Ryder tinggal, atau perjalanannya akan memakan waktu lebih lama lagi.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mengirim alamat rumah saya dan menunggu Anda di sini, sebelumnya saya benar-benar berterima kasih pada Anda," ucap Vano dengan tulus. Jika bukan karena informasi Eric, maka dia tidak akan tahu jika semua ini juga berkaitan dengan River.
"Tidak masalah, Tuan. Kalau gitu saya bersiap dulu."
Panggilan itu lalu terputus saat Vano sudah mengiyakan ucapan Eric. Setelah itu, Eric segera bersiap untuk berangkat ke rumah Vano dengan ditemani oleh sekretaris dan orang-orangnya.
Vano sendiri terduduk diam di dalam ruang kerjanya. Dia sedikit terjingkat kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang memeluk bahunya dengan erat, membuatnya langsung menoleh ke arah Via.
"Ada apa? Apa kau merindukanku, hem?" tanya Vano dengan suara yang mulai parau.
Via tersenyum. Dia mengecup pipi sang suami dan berpindah ke samping Vano, lalu duduk di sana.
"Bagaimana, Mas?" tanya Via kemudian, membuat Vano menghela napas berat.
Vano lalu mulai menceritakan semua yang dia dengar dari Eric tadi tentang identitas dari seseorang yang menyerangnya.
Via mendengarkan cerita sang suami dengan khusyuk. Dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa River mengenal sosok yang menyerang suami dan perusahaan mereka saat ini.
"Ja-jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan River, Mas? Atau sesungguhnya mereka menargetkan River?" ucap Via, mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
Vano menganggukkan kepalanya. Itulah yang tadi sempat dia pikirkan tentang semua ini. "Itu semua mungkin saja terjadi, tapi kita harus menunggu kedatangan Eric dulu. Aku yakin kalau dia jauh lebih mengerti masalah seperti ini ketimbang kita."
Yah, Via menyetujui apa yang sang suami katakan. Setelah itu dia beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sekaligus menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Eric.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ryder sedang beranjak turun dari ranjang. Tubuhnya terasa sangat pegal karena terus berbaring dan tidak bergerak seperti biasanya. Kebetulan juga Yara belum kembali, dan Weny juga sudah pulang karena ingin menyiapkan makan malam.
Setelah turun dari ranjang, Ryder berjalan ke luar dari tempat itu. Dia ingin menemui anak bauh sang papa, dia yakin jika mereka masih ada di tempat ini.
"Kalian berdua!"
Kedua lelaki yang sedang berdiri di depan ruang medis itu langsung membalikkan tubuh mereka saat mendengar suara Ryder. Begitu berbalik, mereka langsung menundukkan kepala dengan serentak.
"Iya, Tuan," jawab salah satu di antara mereka. Biasanya mereka selalu bersembunyi dibalik bayangan Ryder agar tidak ketahuan, tetapi karena laki-laki itu sudah tahu jika sang tuan besar datang, maka tidak ada gunanya lagi bersembunyi.
"Hebat yah, kalian. Bisa-bisanya aku tidak sadar jika kalian selama ini mengawasiku," ucap Ryder dengan kesal. Beberapa kali dia memang merasa seperti sedang diawasi, tetapi hanya sebatas itu saja dan setelahnya tidak merasa lagi.
"Maafkan kami, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah dari orang tua Anda,"
"Sudah hampir 4 bulan, Tuan. Kami sangat kesulitan mencari keberadaan Anda," jawab mereka dengan jujur. Butuh kerja keras dan bantuan di sana-sini hanya untuk mencari di mana keberadaan Ryder waktu itu.
Ryder menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan mereka. Ternyata butuh waktu sekitar 3 bulan mereka baru bisa menemukan keberadaannya, pantas saja dia tidak sadar.
"Jadi, di mana papa sekarang?" tanya Ryder kemudian.
Kemudian mereka mengatakan jika Eric sudah pergi saat mengetahui jika keadaannya baik-baik saja, apalagi saat laki-laki itu mengetahui jika yang merawat dia adalah Yara.
Ryder kembali menganggukkan kepalanya. Berarti sejak awak sang papa memang ada di tempat ini, karena tidak mungkin papanya langsung muncul begitu saja saat dia terkena musibah.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya permisi sebentar," ucap salah satu dari mereka saat mendengar ponselnya berdering, dan tampaklah sekretaris Eric sedang menelepon.
Bukannya mengizinkan pergi, Ryder malah menyuruh laki-laki itu meloadspeakerkan ponsel itu agar dia bisa mendengar apa yang Rolan katakan.
"Jaga tuan Ryder baik-baik, jangan sampai terjadi kesalahan atau aku akan memenggal kepala kalian," ucap Rolan di sebrang telepon.
"Ba-baik, Tuan."
"Jadi, kau juga akan memenggal kepalaku?" ucap Ryder tiba-tiba, membuat Rolan yang ada di sebrang telepon terkesiap.
Dengan cepat Rolan meminta maaf karena tidak tahu jika Ryder mendengar ucapannya, sementara Ryder memaksa Rolan untuk mengatakan apa yang sedang papanya rencanakan saat ini.
"Maaf, Tuan muda. Saya tidak punya hak untuk mengatakannya,"
"Kalau gitu, jangan salahkan aku jika menghilang lagi dari tempat ini," ancam Ryder, membuat Rolan mau tidak mau menceritakan jika Eric akan pergi ke rumah Vano.
Jelas saja Ryder merasa terkejut, dan kembali bertanya apa yang sedang terjadi. Tentu saja disertai dengan ancaman membuat Rolan tidak berkutik.
"Kalian berdua, siapkan mobil untukku. Kita akan pergi ke kota saat ini juga."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman aku ya 😍