
Keesokan harinya, dengan ditemani semua keluarga. Yara berangkat ke pengadilan agama untuk menghadiri sidang putusan perceraian. Dia tampak sangat cantik dalam balutan gaun berwarna biru langit, juga hijab yang membalut kepalanya membuat tampilannya sangat anggun sekali.
Aidan sendiri juga di temani oleh keluarganya, tidak lupa Rosa juga tampak bersama mereka seolah ingin menunjukkan bahwa dia sudah punya pengganti Yara.
Semua orang sudah berkumpul di ruang sidang. Aidan dan juga sang ibu melirik Yara dengan tajam, sementara Yara hanya menebar senyum membuat orang-orang yang ada di ruangan itu menatap kagum.
Hakim beserta jajarannya sudah memasuki ruang sidang dan duduk du tempat masing-masing. Dia lalu membacakan tentang hasil dari sidang sebelumnya, sekaligus agenda sidang hari ini yang memuat tentang hasil akhir dari proses perceraian.
Pihak penggugat dan tergugat di persilahkan duduk di hadapan hakim dengan ditemani pengacara masing-masing, tampak suasana sangat tenang menunggu hasil putusan yang akan diberikan.
Hakim segera memulai sidang dengan pembacaan gugatan yang Yara berikan terhadap Aidan, juga penunjukan bukti-bukti kuat yang mendukung gugatan tersebut.
Ada rasa sesak yang menyeruak dalam hati Aidan saat mendengar ucapan hakim, sementara Yara tetap tersenyum seolah beban berat baru saja terlepas dari bahunya.
"Saya, selaku ketua hakim pada sidang perceraian antara Tuan Aidan William dengan Nona Ayara Myesa. Menyatakan bahwasannya Tuan Aidan dinyatakan terbukti telah menjalin hubungan khusus dengan wanita lain. Semua harta yang tertera dalam gugatan menjadi hak milik Nona Ayara, sementara harta yang lain akan menjadi milik tuan Aidan. Kami juga telah mengambil keputusan, bahwasannya sejak hari ini. Tuan Aidan William dan Nona Ayara Myesa sudah resmi bercerai."
Duak
Duak
Duak
Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali sebagai tanda bahwa keputusan yang dia berikan tidak bisa lagi diganggu gugat.
__ADS_1
Yara mengucap syukur atas berakhirnya proses perceraian yang telah di jalani, sementara Aidan terdiam dengan pandangan kosong lurus ke depan.
Via dan Vano segera mendekati Yara saat hakim sudah menutup persidangan hari ini. Via memeluk tubuh sang putri dengan erat.
"Semuanya sudah selesai, Nak. Terima kasih karena sudah menjadi wanita yang sangat kuat dan juga sabar."
Via tidak bisa membendung air matanya. Di satu sisi dia senang karena Yara terbebas dari masalah rumah tangga yang membuat putrinya terluka, tetapi di sisi lain ada rasa sakit karena status yang saat ini di sandang oleh Yara.
"Aku belajar menjadi wanita yang kuat dan sabar dari Mama, aku juga belajar menjadi wanita berani dan tidak gentar oleh apapun dari papa. Aku beruntung punya orang tua seperti kalian."
Vano mengusap puncak kepala Yara dengan tersenyum hangat. Dia bahagia karena tidak melihat kesedihan di wajah sang putri, bahkan wajah Yara tampak bersinar indah saat ini.
Nova yang melihat Aidan masih diam di tempat beralih mendekati putranya itu. Dia menepuk lengan Aidan membuat laki-laki itu tersentak kaget.
Aidan hanya diam sambil beranjak bangun. Dia melirik ke arah Yara yang sedang berbincang dengan keluarganya, lalu kembali memalingkan wajah saat Vano menatapnya dengan tajam.
"Cih. Seseorang yang sudah kaya tetapi tetap serakah hidupnya pasti tidak akan pernah bahagia."
Yara dan keluarganya yang sudah akan keluar dari ruangan itu mendadak menghentikan langkah mereka saat mendengar ucapan Nova.
Vano langsung melirik wanita paruh baya itu dengan tajam membuat Via langsung memegang lengannya.
"Biarkan saja, Mas. Anj*ing menggonggong pada semua orang yang baik maupun buruk, tanpa sadar jika diri sendiri sangat buruk."
__ADS_1
Nova yang mendengar ucapan Via tentu saja merasa tersinggung. Berani sekali wanita itu menyebutnya anj*ing?
"Beraninya kau menyebutku binatang?" ucap Nova dengan kesal sambil menunjuk ke arah Via.
Yara dan semua keluarganya beserta River dan pengacara langsung tertawa saat mendengar ucapan Nova.
"Maaf, Anda marah karena istri saya menyebut anj*ing?" Vano terkekeh membuat wajah Nova memerah, begitu juga dengan Rosa yang memandang dengan sinis.
"Jangan pedulikan mereka, Ibu." Rosa merangkul lengan Nova dengan erat sambil melirik ke arah Yara, sementara Yara sendiri menghela napas kasar karena tidak mau terjadi keributan di tempat itu.
"Kau benar, Rosa. Seharusnya sejak awal ibu mencari menantu yang baik, juga keluarganya yang tau aturan dan tidak ikut campur rumah tangga anaknya. Malang sekali nasib seorang anak yang menjadi boneka orang tuanya sendiri."
Zafran mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia lalu menahan tangan sang papa yang sudah akan bicara dengan wanita jelmaan setan itu.
"Benar. Seharusnya sejak awal kami mencari manusia yang setara dengan kami. Tapi apa ini, Mbak Yara? Jangankan setara dalam harta dan kekuasaan, mereka bahkan tidak setara dengan kita sebagai sesama manusia. Bagaimana mungkin mereka menjadi sangat memalukan dan rendah seperti ini?"
"Tutup mulutmu!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.