Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 23. Hidupku Jauh Lebih Berharga.


__ADS_3

Zafran langsung menarik tangan sang kakak menuju kamar, dia sudah tidak tahan lagi untuk berlama-lama di rumah itu.


Yara sendiri hanya diam sambil menahan setiap luka yang menggores hatinya. Dia memejamkan kedua mata sejenak untuk mengendalikan diri, sungguh rasanya sangat sakit sekali.


"Jangan menangis, Mbak. Air mata Mbak terlalu berharga untuk menangisi manusia seperti mereka."


Yara menganggukkan kepalanya dengan tertunduk, lalu tiba-tiba Zafran memeluk tubuhnya dengan erat membuat air mata yang sejak tadi ditahan mengalir deras.


"Mbak tidak sendirian, ada aku dan semua keluarga kita. Mbak tidak butuh orang-orang seperti mereka."


Yara kembali mengangguk sambil memeluk tubuh sang adik dengan erat. Dia berjanji pada diri sendiri jika hari inilah terakhir kali dia menangis, dan besok-besok tidak akan ada lagi air mata yang membasahi wajahnya.


Setelah merasa tenang, Yara segera memasukkan barang-barangnya ke dalam koper dengan dibantu oleh sang adik. Dia juga memasukkan semua surat-surat berharga miliknya yang dulu diberi oleh orang tua sebagai hadiah pernikahan, dan semua itu tentu saja menjadi haknya.


"Apa semua sudah dibawa, Mbak?" tanya Zafran saat melihat semua barang-barang sang kakak sudah masuk ke dalam 3 buah koper.


Yara mengangguk. "Ini sudah semua, kok."


Zafran langsung mengangkat koper-koper itu dan membawanya keluar kamar, sementara Yara membawa tas punggung yang berisi perhiasan dan juga surat-surat berharga.


Aidan yang masih berada di ruang keluarga langsung berlari mendekati Yara, tetapi tiba-tiba Zafran berdiri di hadapannya.


"Minggir, Zaf. Kau tidak bisa membawa istriku pergi!" ucap Aidan dengan penuh penekanan.


Zafran tersenyum sinis lalu memberikan koper yang dia bawa pada River. "Kenapa tidak bisa? Aku berhak membawa mbakku pergi dari siksa neraka yang kau cipatakan ini."


Aidan mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, lalu tiba-tiba sang ibu menarik tubuhnya ke belakang.


"Biarkan dia pergi, Aidan. Untuk apa kau mempertahankan wanita seperti dia, hah?" bentak Nova dengan tajam.

__ADS_1


"Aku mencintai Yara, Bu. Dia istriku,"


"Cukup, Aidan!" teriak Nova sambil mencengkram tangan Aidan yang akan kembali mendekati Yara. "Jangan merendahkan harga dirimu untuk orang-orang seperti mereka. Kau tidak akan bahagia hidup bersama keluarga yang ikut campur urusan rumah tanggamu, juga istri yang tidak bisa melayanimu dengan baik."


Yara tersenyum dengan simpul. Hatinya terasa sakit, tetapi entah kenapa dia merasa lega karena sudah mengetahui bagaimana pandangan mereka terhadapnya dan juga keluarganya.


"Tapi Bu, aku-"


"Diam! Sekarang kau pilih ibu atau dia?"


Aidan terdiam saat mendengar ucapan sang ibu. Bagaimana mungkin ibunya menyuruhnya untuk memilih seperti itu? Tentu dia tidak akan bisa memilih salah satu di antara mereka.


"Kau sudah tidak mencintainya lagi, Aidan. Jika kau memang mencintainya, kau tidak akan selingkuh dengan wanita lain. Cintamu itu sudah hilang, jadi biarkan dia pergi. Lebih baik kau bersama dengan wanita itu dari pada dia!"


Nova melirik ke arah Yara yang juga sedang melihatnya. Dia tidak peduli lagi dengan rumah tangga mereka, yang jelas dia tidak suka dengan keluarga wanita itu yang selalu saja ikut campur.


Aidan menatap Yara dengan nanar. Hatinya berdenyut sakit saat melihat wanita itu pergi, tetapi dia tidak bisa mengejarnya karena sang ibu terus saja memegangi tangannya.


"Nona baik-baik saja?" tanya River sambil memasukkan barang-barang Yara ke dalam mobil.


Yara mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja aku baik, Om. Kan ada Om dan juga Zafran di sini."


River ikut tersenyum walau tahu jika apa yang Yara katakan hanyalah kebohongan. Tidak ada satu wanita pun yang akan baik-baik saja dengan keadaan ini, termasuk Yara juga.


Kemudian mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Yara terus diam sambil menatap jalanan. Dia sudah meninggalkan semua rasa cinta untuk Aidan di rumah itu, jadi kini saatnya dia melupakan semua yang sudah terjadi.


"Ampuni aku, ya Allah. Sebagai seorang istri, seharusnya aku bisa bersabar dan memberi kesempatan untuk suamiku sekali lagi. Tapi semuanya jadi seperti ini, dan kedua orang tuaku tidak dihargai. Aku mohon ridhoilah keputusanku ini, dan berikan kekuatan untuk setiap pilihan yang sudah aku ambil."


Rasa sakit, kecewa, dan juga penderitaan sudah cukup dirasakan oleh Yara selama ini. Sekuat apapun dia mencoba untuk bertahan dan mempertahankan rumah tangganya, tetapi pada akhirnya semua tetap berada di garis perpisahan.

__ADS_1


Sekarang keputusannya sudah bulat untuk berpisah dengan Aidan. Biarlah dia kehilangan cinta yang selama ini diperjuangkan, dari pada dia harus kehilangan harga diri sebagai seorang wanita.


"Kita sudah sampai, Mbak."


Lamunan Yara terhenti saat mendengar suara Zafran. Dia segera keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju rumah keluarganya.


Vano dan Via yang sedang duduk di ruang tamu tampak saling pandang saat mendengar suara mobil River. Mereka lalu beranjak dari sofa dan berjalan keluar.


"Yara?" Via menatap Yara dengan mata berkaca-kaca membuat putrinya itu langsung memeluknya dengan erat. "Tenanglah, Sayang. Jangan menangis, hem."


Via mencoba untuk menenangkan Yara dan membawanya masuk ke dalam, sementara Vano dan yang lainnya masih berada di luar.


"Segera urus perceraian mereka, River. Pastikan laki-laki itu sama sekali tidak mendapatkan harta apapun dari pernikahan itu."


River menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."


Sudah sepantasnya jika Aidan tidak mendapatkan apapun atas harta gono gini. Jika ada pun, dia mungkin hanya mendapat seperempat dari keseluruhan harta.


"Tapi Pa, jika Mbak Yara ingin kembali lagi dengannya bagaimana?" tanya Zafran. Dia ragu jika kakaknya benar-benar akan berpisah dengan Aidan, karena sejak dulu Yara selalu saja mengalah dan bertahan walaupun sudah banyak disakiti.


"Itu tidak akan terjadi. Apapun yang laki-laki lakukan, wanita tetap akan memaafkannya dan bertahan. Tapi jika sudah bermain api dengan wanita lain, maka perpisahanlah yang akan terjadi."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2