Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 201. Balas Dengan Kesuksesan.


__ADS_3

Setelah beberapa jam berkutat dengan alat-alat lukis, Hana merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat sebentar. Lukisan yang dia buat juga belum selesai padahal sudah menghabiskan banyak jam. Jika dia melukis pemandangan, pasti sejak tadi sudah selesai.


Hana lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah saat perutnya keroncongan. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul dua siang, pantas saja dia sudah merasa sangat lapar.


Tidak berselang lama, datanglah kedua pembantu Via. Mereka baru pulang belanja dan menyusun belanjaan mereka di rumah belakang, setelah itu baru pergi ke rumah utama.


"Loh, kau baru makan, Hana?" tanya Jena saat melihat Hana sedang makan.


Hana menganggukkan kepalanya lalu menawari wanita itu makan, tetapi Jena mengatakan jika tadi dia sudah makan di pasar.


"Lihat, kami beli cemilan untukmu," ucap Jean sambil memberikam sekotak cemilan yang dia beli di pasar, yaitu kue sus dengan krim coklat yang sangat enak dan lembut.


"Terima kasih, Bi," balas Hana dengan senang.


Jean lalu bertanya alat lukis siapa yang berada di samping rumah, karena setahunya tuan Zayyan dan Zafran belum pulang.


"Itu alat lukis tuan Zayyan, tapi diberikan padaku," jawab Hana.


"Jadi, yang melukis wajah nyonya Via itu kau?" tanya Jena lagi dengan tidak percaya.


Hana menganggukkan kepala sambil menikmati makanan yang ada ditangannya membuat Jena membelalakkan kedua mata. Wanita paruh baya itu lalu berlari keluar untuk kembali melihat lukisan buatan Hana, sungguh sangat cantik sekali.


Hana tergelak melihat apa yang Jena lakukan. Dia lalu beranjak ke westafel untuk mencuci piring bekasnya makan, kemudian kembali keluar ke taman di mana alat-alat lukisnya berada.


"Gila, lukisanmu cantik sekali," puji Jena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, begitu juga dengan pembantu lain dan tukang kebun yang berkumpul di tempat itu.


"Terima kasih, lukisan ini tidak seberapa," ucap Hana dengan merendah, tetapi dia tetap merasa senang dengan pujian yang mereka berikan.


Kedua pembantu itu lalu meminta Hana untuk melukis mereka juga supaya bisa dipajang di rumah, begitu juga dengan tukang kebun yang tidak mau kalah.


"Baiklah, nanti aku akan melukis kalian juga, tapi jangan kecewa kalau hasilnya tidak bagus," ucap Hana.


Mereka semua mengangguk paham dengan apa yang Hana ucapkan. Mereka sudah merasa senang karena Hana bersedia melukis wajah mereka dan semoga saja hasil ya sebagus lukisan majikan mereka.


Beberapa saat kemudian, Hana sudah menyelesaikan lukisannya dan berlalu membawanya masuk ke dalam rumah. Bertepatan dengan pulangnya Via sambil membawa paper bag ditangannya.


"Tante sudah pulang?" sambut Hana dengan senyum lebar saat melihat kedatangan Via.

__ADS_1


Via menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman Hana. "Tentu saja. Apa kau baru selesai melukis?" Dia merasa lucu melihat wajah dan tangan Hana terkena warna dari cat lukis.


Hana menganggukkan kepalanya. Kemudian dia meletakkan alat-alat lukis itu untuk menunjukkan hasil lukisannya pada Via.


"Ini hadih untuk Tante, maaf kalau hasilnya tidak bagus," ucap Hana sambil menyerahkan hasil lukisannya pada Via dengan malu-malu.


Kedua mata Via menatap kagum saat melihat lukisan yang Hana buat. Lukisan itu sama persis dengan wajahnya, sungguh sangat bagus sekali.


"Lukisan ini sangat bagus, Hana. Terima kasih," ucap Via dengans senyum lebar. Kedua matanya berbinar-binar melihat lukisan cantik itu.


Hana mengangguk sambil tersenyum senang. Dia merasa bahagia jika Via menyukai lukisan itu, walaupun hasil tidak bagus seperti pemandangan.


"Oh yah, tante juga punya hadiah untukmu," seru Via sambil mengajak Hana untuk duduk. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag dan memberikannya pada Hana. "Bukalah."


Dengan ragu Hana membuka kotak pemberian Via. Tangannya lalu bergetar saat melihat gambar ponsel di bagian depan kotak itu. "I-ini ponsel?" Dia bertanya dengan tergagap sambil menatap bingung.


Via tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, itu ponsel untukmu."


Hana merasa sangat terharu dengan apa yang Via berikan untuknya. Ponsel berwarna putih dengan logo apel tergigit dibagian belakangnya itu pasti harganya sangat mahal, bahkan dulu ponselnya saja bekas dari Dion yang layarnya sudah pecah seribu.


"Ta-tapi ini sangat mahal, Tante. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya?" ucap Hana dengan lirih.


Hanya lalu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Via karena sudah membelikannya ponsel, bahkan harga ponsel itu lebih dari lima belas juta.


Bukan hanya ponsel saja, Via juga membelikan skincare untuk Hana yang sama dengan merk yang dia pakai. Jangan tanya berapa harga skincare itu, yang pasti bisa untuk makan selama satu tahun lebih.


"Ini sudah sangat banyak, Tante," ucap Hana sambil menunjukkan barang-barang pemberian Via.


Via hanya tertawa saja melihat semua itu. Dia sudah menganggap Hana sebagai putrinya sendiri, itu sebabnya dia harus memenuhi kebetuhan wanita itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Zafran sambil masuk ke dalam rumah.


Via dan Hana langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Zafran. Mereka merasa kaget karena baru jam tiga sore tetapi laki-laki itu sudah pulang.


"Wa'laikum salam. kau sudah pulang, Zafran?" tanya Via dengan heran.


Zafran menganggukkan kepalanya lalu menyalim tangan sang mama. "Aku ingin mengajak Hana pergi, Ma. Itu sebabnya pulang cepat."

__ADS_1


Hana tersentak kaget saat mendengar ucapan Zafran. Kenapa laki-laki itu ingin mengajaknya pergi? Dia merasa heran dan bertanya-tanya, tetapi ada perasaan takut dan gugup juga dalam hatinya.


"Memangnya mau pergi ke mana?" tanya Via kembali.


"Aku ingin mengajaknya membeli peralatan lukis," jawab Zafran. Dia lalu mengatakan jika dia sudah mencarikan seorang guru untuk Hana agar wanita itu bisa mengasah bakat melukisnya, dan besok lesnya akan dimulai.


Via tersenyum senang mendengar penjelasan Zafran, sementara Hana hanya diam dengan syok dan tidak percaya dengan apa yang laki-laki itu lakukan.


"Baguslah, Hana jadi bisa terus berlatih dengan guru," ucap Via.


Hana tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Via. "Ti-tidak perlu seperti itu, Tuan. Saya bisa berlatih sendiri." Dia merasa sungkan dan tidak enak hati jika terus menerima kebaikan mereka.


"Tidak apa-apa. Bakatmu akan semakin berkembang jika belajar dari orang yang tepat," sahut Zafran. "Sekarang bersiaplah, setengah jam lagi kita pergi." Dia lalu beranjak pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban dari Hana.


Hana hanya bisa menelan salivenya dengan kasar saat melihat kepergian Zafran. Walau dia merasa senang karena bisa belajar dari seorang guru, tetap saja dia tidak boleh menerima semua kebaikan mereka seperti ini. Dia tidak mau menjadi orang yang serakah dan memanfaatkan kebaikan orang-orang yang sudah menolongnya.


"Tidak apa-apa, Hana. Terimalah apa yang Zafran siapkan untukmu, karena semua itu sangat baik. Zafran tahu jika bakatmu ini sangat istimewa, itu sebabnya dia menyiapkan guru khusus untukmu. Jangan tolak pemberiannya ini," ucap Via dengan lembut.


Hana merasa gamang. Jujur saja, sejak dulu dia memang ingin belajar dengan guru untuk memperdalam bakat melukiskannya. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk melakukan itu. Jadi sekarang dia merasa sangat senang dengan apa yang Zafran lakukan, tetapi dia juga tidak mau terus menyusahkan laki-laki itu.


"Bayar kebaikan Zafran ini dengan kesuksesanmu, dia pasti senang," sambung Via.


Hana menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan belajar dengan giat dan bekerja keras. Aku akan membayar kebaikan tante dan tuan Zafran dengan kesuksesan."


"Nah, itu baru benar," sahut Via dengan senang. Dia lalu menyuruh Hana untuk segera siap-siap dan membawa semua barang-barang wanita itu ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian, Hana dan Zafran sudah siap dengan pakaian santai dan berlalu pergi ke suatu tempat.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Entah kenapa suasana terasa sangat canggung sekali, sampai akhirnya suara dering ponsel Zafran membuyarkan keheningan yang terjadi.


"Zea?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2