Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 54. Melakukan Perawatan.


__ADS_3

Tidak mau semakin bingung, Yara bergegas pergi menuju ruangan Dokter yang sebelumnya sudah mengoperasi dan merawat Ryder. Dia harus berkonsultasi dengan Dokter tersebut, apalagi dia bukan merupakan Dokter bedah.


Setelah kepergian Yara, Ryder mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Aku sudah mendapatkan wanita yang pas untuk bermain. Bagaimana, haruskah kita menyusun rencana untuk acara itu?"


Senyum lebar tampak di wajah Ryder saat ini, apalagi ketika seseorang di sebrang telepon juga telah menemukan wanita yang akan membuat permainan mereka semakin seru.


"Baiklah, katakan pada yang lain untuk menyiapkan acara itu. Kita akan memulainya saat aku sudah sembuh."


Ryder lalu mematikan panggilan teleponnya saat sudah mendapat jawaban iya, dia lalu menyandarkan kepalanya yang kembali berdenyut sakit.


"Walaupun seorang janda, tapi wajah Yara benar-benar sangat cantik. Dia bahkan bisa menyingkirkan para gadis-gadis muda, jadi aku yakin pasti akan memenangkan permainan itu."


Tiba-tiba Ryder merasa senang. Ternyata kecelakaan yang dia alami bukan hanya membawa malapetaka saja, tetapi juga keberuntungan yang mempertemukannya dengan Yara.


Beberapa saat kemudian, Yara kembali masuk ke dalam ruangan Ryder. Dia tersenyum saat melihat laki-laki itu terlelap, dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Ryder.


Dengan ditemani 2 orang suster, Yara mulai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tentu saja dia harus dibantu oleh suster, jika tidak maka pekerjaannya akan sangat merepotkan.


"Apa aku baik-baik saja?"


Yara tersentak kaget saat tiba-tiba Ryder membuka mata, sontak dia langsung mundur selangkah dari ranjang.


"Maaf karena sudah mengganggu tidur Anda. Saat ini kondisi Anda cukup stabil, dan Anda pulih dengan cepat," ucap Yara sambil menulis sesuatu di kertas yang ada ditangannya.


"Bukankah aku sudah memintamu untuk lebih akrab?"


"Hah, maaf?"


Yara menatap Ryder dengan tajam, sementara Ryder langsung menyuruh kedua suster yang masih berada di ruangan itu untuk keluar.


"Kau bisa memanggilku Ryder saja, bukankah itu jauh lebih enak didengar?"


Yara terdiam. Sebagai seorang Dokter, memang sudah menjadi kewajiban mereka untuk ramah dan dekat dengan pasien. Namun, jika untuk dekat dalam hal lain. Maka akan menyalahi aturan dalam pekerjaan, bukankah dalam pekerjaan tidak diperbolehkan membawa sebuah perasaan?


"Aku ingin kita berteman," sambung Ryder kemudian saat tidak mendengar tanggapan Yara.

__ADS_1


"Teman?" Yara menatap laki-laki itu dengan tajam. "Baiklah, kalau gitu saya akan memanggil dengan nama Anda." Mungkin jika hanya sekedar teman tidak akan berpengaruh dengan pekerjaannya.


Ryder tersenyum senang. Langkah awal untuk melakukan pendekatan berjalan lancar, bukankah semua hubungan berawal dari sebuah pertemanan? Setelah menjadi teman, maka akan berlanjut ke hubungan yang lain.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Yara lalu bergegas keluar untuk menemui berbaur dengan Dokter yang lain walaupun tugasnya hanya untuk merawat laki-laki itu saja. Tidak mungkin kan, dia terus bersama dengan Ryder?


Tepat pukul 12 siang, Yara kembali dengan membawa makanan ke ruangan Ryder. Terlihat ada seorang lelaki yang saat ini sedang menemani laki-laki itu.


"Saatnya makan siang, Ryder."


Raymond langsung melihat ke arah Yara dengan tajam saat mendengar ucapan wanita itu, sementara Ryder sendiri terpaku dengan jantung yang berdegup kencang.


"Si*alan. Ada apa ini, kenapa jantungku jedag-jedug?"


Ryder menggelengkan kepalanya lalu terkejut saat melihat Yara sudah duduk di sebelahnya. "A-aku tidak suka makanan itu."


Yara yang akan meletakkan makanan di atas meja langsung menoleh ke arah Ryder. "Rasa makanan ini memang hambar, tapi sangat bagus untuk proses kesembuhanmu."


"Tapi aku tidak akan sembuh hanya karena makanan itu, yang ada lidahku malah akan sakit."


"Saya sudah membelikan makanan untuk tuan Ryder, Nona. Anda bisa melihatnya dulu."


Yara menoleh ke arah laki-laki yang baru saja berbicara dengannya. Dia lalu mengangguk dan berjalan cepat ke arah sofa di mana makanan itu berada.


Setelah memeriksa makanan yang akan di makan oleh Ryder, Yara lalu membawa dan memberikan makanan itu padanya.


"Tanganku sakit."


Yara lalu melihat ke arah Raymond seolah meminta laki-laki itu untuk membantu Ryder makan, jelas Raymond mengerti dengan tatapan Yara padanya.


"Maaf, Nona. Saya harus segera pergi." Raymond lalu pamit pada Ryder dan langsung beranjak keluar dari ruangan itu.


Yara terus menatap ke arah kepergian Raymond. Lantas, apakah dia yang harus menyuapi Ryder? Bukankah dia hanya harus merawat kesehatan laki-laki itu?


"Cepatlah, aku sudah lapar."


Mau tidak mau, Yara terpaksa menyuapi laki-laki itu makan dan tentu saja membuat Ryder menjadi senang.

__ADS_1


Tanpa sadar, Rider sudah menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya tanpa ada yang tersisa sedikitpun.


"Sepertinya kau benar-benar sangat kelaparan," ucap Yara sambil beranjak banguj untuk mengambil obat.


Wajah Ryder memerah saat melihat apa yang sudah dia lakukan, bagaimana mungkin dia menghabiskan semua makanan itu? Memangnya dia tong sampah?


"Aku banyak makan pasti karena pengaruh obat."


Yara tergelak saat mendengar ucapan Ryder, tetapi yah dia menganggukkan kepala sambil memberikan beberapa obat yang harus di minum.


"Aku serius." Sepertinya Ryder tidak terima karena dia makan terlalu banyak, jadi terpaksa menyalahkan obat-obatan itu.


"Baiklah. Semua itu karena obat, jadi cepat minum obat ini agar napsu makanmu semakin besar."


Ryder mencebikkan bibir dan mengambil obat yang ada di tangan Yara, dia lalu menenggaknya dan segera meminum segelas air.


"Oh ya, nanti malam sehabis isya' aku akan pulang. Dan akan kembali ke sini-"


"Kenapa kau pulang?" potong Ryder dengan cepat. "Bagaimana jika panyakitku kambuh saat tengah malam?"


Yara mengernyitkan keningnya. "Kau kan sakit, Ryder. Bukan penyakitan."


"Yah sama aja. Bagaimana jika bekas operasiku terbuka, lalu perutku akan mengeluarkan darah dan organ dalamnya-"


"Itu tidak akan terjadi," bantah Yara karena apa yang Ryder ucapkan tidak masuk akal.


"Kau kan bisa tidur bersamaku,"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2