Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 73. Selesaikan Secara Baik-baik.


__ADS_3

Mahen dan Riani langsung menoleh ke arah ruang keluarga saat mendengar suara Zafran, begitu juga dengan Ryder yang sudah akan mendudukkan tubuhnya ke sofa.


"Kenapa kau ke sini, Tuan Ryder? Apa kau mau memberikan kembalian dari uang yang aku kasi?" tanya Zafran dengan sinis.


Mahen dan Riani mengernitkan kening dengan bingung, sementara Ryder menatap Zafran dengan tajam dan sudah menduga jika laki-laki itu akan menyambut kedatangannya.


"Zafran!" Mahen segera menghampiri keponakannya itu untuk bertanya sesuatu. "Apa maksud perkataanmu? Lalu ada apa, kenapa kau bertanya dengan sinis seperti itu?" Terlihat jelas kemarahan dan ketidak-sukaan dari raut wajah Zafran saat ini.


Zafran menyeringai dengan sinis saat mendengar pertanyaan dari Mahen, sementara Ryder sendiri beranjak mendekati mereka.


"Dia pantas marah dan bertanya seperti itu padaku, Om," ucap Ryder membuat Mahen dan Zafran menoleh ke arahnya.


"Ayolah, Tuan. Apa kau datang ke sini untuk minta maaf?" Pertanyaan Zafran tepat sasaran, tentu dia tahu jika laki-laki itu pasti akan meminta maaf.


Mahen dan Riani menatap kedua lelaki itu dengan bingung dan tidak mengerti.  Apa mereka sedang bertengkar? Lalu, uang apa yang Zafran maksud tadi? Sungguh membuat mereka bingung saja.


Yara yang akan pergi ke dapur menoleh ke arah ruang tamu, dia lalu tersentak kaget saat melihat keberadaan Ryder di tempat itu.


"Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia mau membuat masalah lagi?" Yara langsung melangkahkan kakinya untuk menemui laki-laki itu, dia tidak bisa membiarkan Ryder membuat masalah di rumah orang tuanya.


"Benar, aku datang karena ingin meminta maaf. Apa yang aku lakukan benar-benar sangat keterlaluan, dan aku tau jika kalian tidak akan pernah memaafkanku," ucap Ryder dengan pelan dan penuh keyakinan.


Langkah Yara terhenti saat mendengar ucapan Ryder, sementara Mahen dan Riani sudah benar-benar sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Yudha tersenyum sinis. "Kalau udah tau jawabannya, maka pergilah. Hari ini aku masih menahan diri untuk tidak menghajarmu, tapi kalau kau kembali mengganggu, maka jangan berharap belas kasihan dariku."


Ryder menghela napas kasar. Tidak ada yang dia takutkan di dunia ini, apalagi hanya seorang lelaki seperti Yudha saja. Namun, saat ini situasinya berbeda. Ada perasaan yang harus dia jaga, dan ada rasa cinta yang harus dia perjuangkan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Zafran, jelas Mahen dan Riani merasa semakin yakin jika kedua lelaki itu sedang bertengkar. Akan tetapi, mereka tidak bisa membiarkan semuanya atau akan menimbulkan masalah yang lebih besar.


"Lebih baik kalian duduk dulu dan bicarakan semuanya secara baik-baik," ucap Riani sambil mempersilahkan Ryder untuk duduk. Jika mereka terus berdiri, pasti ujung-ujungnya akan terjadi baku hantam.


Yudha membuang muka sebal. Andai ini tidak di rumah kakak dari papanya, dia pasti sudah menyeret laki-laki itu untuk keluar dari sana.


Yara yang sejak tadi berdiri di balik dinding terus menatap Ryder dengan tajam. Ingin sekali dia mengusir laki-laki itu, tetapi dia tidak mau membuat kedua orangtuanya menjadi khawatir.


"Zafran!"


Mahen memanggil keponakannya itu dengan penuh penekanan sambil memberi isyarat agar laki-laki itu duduk, membuat Zafran menghela napas kasar dan duduk di sampingnya.


"Papa."


Semua orang langsung menoleh ke arah Yara saat mendengar suaranya. Dia yang berniat untuk tidak ikut campur, tentu saja harus buka suara karena adiknya juga terlibat.


Ryder yang melihat keberadaan Yara menatap wanita itu dengan sendu. Terlihat jelas kekecewaan dan kebencian dari raut wajah wanita itu, bahkan Yara tampak enggan untuk melihat ke arahnya.


"Maaf, Pa. Bisakah aku bicara dengan Ryder berdua saja?"


Semua orang mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Yara, sementara Zafran terlihat sangat tidak setuju dengan apa yang kakaknya lakukan.


"Papa tau kalau saat ini kalian semua sedang bertengkar, dan papa tau kalau terjadi masalah yang serius di antara kalian. Tapi apa kalian bisa menyelesaikannya sendiri? Papa tidak mau terjadi keributan apapun alasannya, Sayang. Kalian sudah dewasa, jadi selesaikanlah semuanya secara baik-baik," ucap Mahen dengan pelan tetapi penuh penakanan sambil menatap putrinya.


Yara menganggukkan kepalanya walau hatinya kembali tercubit saat mengingat apa yang terjadi, sementara Zafran mengepalkan kedua tangannya penuh kemarahan.


"Apa menjadikan seorang wanita sebagai bahan taruhan menurut papa tidak menjadi masalah?"

__ADS_1


Deg.


Mahen tersentak saat mendengar ucapan Zafran, begitu juga dengan Riani yang menatap laki-laki itu dengan wajah bingung dan juga terkejut.


"Apa, apa maksudmu, Zaf?" tanya Mahen dengan tajam.


Zafran yang akan menjawab pertanyaan Mahen tidak dapat mengeluarkan suaranya saat sang kakak memegang lengannya, dan memberi isyarat untuk diam.


"Aku akan mengatakannya pada Papa, tapi biar aku bicara ada Ryder dulu," ucap Yara. Dia tahu benar bagaimana sifat sang papa, papanya itu pasti akan murka jika mengetahui apa yang terjadi. Semua orang tua juga pasti akan marah jika mengertahui apa yang sudah Ryder lakukan.


Walau merasa sangat penasaran, Mahen menganggukkan kepalanya untuk mengizinkan Yara bicara dengan Ryder.


Yara lalu beranjak keluar dari tempat itu tanpa melihat ke arah Ryder sedikit pun. Sementara Ryder sendiri, tanpa diperintah dia mengikuti langkah Yara untuk keluar dari rumah itu.


Akhirnya mereka berdua berdiri di taman yang ada di samping rumah dengan Yara yang membelakangi Ryder, dia lalu berbalik dan melihat ke arah lain karena enggan untuk bersitatap mata dengan laki-laki itu.


"Mau apa Anda datang ke sini?" tanya Yara dengan sarkas, ucapannya bahkan lebih tajam dari pada saat bicara dengan Aidan.


Ryder menghela napas kasar sambil menatap dengan sayu. "Maaf, Yara. Aku mohon maafkan aku."


Yara tersenyum sinis. "Apa Anda hanya ingin mengatakan itu? Jika iya, maka silahkan pergi. Permintaan maaf Anda sudah saya terima, selebihnya itu sudah menjadi urusan saya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2