
Kedua lelaki itu saling pandang saat mendengar ucapan Ryder. "Maaf, Tuan. Kami tidak bisa-"
"Jangan membuang waktuku!" ucap Ryder dengan cepat, dia berjalan ke arah mobil yang terparkir di tempat itu. Dia yakin jika mobil itu adalah milik mereka.
"Tu-tunggu sebentar, Tuan. Tuan Rolan melarang kami untuk-"
"Siapa majikan kalian, aku atau dia?"
Glek.
Kedua lelaki itu menelan salive mereka dengan kasar, dan mau tidak mau terpaksa masuk ke dalam mobil dan menuruti ucapan sang tuan.
"Ryder!"
Ryder yang sudah akan masuk ke dalam mobil terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan segera menghampiri Weny yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Weny dengan bingung.
Ryder tersenyum tipis sambil merangkul bahu sang nenek. "Maaf, Nek. Sepertinya aku harus pergi." Dia mengusap bahu Weny membuat wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Pergi ke mana? Keadaanmu masih seperti itu," ucap Weny sambil menunjuk ke kepala Ryder, menunjukkan bahwa laki-laki itu masih harus istirahat.
"Aku baik-baik saja, Nek. Dokter Yara sudah mengobatiku dengan sangat baik, itu sebabnya aku sudah sehat sekarang."
Weny terdiam dan menatap Ryder dengan curiga. Matanya menyipit sampai membuat keningnya mengerut dalam.
"Biarkan Ryder pergi, Weny."
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang membuat Weny dan Ryder langsung berbalik, dan tampaklah Domi sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
Domy tersenyum lalu menyusap bahu Ryder dengan pelan. "Pergilah, dan kembalilah tanpa ada yang kurang sedikit pun."
Ryder menganggukkan kepalanya. "Terima kasih untuk semuanya, Kakek. Terima kasih karena telah menyembunyikan identitasku selama ini, aku tahu sejak awal kakek sudah mengetahuinya."
Domi ikut menganggukkan kepalanya. Ya, sejak awal dia sudah curiga bahwa Ryder bukan orang biasa. Terlihat jelas dari pakaian dan cara bicara laki-laki itu, apalagi ditambah dengan pemikiran dan ide-ide yang ada di kepala Ryder. Jelas menunjukkan jika dia berasal dari keluarga yang tidak biasa.
"Kau akan menemui Ayahmu?" tanya Weny, hanya itulah satu kemungkinan yang akan Ryder lakukan.
"Benar, Nek. Sepertinya liburanku di sini sudah selesai, jadi aku harus menemuinya saat ini juga."
Weny langsung memeluk tubuh Ryder dengan erat. Air mata tampak menggenang dipelupuk mata, bahkan sudah jatuh membasahi pipi.
"Kau akan kembali, 'kan?" tanyan Weny dengan lirih. Perasaannya menjadi takut dan gelisah, dia takut apa yang terjadi pada mendiang putranya terjadi juga pada Ryder, yang pamit pergi dan tidak kembali sampai detik ini. Bahkan berita tentang putranya pun tidak terdengar.
Ryder kembali menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Nek. Aku pasti akan kembali ke sini, lagi pula wanitaku juga masih berada di sini." Dia tersenyum simpul.
Sama seperti Weny, Domi juga tampak cemas. Dia lalu memberikan sesuatu pada Ryder membuat laki-laki itu terkesiap.
"Kakek, ini-"
"Bawalah, kau pasti membutuhkannya. Hanya itu yang bisa kakek berikan, lindungi apa yang ingin kau lindungi," ucap Domi. Jelas dia tahu jika Ryder akan berada dalam bahaya, itu sebabnya dia memberikan dua buah pistol pada laki-laki itu.
Tidak tahu dari mana Domi mendapatkan dua pistol itu, yang jelas membuat Ryder juga baru sadar jika Domi juga bukan warga biasa. Namun, saat ini dia tidak sempat itu bertanya apapun lagi.
Ryder segera pamit pada mereka berdua, dan meminta tolong agar mereka menjaga Yara sampai dia kembali.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Eric sudah sampai di rumah Vano. Dia segera keluar dari mobil bersama dengan Rolan, lalu terlihatkah Vano serang berjalan menghampiri mereka.
"Selamat datang di rumah saya, Tuan. Bagaimana kabar Anda?" tanya Vano dengan ramah, tidak lupa sambutan untuk mereka juga.
__ADS_1
"Senang bisa bertemu lagi dengan Anda, Tuan Vano. Kabar saja baik, saya harap Anda dan keluarga juga baik," jawa Eric.
Vano menganggukkan kepalanya dan segera mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah, dan terus berjalan masuk sampai di dalam ruang kerjanya.
Via juga tampak menyambut kedatangan Eric dan juga Rolan. Dia menyajikan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
Setelah saling bertukar kabar, akhirnya mereka mulai membahas masalah yang sedang menimpa Vano, juga menghilangnya River sampai saat ini.
"Saya yakin jika Luke bukan hanya mengincar Anda, tapi juga sekretaris Anda. Atau sejak awal dia memang sudah menargetkan Anda berdua," ucap Eric. Dia tahu benar bagaimana sikap Luke, sepertinya laki-laki itu punya urusan tersendiri oleh River.
Vano menganggukkan kepalanya, dia juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang Eric katakan. "Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya tidak bisa hanya duduk diam. Bahkan jika mereka berada di dalam lubang semut sekalipun, aku akan tetap menghancurkannya." Dia berucap penuh kebencian.
"Anda tidak perlu khawatir, saya sudah mengerahkan anggota saya untuk berkumpul di suatu tempat. Hanya saja bayaran untuk mereka sangat besar," ucap Eric ragu. Walau mereka adalah kelompok yang sama dengannya dulu, tetapi tetap saja sekarang sudah keluar.
"Saya tidak ada masalah dengan uang, berapa pun akan saya bayar," balas Vano dengan yakin.
"Mereka tidak meminta uang, Tuan. Mereka meminta kekuasaan, jadi kita harus membantu mereka menggulingkan Luke sampai ke akar-akarnya, termasuk semua lini usaha mereka dan serahkan pada kelompok saya."
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karya teman aku ya 😍
__ADS_1