
Edward langsung memerintahkan semua anak buahnya untuk mengejar Bayu yang sudah dibawa oleh polisi. Tidak peduli bagaimana pun caranya, yang jelas dia harus mendapatkan laki-laki itu saat ini juga.
"Baik, Pak!" jawab semua anak buah Edward secara bersamaan. Mereka semua lalu segera pergi menggunakan motor trail untuk mengejar mobil polisi, juga melewati jalan potongan agar bisa bisa menyusul Bayu.
"Maaf, maafkan saya," ucap Hemson kembali.
Napas Edward tersengal-sengal karena menahan sesak di dada. Dia lalu menyuruh laki-laki tua itu untuk pergi, dan lupakan saja apa yang sudah terjadi. Namun, dia tidak mengucapkan terima kasih atas informasi yang Hemson berikan karena merasa kecewa dengan kebungkaman laki-laki itu selama ini.
Ryder yang masih ada di tempat itu mendekati Edward. "Anda boleh menghukum Bayu, tapi jangan membunuhnya dengan kedua tangan Anda sendiri."
"Tidak. Aku pasti akan membunuhnya, aku akan membunuhnya seperti dia membunuh putraku," ucap Edward dengan tajam
Ryder terdiam. Dia tidak bisa membiarkan Edward melakukan halitu atau nanti laki-laki itu akan dipenjara, lalu Bayu hanya akan mati begitu saja tanpa merasakan hukuman atas perbuatannya.
Dia lalu mengambil foto Edwin yang ada di atas meja dan menunjukkannya ke hadapan Edward. "Lihat putra Anda ini, Pak. Lihat senyum manis dan wajah tampannya yang selalu tersenyum. Saya yakin jika dia pasti tidak ingin melihat tangan Anda berlumuran darah."
Edward terdiam. Kedua sorot matanya yang semula membara kini tampak menggantung mendung. "Tidak, dia pasti akan tenang jika ayahnya sudah membalas dendam pada bajing*an itu. Untuk itulah dia menampakkan diri dan memberi petunjuk tentang ruangan itu." Suaranya mulai bergetar.
Ryder menggelengkan kepalanya. "Tentu saja Anda harus membalas dendam padanya, tapi bukan berarti menghabisi nyawanya." Dia berucap dengan tajam. "Jika Anda membunuhnya, maka dia akan langsung mati tanpa merasakan penderitaan yang telah putra Anda lakukan. Dan dia juga tidak merasakan bagaimana rasa sakit yang selama ini Anda rasakan. Apa Anda mau seperti itu?"
Edward terkesiap, ucapan Ryder seketika membuat dadanya berdesir dan terasa seperti sebuah tamparan yang membuatnya tersadar.
"Hukum dia dengan rasa sakit, dan biarkan dia mendekam di penjara seumur hidup. Itulah yang pantas dia dapatkan," sambung Ryder.
Edward menganggukkan kepalanya. Dia lalu mendekati Ryder dan memeluk tubuh laki-laki itu membuat Ryder tersentak kaget.
"Terima kasih, Tuan Ryder. Terima kasih karena telah menyadarkan saya, saya banyak berhutang pada Anda," ucap Edward dengan lirih. Dia lalu melepaskan pelukannya dan menepuk kedua bahu laki-laki itu dengan penuh terima kasih.
Ryder mengangguk. "Jangan berterima kasih. Anda pernah berkata jika sudah menganggap saya sebagai putra Anda sendiri, 'kan? Karena itulah saya juga menganggap Anda sebagai orangtua saya sendiri."
Kedua mata Edward berkaca-kaca, dia merasa terharu dengan apa yang Ryder katakan. Dia lalu kembali memeluk laki-laki itu dengan penuh syukur.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Vano dan Via sedang menonton video yang tengah viral saat ini, yaitu tentang penangkapan seorang penjahat dan juga penemuan kerangka manusia di pabrik yang ada di desa Halyu.
"Apa kau sudah menghubungi Yara dan Zafran, Mas?" tanya Via dengan cemas. Perasaannya menjadi khawatir saat melihat apa yang tengah terjadi di desa tempat putri dan putranya berada.
__ADS_1
Vano menggelengkan kepalanya. "Nanti aku akan menghubungi mereka, semoga mereka baik-baik saja." Dia juga merasa cemas.
Setelah menonton video itu, Vano segera menghubungi Zafran untuk menanyakan bagaimana kabar putranya itu. Tidak lupa menanyakan kabar Yara dan Ryder juga, serta kejadian menyeramkan di desa tersebut.
"Halo, Zafran," ucap Vano saat panggilan teleponnya sudah dijawab oleh Zafran.
"Assalamu'alaikum, Pa. Ini aku Yara."
Vano menghela napas lega saat mendengar suara Yara, dia lalu mengubah panggilan telepon itu menjadi panggilan video call.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?" tanya Vano.
"Alhamdulillah aku sehat, Pa. Bagaimna kabar Papa dan Mama?" tanya Yara kemudian.
Vano lalu mengatakan jika dia dan sang istri baik-baik saja juga kabar Zayyan yang saat ini sedang berada di luar rumah.
Tidak berselang lama, Via datang dan bergabung dengan mereka. Dia langsung menanyakan kabar kedua anaknya dengan wajah cemas, juga tentang masalah yang terjadi di desa itu.
"Mama dan Papa tidak perlu khawatir, alhamdulillah kami semua baik-baik saja," jawab Yara. Dia lalu menceritakan tentang apa yang sedang terjadi di desa itu saat ini.
Zafran yang juga ada di samping Yara hanya tersenyum melihat kedua orangtuanya. Dia juga berpesan pada sang kakak agar tidak memberitahu orangtua mereka tentang keadaannya saat ini.
Yara lalu mengatakan jika Ryder sedang sibuk mengurus kasus yang sedang melibatkannya, bahkan melibatkan pabrik milik laki-laki itu. Dia yakin sekali jika saat ini Ryder pasti sudah sangat lelah.
"Semalam mama sudah bicara dengan mamanya Ryder, dan dia bilang akan segera melamarmu saat kau sudah kembali ke sini," ucap Via dengan senyum cerah, lalu Yara juga ikut tersenyum saat mendengarnya. "Apa kau sudah membicarakan tentang hal ini pada Ryder?"
Yara mengangguk. Lalu dia bercerita tentang apa saja yang sudah Ryder katakan tentang pernikahan, dia juga mengatakan bahwa laki-laki itu siap untuk menikah secepatnya.
Via dan Vano merasa sangat senang mendengar cerita Yara. Kini mereka yakin jika Yara benar-benar mencintai Ryder dan siap untuk menikah dengan laki-laki itu.
Setelah selesai bercerita panjang lebar, panggilan video call mereka terhenti karena sudah masuk waktu maghrib. Yara bergegas mengajak Zafran untuk masuk ke dalam rumah agar bisa mengerjakan shalat, setelahnya baru akan kembali mengobati kaki adiknya itu.
Pada saat yang sama, Ryder juga sampai di tempat itu dan langsung disambut dengan senyum hangat dari Yara. Rasa lelahnya langsung menguap saat melihat senyuman wanita itu, lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah karena dipanggil oleh Yara.
*
__ADS_1
*
Malam harinya, Ryder dan semuanya tampak berkumpul di rumah yang Yara tempati. Malam ini adalah malam terakhir para petugas medis menjalankan tugas di desa ini, dan hari terakhir mereka diisi oleh kejadian yang sangat mengguncang semua orang.
"Saya pasti tidak akan melupakan apa yang terjadi hari ini. Bagaimana mungkin ada manusia yang sangat jahat sepertinya?" pekik Lewis dengan tidak habis pikir. "Berarti yang mengejar Anda malam itu dia juga, Zafran?"
Zafran mengangguk. "Benar. Jika malam itu aku tidak berhasil kabur, mungkin aku juga sudah terkubur bersama dengan kerangka itu."
Yara langsung memukul lengan Zafran saat mendengar ucapan adiknya itu. "Jangan berkata seperti itu, Zafran!" Dia menatap dengan tajam.
Zafran langsung cengengesan. "Maaf Mbak, aku kan cuma bercanda."
Yara menggelengkan kepalanya sambil menghela napas berat. Dia lalu teringat dengan pesan Direktur yang harus disampaikan pada semua orang.
"Oh yah, tadi Direktur menghubungi saya dan berkata jika besok akan datang untuk menjemput kita semua. Malam ini katanya beliau dan yang lainnya sudah berangkat dari kota supaya pagi-pagi sekali sudah sampai di sini. Beliau juga sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi di tempat ini, sehingga memutuskan untuk bergerak cepat menjemput kita," ucap Yara.
Semua orang mengangguk paham. Mereka senang karena sudah menyelesaikan tugas dengan baik di desa ini, walau merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengan para penduduk desa.
"Beliau juga berpesan agar kita tetap berhati-hati dengan apa yang terjadi, dan tidak pergi ke manapun sebelum beliau sampai di desa ini," sambung Yara kemudian.
Orang-orang yang ada di rumah sakit juga ikut cemas dengan masalah yang terjadi di desa itu, karena jika terjadi sesuatu dengan para petugas medis yang mereka kirim, maka merekalah yang harus bertanggung jawab.
"Kalau gitu besok ikutlah kembali bersama dengan Yara, Zafran. Semua masalah sudah selesai, jadi pulanglah dan istirahat sampai lukamu sembuh," ucap Ryder.
Zafran tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau tidak akan ikut dengan kami?"
"Tidak, aku harus menyelesaikan masalah di sini dulu. Setelah itu baru menyusul ke sana," jawab Ryder.
Zafran dan yang lainnya mengangguk paham. Memang banyak sekali yang harus Ryder selesaikan karena masalah yang terjadi, tetapi syukurlah penjahat itu sudah ditangkap.
"Kembalilah lebih dulu, Yara. Aku harus membereskan pekerjaan di sini sampai selesai, supaya saat kita kembali ke sini nanti keadaan sudah membaik dan tidak ada lagi kejahatan yang serupa."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.