
Pada saat yang sama, Aidan sedang berada di ruang kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas-berkas yang harus di laporkan pada atasannya.
Beberapa kali Aidan melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah sejak pagi dia menunggu kabar dari sang atasan, tetapi sampai sore atasannya tidak juga memanggilnya ke ruangan.
"Apa yang terjadi? Rosa bilang hari ini aku akan dipanggil ke ruang Direktur untuk serah terima naik jabatan, tapi kenapa aku tidak dipanggil juga?"
Aidan membanting berkas yang ada ditangannya dengan kasar. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan untuk bertanya pada atasannya.
Tok, tok.
"Siapa?"
Aidan mengetuk pintu ruangan sang atasan dan langsung mendengar suara dari dalam ruangan tersebut. "Saya Aidan, Pak. Boleh saya masuk?"
"Masuklah."
Aidan lalu membuka pintu ruangan itu dan beranjak masuk untuk menemui seseorang, terlihat lelaki paruh baya mendongakkan kepala untuk melihat ke arahnya.
"Maaf kalau saya mengganggu, Pak. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu pada Anda."
Laki-laki paruh baya itu mengangguk dan mempersilahkan Aidan untuk duduk. "Apa yang yang ingin kau tanya kan?" Dia menyingkirkan beberapa berkas yang ada di hadapannya.
"Maaf Pak, saya ingin bertanya mengenai kenaikan jabatan yang waktu itu pernah Bapak beritahukan. Bukankah seharusnya saya sudah naik jabatan setelah menyelesaikan peluncuran produk baru?"
Laki-laki paruh baya itu mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Aidan. "Apa Direktur belum memanggilmu ke ruangannya?"
Aidan langsung menggelengkan kepalanya, tetapi di sisi lain dia merasa lega saat mendengar ucapan sang atasan.
"Berarti aku benar-benar naik jabatan, hanya tinggal menunggu panggilan dari Direktur saja." Senyum lebar terlihat jelas diwajah Aidan saat ini.
"Sebentar."
Laki-laki paruh baya itu langsung mengangkat gagang telepon untuk menghubungi seseorang, membuat Aidan terdiam sambil menatapnya.
Setelah berbicara dengan seseorang di balik telepon, laki-laki paruh baya itu lalu mematikan panggilannya dan menatap Aidan dengan tajam.
"Seharusnya Direktur yang mengatakan ini padamu, tapi beliau berpesan pada sekretaris Arif agar saya yang memberitahukannya padamu."
__ADS_1
Deg.
Jantung Aidan berdegup kencang saat mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu. Kebahagiaan membuncah dalam dada hingga membuat wajahnya berseri-seri dengan senyum lebar.
"Maaf, Aidan. Direktur membatalkan kenaikan jabatan untukmu."
"A-apa?"
Aidan yang sudah tidak sabar mendengar perkataan sang atasan langsung terlonjak kaget. Tentu saja dia sangat terkejut karena ucapan laki-laki paruh baya itu tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"A-apa maksud Anda, Pak? Ke-kenapa-" Aidan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat laki-laki paruh baya itu beranjak berdiri dari kursi. Dia lalu ikut berdiri dan menatap sang atasan dengan nanar.
"Rencana kenaikan jabatanmu waktu itu belum bersifat final, dan baru menjadi bahan pertimbangan saja. Jadi hal seperti ini sudah biasa terjadi."
Aidan tercengang dan menatap laki-laki paruh baya itu dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Kenapa Direktur tidak jadi menaikkan jabatannya?
"Semua sudah jelas, 'kan? Sekarang kembali lah ke ruanganmu, ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."
Laki-laki paruh baya itu mengambil berkas yang ada di atas meja dan membawanya keluar menuju ruangan Direktur.
"Bagaimana mungkin semua ini terjadi, Pak? Bukankah ini sangat tidak profesional sekali?"
"Seharusnya perusahaan tidak melakukan hal seperti ini pada karyawannya. Saya bekerja dengan baik dan profesional, tapi kenapa diperlakukan dengan tidak adil seperti ini?"
"Kau, kau bilang apa?"
Laki-laki paruh baya itu menatap Aidan dengan tajam. Berani sekali laki-laki itu berkata demikian padanya?
"Saya akan langsung berbicara dengan Direktur."
Aidan langsung beranjak keluar dari ruangan itu menujur ruang Direktur. Dia tidak bisa membiarkan ketidakadilan ini begitu saja, apalagi dia sudah mengatakan akan naik jabatan pada semua orang.
Sesampainya di depan ruangan Direktur, Aidan langsung bertemu dengan sekretaris Arif dan meminta izin untuk bertemu dengan Direktur.
"Direktur sedang tidak bisa diganggu, jadi katakan saja apa yang mau kau katakan pada beliau."
Aidan menganggukkan kepalanya dan langsung mengatakan tujuannya menemui Direktur, tidak lupa tentang pembahasan kenaikan jabatannya beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
"Sesuai dengan apa yang Rizal katakan tadi jika kau tidak jadi naik jabatan. Lagi pula Direktur tidak mengatakannya langsung padamu bukan? Jadi belum ada keputusan resmi untuk semua itu."
Aidan tersenyum dengan miris. Apa yang Arif katakan sama saja dengan ucapan laki-laki paruh baya tadi, dan bagaimana mungkin mereka bisa mempermainkannya seperti ini?
"Maaf, Tuan. Saya harus bertemu langsung dengan Direktur."
Aidan tetap keukeh ingin bicara langsung dengan Direktur, dia yakin jika sedang terjadi sesuatu yang salah saat ini.
"Selamat sore, Tuan Arif."
Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang membuat Aidan dan juga Arif langsung menoleh ke arah pintu.
"Tu-Tuan Zafran?"
Arif langsung beranjak berdiri dari kursi saat melihat kedatangan Zafran, sementara Aidan hanya diam sambil menatap laki-laki itu dengan tajam dan penuh kebencian.
"Maaf jika saya mengganggu, Tuan. Bisakah saya bertemu dengan Direktur Surya?" tanya Zafran yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Arif.
"Tentu saja, Tuan. Mari, saya akan mengantar Anda ke ruangan beliau."
Aidan langsung mengepalkan tangannya dengan erat saat mendengar ucapan Arif, bagaimana mungkin laki-laki itu membiarkan Zafran masuk sementara dia tidak?
Zafran menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, dia lalu berbalik dan melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun berniat untuk melihat ke arah Aidan.
"Tunggu sebentar!"
Zafran dan Arif yang sudah mencapai pintu menoleh ke arah Aidan saat mendengar ucapan laki-laki itu.
Aidan sendiri berjalan mendekati Zafran dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tentu saja dia merasa sangat emosi dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ternyata semua ini karna perbuatanmu, ya. Pantas saja aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, rupanya kau yang sedang bermain licik di sini."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.