
Bulu kuduk Zafran langsung meremmang saat melihat apa yang sedang terjadi. Tubuhnya terasa bergetar karena sedang menduga-duga apakah yang dia lihat itu manusia atau tidak.
"Ke sinilah. Kau bisa keluar dari lorong ini."
Lagi, Zafran kembali mendengar suara dari laki-laki itu dengan sangat jelas. Namun, kenapa Bayu dan yang lainnya tidak bereaksi? Apa mungkin hanya dia yang melihat dan mendengar suara itu?
"Cepat tangkap dia!"
Zafran terperanjat kaget saat kembali mendengar suara Bayu. Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari ke arah lorong di mana sosok tak kasat mata itu berada. Terserahlah jika memang sosok itu adalah setan, jin, atau makhluk yang lainnya, yang jelas dia harus keluar terlebih dahulu dari tempat ini.
Bayu dan yang lainnya segera mengejar Zafran yang sudah berlari masuk ke dalam ruangan yang ada di bagian belakang pabrik. Namun, langkah mereka terhenti begitu sampai di pintu ruangan tersebut.
"Kenapa kalian berhenti? Cepat kejar dia!" ucap Bayu dengan penuh amarah.
Kedua petugas keamanan yang menjaga pabrik itu tampak saling tatap sambil bergidik ngeri. "Ta-tapi ruangan itu sangat se-"
"Tutup mulutmu dan cepat kejar dia!" potong Bayu dengan cepat. "Jika laki-laki itu berhasil kabur, maka kalian akan kubunuh!"
Kedua laki-laki itu menelan salive mereka dengan kasar. Antara takut dengan setan dan takut dengan majikan mereka, membuat mereka benar-benar diambang kebingungan.
Dengan sangat terpaksa, kedua lelaki itu masuk ke dalam ruangan yang terkenal sangat angker dan menyeramkan. Bahkan ruangan itu sudah tidak digunakan lagi, karena orang-orang yang dulu menempati ruangan itu sering mengalami hal-hal mistis.
Sementara itu, Zafran yang sudah berada di dalam ruangan tampak menghentikan larinya dengan napas tersengal-sengal. Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengusap keringat yang membasahi kening.
"Si*al. Malam-malam gini tubuhku basah karena mandi keringat," gumam Zafran dengan kesal. Dia lalu mulai memperhatikan ke sekeliling ruangan itu dengan penerangan dari pantulan cahaya yang ada di bagian luar.
Seketika Zafran kembali teringat dengan sosok laki-laki yang dia lihat tadi, dan yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan ini. Dia yakin jika laki-laki itu adalah makhluk halus.
"Kenapa dia menyuruhku masuk ke dalam sini?" ucap Zafran dengan bingung. "Dan kenapa pula aku mau masuk?" Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang apa lagi yang harus dia lakukan setelah terperangkap di dalam ruangan ini? Dan pasti sebentar lagi Bayu akan datang untuk menangkapnya.
"Benar, aku harus segera mengirim pesan pada Ryder." Dengan cepat Zafran mengambil ponselnya lalu mengaktifkan benda pipih itu. Setelah aktif, dia segera membuka aplikasi hijau untuk mengirim pesan pada Ryder.
Brak.
Zafran terlonjak kaget saat tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras, diiringi langkah seseorang yang bisa dipastikan bahwa itu adalah Bayu.
Setelah selesai mengirim pesan dan juga voice note pada Ryder, Zafran segera mematikan kembali ponselnya lalu mencoba untuk mencari jalan keluar.
Zafran mengelilingi ruangan itu untuk memeriksa semuanya, dia berharap bisa keluar sebelum ditangkap oleh mereka.
__ADS_1
"Bagaimana ini, aku sama sekali tidak-"
Krek.
Ucapan Zafran langsung terhenti saat tiba-tiba sebuah lemari yang ada di sudut ruangan terbuka. Dengan cepat dia berjalan mendekati lemari itu dengan penuh tanda tanya.
"Apa ini, kenapa tiba-tiba lemarinya terbuka?" Zafran merasa heran dan tengkuknya kembali merinding. "Tunggu, sepertinya ada yang aneh." Dia memperhatikan dinding lemari itu yang ternyata terbuat dari beton.
Merasa ada yang tidak beres, Zafran segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghancurkam dinding itu, karena sangat aneh sekali jika sebuah lemari kayu tetapi dinding bagian belakangnya terbuat dari batu dan semen.
"Itu dia. Cepat, kita harus segera menangkapnya!"
Zafran menoleh ke arah belakang saat mendengar suara orang-orang yang mengejarnya, lalu dengan cepat mengambil sebuah palu besar dan mengayunkannya ke dinding yang ada di dalam lemari tersebut.
Brak, brak, brak.
Dengan sekuat tenaga, Zafran menyayunkan palu yang ada ditangannya hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras, membuat Bayu dan anak buahnya semakin mempercepat langkah kaki mereka.
Brak.
Akhirnya dinding itu roboh juga saat Zafran mengayunkan palunya yang ke empat kali, sontak kedua matanya membelalak lebar karena ternyata dinding itu langsung menuju ke luar dari wilayah pabrik.
Tanpa menunggu waktu lagi, Zafran langsung melompat keluar dari ruangan itu diikuti dengan teriakan Bayu yang penuh dengan amarah.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Ryder sedang berada di luar rumah kepala desa setelah mendapat pedan dari Zafran. Dia memilih untuk keluar karena laki-laki itu mengirim sebuah voice note kepadanya.
"Aku sedang berada dipabrik dan dikejar oleh Bayu. Cepat ke sini sebelum aku mati!"
Ryder tersentak kaget saat mendengar voice note yang Zafran kirim padanya. Dia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku dan dengan cepat naik ke atas motornya.
"Kau mau ke mana, Ryder?" seru Yara yang baru saja keluar dan bermaksud untuk memanggil laki-laki itu.
Ryder yang sudah menghidupkan mesin motornya beralih melihat ke arah Yara. "Kau tunggu saja di sini, nanti aku akan kembali." Dia lalu melajukan motor itu sebelum mendengar jawaban dari Yara.
Yara menatap Ryder dengan heran dan bertanya-tanya. Perasaannya menjadi khawatir karena melihat laki-laki itu pergi dengan terburu-buru seperti itu.
"Ya Allah, apa yang sedang terjadi?" gumam Yara dengan khawatir. Dia lalu berdo'a agar Ryder baik-baik saja, tanpa tahu jika yang sedang berada dalam bahaya adalah adiknya.
Ryder melajukan motornya dengan sangat kencang. Tidak peduli ada banyak lubang dan batu yang dia lewati, bahkan jika motor itu bisa bicara mungkin akan meminta untuk berhenti sangking kencang dan brutalnya dia membawa motor itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Ryder menginjak rem secara mendadak saat melihat Bayu sedang berdiri di pinggir jalan. Dia berusaha untuk bersikap tenang lalu menghampiri laki-laki itu.
"Bayu!"
Bayu yang sedang menunggu kabar anak buahnya tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang. Sontak wajahnya berubah pias saat melihat kedatangan Ryder.
"Ry-Ryder?" ucap Bayu dengan tergagap.
Ryder segera turun dari motornya untuk mendekati laki-laki itu. Sebenarnya dia ingin mencari Zafran, tetapi kebetulan bertemu dengan Bayu. Jadi lebih baik menahan laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ryder dengan tajam. Dia lalu melirik ke arah pabrik yang berada tidak jauh dari mereka.
Bayu terdiam. Tiba-tiba otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir. "A-aku baru saja mengantar teman-temanku Ryder, dan ini mau jalan pulang." Hanya itu yang ada dalam pikirannya.
Ryder menatap dengan heran. "Teman-temanmu? Bukankah tadi mereka sudah pulang?"
Deg.
Bayu kembali diam dengan wajah pucat. Si*al, dia lupa jika tadi juga bertemu dengan Ryder, lalu laki-laki itu melihat teman-temannya pergi.
"I-iya. Tadi mereka sudah pergi, tapi kembali lagi karena ada sesuatu yang ketinggalan," jawab Bayu.
Ryder terdiam. Jelas apa yang Bayu ucapkan adalah bohong membuat kedua tangannya terkepal dengan erat. Sebenarnya apa yang sedang laki-laki itu rencanakan, bahkan sampai Zafran pun terlibat?
"Tuan Bayu, kami tidak bisa-" Ucapan laki-laki itu langsung terhenti saat melihat keberadaan Ryder, membuat Bayu semakin dilanda gelisah.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ryder dengan tajam. Si*alan, rupanya mereka bekerja sama untuk membuat masalah.
Kedua laki-laki itu terdiam dengan kepala tertunduk, sementara Bayu memutar otak untuk mencari alasan.
"Kalian bekerja sebagai petugas keamanan pabrik, tapi kenapa kalian berkeliaran di sini?" tanya Ryder kembali. Nada suaranya sudah naik satu oktaf.
"Ma-maaf, Ryder. Tadi, tadi mereka membantuku saat asmaku kambuh. Jadi mereka meninggalkan pos dan datang ke sini."
"Dari mana mereka tahu kalau asmamu kambuh?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.