
Hana menatap Via dengan tatapan tidak percaya, dan langsung dibalas dengan anggukan kepala wanita paruh baya itu.
"Mandilah dan pakai saja pakaian yang ada di dalam lemari, setelah itu ke dapur yah. Tante tunggu di sana," ucap Via dengan lembut. Dia lalu berbalik dan keluar dari kamar itu untuk bergabung dengan yang lainnya setelah mendapat anggukan dari Hana.
Setelah Via keluar, Hana bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. begitu selesai, dia mengambil pakaian yang tersedia di dalam lemari walau merasa ragu dan tidak enak hati.
Beberapa saat kemudian, Hana sudah terlihat rapi dengan pakaian sederhana yang dia kenakan. Setelah selesai mengikat rambut, dia bergegas keluar untuk menemui Via sebelum membuat wanita itu menunggu terlalu lama.
"Sini Kak!"
Langkah Hana terhenti saat melihat Zayyan melambaikan tangan ke arahnya, apalagi saat mendengar panggilan yang laki-laki itu sematkan untuknya.
"Duduk sini Kak, kami udah lama loh nunggu Mbak. Lapar tahu," sambung Zayyan sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di sampingnya, mempersilahkan Hana untuk duduk.
"Zayyan!" ucap Via dengan tajam saat melihat apa yang putranya itu lakukan. Kedua matanya melotot ke arah Zayyan. Sudah diperingatkan agar tidak berkata yang macam-macam pada Hana, tetapi anak itu tetap saja tidak mau mendengarnya.
Zayyan langsung mencebikkan bibirnya saat dimarahi oleh sang mama, padahal dia hanya ingin mengakrabkan diri saja pada Hana dan berkata jujur jika sudah lama menunggu wanita itu.
"Duduklah, jangan dengarkan dia," ucap Zafran yang saat ini sedang duduk di samping sang mama, dia melihat ke arah Hana yang juga sedang melihatnya.
Hana segera mendekati mereka sambil menatap takut. "Ma-maaf karena sudah membuat Anda menunggu." Dia meremmas tangannya sendiri karena merasa gelisah.
Via lalu menyuruh Hana untuk duduk di samping Zayyan dan tidak perlu lagi meminta maaf. kemudian dia mengajak semuanya untuk memulai acara makan malam mereka, sambil menyiapkan makanan untuk sang suami.
Hana yang masih merasa gugup dan takut terlihat bingung saat ingin mengambil makanan yang ada di hadapannya, padahal dia sudah sangat kelaparan saat ini.
Zayyan yang duduk di samping Hana tersenyum tipis melihat raut wajah wanita itu. Dengan cepat dia mengambil makanan yang ada di atas meja lalu meletakkannya tepat di depan Hana, membuat wanita itu tersentak kaget.
"Makanlah yang banyak, Kak. Masakan mama sangat enak loh," seru Zayyan sambil tersenyum lebar, membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung melihat ke arahnya. Termasuk Zafran yang duduk tepat di hadapannya.
"Te-terima kasih, Tuan," ucap Hana sambil menganggukkan kepalanya. Dengan perlahan dia mulai menikmati makanan yang Zayyan berikan dengan dada berdebar kencang. Bukan berarti dia jatuh cinta dengan laki-laki itu, hanya saja dia merasa terharu dengan kebaikan yang Zayyan lakukan.
__ADS_1
Via dan Vano tersenyum melihat apa yang putra mereka lakukan, lalu kembali menikmati makan malam itu sambil bercerita dengan hangat. Terutama membahas tentang perilaku bandal yang Zayyan lakukan saat di sekolah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Hana merasakan suasana hangat seperti ini, hingga membuat dadanya berdesir hebat dengan mata mulai berkaca-kaca.
Dulu saat ibunya masih hidup dan keluarga mereka baik-baik saja, dia selalu makan bersama dengan hangat seperti ini. Dia bahkan selalu berceloteh panjang lebar sampai membuat ayahnya kesal, karena sudah membuat keributan dimeja makan.
Namun, semua kehangatan itu langsung hilang saat ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan saat dia masih berusia 10 tahun. Sejak saat itu keluarganya hancur berantakan, apalagi saat ayahnya menikah dengan wanita lain dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka.
Kehidupan yang indah dan bahagia langsung berubah bak neraka bagi Hana. Setiap hari dia diperlakukan dengan kasar dan kejam oleh ibu tirinya, bahkan sang ayah sama sekali tidak peduli dengan apa yang dia rasakan.
Setiap hari dia harus bangun jam 4 pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, juga untuk membeli bahan masakan ke lapangan karena harus berebut dengan yang lain, dikarenakan desa mereka sangat jauh dari kota. Itu sebabnya harus cepat membeli bahan makanan yang dijual oleh juragan desa sebelum kehabisan.
Begitu semua selesai, Hana harus pergi ke sekolah sambil membawa bekal untuk ayahnya yang bekerja di pabrik milik Edward, yang sekarang sudah menjadi milik Ryder.
Setelah pulang sekolah, Hana juga harus membantu pekerjaan di ladang. Dia bahkan tidak punya waktu untuk bermain, dan jika sedikit saja melakukan kesalahan. Maka ibu tirinya akan menghajarnya dan memperlakukannya dengan buruk.
Semua itu terus terjadi sampai bertahun-tahun lamanya, hingga Hana tidak sengaja bertemu dengan Dion saat laki-laki itu berkunjung ke desa untuk menemui ayahnya.
Saat itulah Dion mendekati Hana dan menyatakan cinta padanya, sampai akhinya penderitaan yang dia rasakan tidak pernah lagi terjadi karena ibu tiri serta saudari tirinya takut dengan Dion.
Hana tersenyak kaget saat mendengar ucapan Zayyan hingga menyadarkannya dari lamunan. Dia yang baru sadar jika menangis langsung mengusap wajahnya dengan kasar dan menunduk dengan perasaan bersalah.
"Ma-maafkan saya. Saya, saya tidak bermaksud untuk-"
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, Hana."
Hana langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Via, apalagi saat ini wanita itu sudah berdiri di belakangnya sambil mengusap punggungnya dengan hangat.
"Tidak apa-apa, menangislah kalau kau ingin menangis. Tidak ada yang salah dengan itu," ucap Via kemudian. hatinya benar-benar sakit melihat keadaan Hana. Sebenarnya penderitaan seperti apa yang sudah wanita itu alami, hingga membuatnya sangat menyedihkan seperti ini.
Hana langsung menangis dengan tersedu-sedu saat mendengar ucapan Via yang terasa menusuk pertahanan hatinya, hingga membuat emosinya meluap san terbakar seperti ini.
__ADS_1
Via memeluk Hana dengan erat sambil mengusap punggung wanita itu, seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja, sementara suami dan kedua anaknya hanya diam dengan tatapan penuh simpati kepada Hana.
Untung saja mereka sudah selesai menikmati makan malam dan hanya tinggal Hana saja yang sejak tadi diam sambil menahan tangis, hingga akhirnya Vano mengajak kedua putranya untuk pergi agar sang istri bisa bicara empat mata dengan Hana.
Via lalu melerai pelukannya saat merasa jika Hana sudah mulai tenang, kemudian dia duduk di samping wanita itu sambil memberikan segelas air mineral untuk Hana.
"Minumlah, Hana," ucap Via dengan penuh kelembutan.
"Te-terima kasih," sahut Hana dengan suara serak. Dia lalu meminum air itu dan kembali meletakkannya ke atas meja.
"Tante tidak tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, Hana. Tapi tante tahu jika semua itu pasti sangat menyulitkanmu. Jadi kau tidak perlu menahan diri, menangislah kalau kau memang ingin menangis. Semua orang berhak untuk meneteskan air mata," ucap Via dengan tulus.
Hana menatap Via dengan sendu, dia merasa bingung kenapa wanita itu memperlakukannya dengan baik seperti ini. Padahal mereka tidak saling mengenal, bahkan Via mengizinkannya untuk tidur di rumah ini.
"Kenapa, Nyonya? Kenapa Anda memperlakukan saya dengan baik seperti ini?" tanya Hana dengan suara bergetar.
Via tertegun mendengar pertanyaan Hana. "Kenapa kau bertanya seperti itu, apa ada alasan kenapa kau tidak boleh diperlakukan dengan baik, hem?" Dia balik bertanya.
Hana terdiam. Memang tidak ada alasan kenapa dia harus diperlakukan dengan buruk, tetapi selama ini semua orang memperlakukannya seperti itu. Bukankah itu artinya dia memang pantas diperlakukan dengan buruk?
"Kenapa kau diam, Hana?" tanya Via kembali.
"I-itu karena memang sudah sepantasnya kudapatkan, Nyonya. Selama ini semua orang memperlakukanku dengan buruk, jadi kenapa Anda tidak seperti mereka?" ucap Hana dengan lirih.
Via menghela napas kasar mendengar ucapan Hana. Tidak disangka jika selama ini wanita itu hidup di lingkungan yang tidak baik, sampai berpikir jika Hana pantas diperlakukan dengan buruk.
"Itu semua tidak benar, Hana. Tidak ada manusia yang pantas diperlakukan dengan buruk, siapapun orangnya," bantah Via dengan penuh penekanan. "Semua orang berhak dihargai dan diperlakukan dengan baik tanpa terkecuali, termasuk kau juga, Hana. Mereka tidak pantas memperlakukanmu dengan buruk, dan seharusnya merekalah yang malu karena sudah berlaku buruk pada orang lain."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.