Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 95. Hari Pertama di Tempat Baru.


__ADS_3

Keesokan harinya, Yara terbangun sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Gara-gara bertemu dengan Ryder, dia sampai memimpikan laki-laki itu dan bangun tepat dijam 2 malam. Sejak itu matanya tidak mau lagi untuk terpejam, apalagi dia takut jika tidur maka akan kembali memimpikan laki-laki itu.


Setelah selesai mandi dan bersiap, Yara segera membangunkan teman satu kamarnya. Dia lalu keluar dari kamar untuk menikmati suasana di pagi hari yang cerah ini.


Jam masih menunjukkan pukul setengah 7. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang sambil membawa alat-alat kerja mereka, juga ada beberapa yang membawa barang belanjaan yang kemungkinan baru pulang dari pasar.


"Selamat pagi, Dokter."


Yara terkesiap saat mendengar suara seseorang, dia lalu menoleh ke arah samping di mana Bunga sudah berdiri di tempat itu.


"Pagi juga, Bunga. Apa kau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Yara saat melihat pakaian Bunga sudah rapi.


Bunga menganggukkan kepalanya. "Benar, Dokter. Aku mau pergi ke kota sebentar, ada yang mau di beli." Dia tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya.


Yara ikut menganggukkan kepalanya, mereka lalu saling mengobrol di mana Bunga bertanya bagaimana kenyamaan di tempat itu. Lalu bertanya apakah ada yang harus diperbaiki, supaya lebih merasa nyaman selama berada di rumah.


"Gak ada kok Bunga, semua sudah sangat nyaman," ucap Yara. Asal tempatnya rapi dan bersih, itu sudah terasa nyaman untuknya.


Lalu fokus Yara berpindah pada seseorang yang saat ini sedang berjalan dengan temannya. Dengan menggunakan kaos berlengan pendek dan celana selutut, membuat tampilan Ryder benar-benar sangat berbeda dari yang dulu, bahkan kulitnya juga tidak seputih dan secerah dulu, walau masih terlihat putih dibandingkan yang lain.


"Dokter, apa kau mendengarku?"


Yara kembali terkesiap. "Y-ya?" Dia menatap Bunga dengan senyum canggung.


Bunga lalu memutar tubuhnya dan memicingkan mata saat melihat Ryder berjalan tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Dia lalu kembali melihat ke arah Yara dengan tersenyum penuh arti.


Yara yang paham dengan arti tatapan mata Bunga hanya menghela napas kasar. Bisa-bisanya dia menatap Ryder sampai seperti itu, hingga membuat Bunga jadi salah paham


"Ryder memang sangat tampan, Dokter. Bahkan dia laki-laki tertampan yang pernah saya lihat."

__ADS_1


Deg.


Tubuh Yara mendadak jadi kaku saat mendengar apa yang Bunga katakan, tetapi dia mencoba bersikap seperti biasa walau dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.


"Bukan cuma tampan, tapi dia juga pintar. Kalau bukan karena dia, mungkin desa ini tidak akan bisa maju seperti sekarang," ucap Bunga sambil tersenyum lebar.


Yara tetap diam sambil menatap Bunga dengan tajam. Apa yang wanita itu katakan benar-benar menciptakan sebuah pertanyaan besar dalam pikirannya, memang sejak kapan Ryder ada di desa ini? Dan apa alasannya dia tinggal di tempat ini?


"Kalau gitu saya permisi dulu, Dokter. Kalau Anda mau, saya bisa mengenalkan Anda pada Ryder,"


"Tidak!" tolak Yara dengan cepat, membuat Bunga mengernyitkan kening bingung karena melihat reaksinya. "Ma-maksudnya nanti aku akan kenalan sendiri. Pasti agak canggung kalau dikenalin segala." Dia mencoba untuk tersenyum, dan bersikap seperti biasa.


Bunga menatap Yara dengan tidak percaya, tetapi baiklah. Lain kali saja membahas tentang itu, karena saat ini dia harus segera pergi.


Ryder yang akan pergi ke pabrik seperti biasa tampak melirik ke arah Yara yang sedang bicara dengan Bunga. Dalam harinya merasa iri sekali karena wanita itu bisa leluasa berbicara dengan Yara, sementara dia? Sampai saat ini pun dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Ryder!"


"Apa kalian mau ke kota?" tanya Bunga. Malas sekali rasanya jika pergi sendirian.


Ryder dan Bayu menggelengkan kepala mereka dengan serentak. "Tidak ada yang mau kami beli." Bayu menjawab ucapan wanita itu.


"Ayo ikut aku, aku malas ke kota sendiri!" ajak Bunga, tetapi kedua laki-laki itu tidak bergeming "cih, dasar kalian." Dia lalu memakai helm dan berlalu pergi dari sana.


Ryder dan Bayu lalu kembali melanjutkan langkah mereka menuju pabrik. Merasa ada yang memperhatikannya, Ryder segera memalingkan wajah ke arah rumah yang ditempati para petugas medis. Dia lalu kembali melihat lurus ke depan sambil tersenyum tipis.


"Apa sejak tadi kau memperhatikanku, Yara? Kenapa?" Dia merasa senang sekaligus heran.


Yara yang saat ini berdiri di balik dinding tampak memegangi dadanya yang berdegup kencang. Untung saja dia langsung berlari saat laki-laki itu melihat ke arahnya, jika tidak Ryder pasti akan tahu jika sejak tadi dia meperhatikan laki-laki itu.

__ADS_1


"Dokter, Yara"


Yara tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia melihat ke arah samping di mana Ansel dan Lewis sudah berdiri di sana.


"Y-ya. Ada apa?" tanya Yara dengan gugup.


"Ayo, kita siapkan perlengkapan untuk nanti siang!" Ajak Lewis yang baru saja sampai ditempat itu, yang langsung dijawab oleh anggukan kepala Yara.


Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam rumah, di mana para suster sedang saling berbincang dan membahas masalah pemeriksaan yang akan mereka lakukan nanti.


Mereka semua lalu mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa ke tempat di mana pemeriksaan akan dilakukan, karena masyarakat telah menyiapkan tempat khusus seperti tenda medis yang akan di gunakan para petugas media untuk melakukan pemeriksaan.


Sebelumnya kepala desa sudah memberitahukan tentang pemeriksaan itu pada semua masyarakat. Supaya mereka tahu dan segera mendatangi para patugas medis untuk diperiksa.


Tepat pukul 11, Yada dan rekan-rekannya yang lain sudah tiba di tenda medis. Terlihat sudah ada beberapa orang yang berada di sana dan menyambut mereka dengan sangat antusias, membuat para Dokter dan perawat merasa senang.


Dengan ditemani 2 orang perawat, Yara mulai melakukan pemeriksaan kepada orang-orang. Dimulai dari pemeriksaan dasar seperti cek darah, denyut nadi, suhu tubuh dan yang lain sebagainya.


Para perangkat pemeriksaan desa juga datang ke tempat itu untuk memeriksa jalannya kegiatan yang sedang terjadi, tidak lupa mereka juga berkeliling untuk menghibau agar semua masyarakat segera datang ke pos medis.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ryder sedang duduk di sebuah pondok kecil yang ada di sekitar kebun teh. Dia pergi dari pabrik karena sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya.


"Apa dia melakukan pekerjaannya dengan baik?" gumam Ryder. Dia penasaran dengan pekerjaan yang sedang Yara lakukan, hingga memutuskan untuk mendatangi wanita itu.


"Tidak salah 'kan, kalau aku datang karena ingin melakukan pemeriksaan? Aku 'kan juga manusia yang bisa saja sakit, lagi pula sudah sangat lama aku tidak melakukan pemeriksaan. Aku yakin jika hatiku sekarang pasti sudah kembali menyatu, setelah hancur berkeping-keping."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2