
Awalnya lelaki itu tidak mau mengatakan alasan dia memfoto Zafran, dia bahkan tidak mengakuinya dan terus mengelak. Namun, sesaat kemudian dia memberitahukan semuanya setelah dihajar habis-habisan oleh Junior. Bukan itu saja, River juga mengancam akan melakukan hal seperti ini juga pada keluarga laki-laki itu.
"Sa-saya di suruh oleh Dion. Dia menyuruh supaya saya mengikuti Anda dan wanita itu, lalu memfoto secara diam-diam. Saya juga meretas cctv untuk mengambil foto Anda saat dulu," ucap laki-laki itu dengan terbata-bata.
Zafran tersenyum senang. Ternyata mudah saja untuk membuat mulut laki-laki itu terbuka. Sekarang dia tidak perlu membungkam media massa, cukup menunjukkan bukti ini saja maka semuanya akan selesai.
"Obati dia dan jangan sampai lepas, dia harus menjadi saksi di kantor polisi," perintah Zafran sebelum pergi dari tempat itu.
Zafran juga menyuruh Junior dan River untuk segera mengumpulkan bukti-bukti kekejaman yang telah Dion dan keluarga laki-laki itu lakukan kepada Hana. Dia ingin menuntut Dion atas pencemaran nama baik dan fitnah yang dilakukan. Bukan hanya itu saja, dia juga akan memasukkan laporan atas nama Hana, yaitu tentang KDRT dan pengrusakan mental yang telah Dion lakukan.
"Kau sendiri yang membiat dirimu hancur, Dion. Maka jangan salahkan aku," gumam Zafran.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Via sedang melihat-lihat rumah sakit dengan ditemani oleh Yara. Dia merasa sangat bangga karena menantunya telah mendirikan rumah sakit sebagus dan selengkap ini, apalagi di daerah desa dan sekitarnya tidak ada rumah sakit.
Ryder bahkan bekerja sama dengan pihak pemerintahan supaya bisa memberikan pelayanan gratis untuk masyarakat miskin, apalagi 30 persen masyarakat di daerah itu benar-benar berada di bawah garis kemiskinan.
Seketika Via teringat dengan keadaan Zafran saat ini. Dia merasa cemas dengan masalah yang sedang menjerat putranya, apalagi sang suami tidak mau diajak pulang karena percaya bahwa Zafran bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Ada apa, Ma?" tanya Yara saat melihat wajah sang mama berubah muram. "Apa Mama sedang mencemaskan Zafran?"
Via menghela napas kasar. "Bagaimana mungkin mama tidak mencemaskan adikmu, Nak? Sekarang dia sedang terkena masalah, dan mama tidak bisa menemaninya." Dia mulai terisak.
Yara segera menenangkan sang mama dan meyakinkan mamanya jika semua akan baik-baik saja. "Sebenarnya aku juga merasa sedih, Ma. Aku sedih karena tidak bisa bersama dengan Zafran saat dia merasa sedang kesulitan. Selama ini dia yang sudah banyak membantuku, dia juga membantu Ryder dan menyelamatkan nyawa suamiku. Kami benar-benar berhutang nyawa padanya, dia adikku yang sangat hebat." Dia juga ikut meneteskan air mata.
Selama ini memang Zafranlah yang selalu melindungi Yara dan menjadi tameng untul hal apapun. Zafran menjadi garda terdepan untuk melindingi dan selalu mendukung apa yang dia lakukan, bahkan Zafran juga yang menyelamatkan nyawa Ryder. Padahal dia tahu jika Zafran bukanlah adik kandungnya.
"Kenapa kalian bersedih seperti ini?"
Via dan Yara langsung memalingkan wajah mereka ke arah kanan. Terlihat Vano dan Ryder sedang berjalan ke arah mereka.
"Keadaan Zafran baik-baik saja, lalu apa yang kalian sedihkan?" tanya Vano kembali.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan, Mas. Anakku sedang terkena masalah, tetapi aku tidak bisa menemaninya," ucap Via dengan sedih.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Ma. Jangan bersedih."
Via dan Yara tersentak kaget saat mendengar suara Zafran. Ternyata Vano segala melakukan video call dengan putranya karena tahu jika istri dan putrinya merasa cemas dan khawatir.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya Via dengan sendu.
Zafran menganggukan kepalanya. Dia tersenyum sambil menatap wajah mama dan kakaknya dari layar ponsel
"Aku baik, Ma. Aku sudah berhasil menangkap laki-laki yang sudah memfoto aku dan Hana, dia juga sudah mengaku siapa yang telah menyuruhnya melakukan semua itu," ucap Zafran.
Via dan Yara langsung mengucap hamdalah saat kabar baik dari Zafran. Mereka merasa lega dan tenang karena Zafran sudah berhasil menangkap penjahat itu.
"Maaf karena kakak tidak bisa menemanimu, Dek. Mama juga ada di sini dan tidak bisa bersamamu," ucap Yara dengan rasa bersalah.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Ada banyak orang yang sedang bersamaku, om River dan tante Jean juga ada di sini. Mereka semua menemaniku, jangan lupa ada Zayyan dan Hana juga," balas Zafran, mencoba menenangkan mama dan kakaknya.
Yara dan Via mengangguk. Mereka lalu bertanya siapa yang sudah melakukan kejahatan seperti itu pada Zafran dan Hana, kemdian mereka sangat terkejut saat mengatahui siapa dalang dibalik semua itu. Namun, tidak untuk Vano dan Ryder yang sudah menduga jika Dion pelakunya.
"Dia benar-benar laki-laki yang tidak punya hati, syukurlah Hana sudah lepas dari orang seperti itu," ucap Via dengan lega.
Mereka semua lalu menemui Dokter untuk memeriksakan kandungan Yara. Terlihat Vano dan Via sangat antusias untuk melihat calon cucu mereka.
Ryder sendiri masih berdebar-debar saat melihat anaknya, padahal sebelumnya dia dan Yara sudaj memeriksakan janin itu.
"Keadaan Janin sangat sehat dan kuat, usianya baru masuk sepuluh minggu. Tetap harus banyak istirahat dan jangan melakukan pekerjaan berat," ucap Dokter itu.
Yara menganggukkan kepalanya, sementara suami dan orangtuanya sedang sibuk mempehatikan janin yanh ada dalam kandungannya.
Setelah selesai, Vano mengajak Via untuk menghabiskan waktu sore ini di tempat air terjun. Datang ke desa selain untuk mengunjungi anak dan menantu, dia juga ingin menyegarkan diri dan pikiran dari lelahnya bekerja.
Air terjun itu telah dibuka untuk umum, bahkan sudah ada beberapa orang yang bertugas untuk merawat dan membersihkannya secara rutin.
Terlihat ada beberapa anak yang sedang mandi di sungai, ada juga yang menaiki batu untuk mandi di air terjun yang lebih tinggi. Bukan hanya anak-anak saja, para orangtua juga sangat bahagia berada di tempat itu. Mereka asyik bersenda gurau dengan kekuarga dan teman.
__ADS_1
Kedatangan Vano dan Via membuat merekasemua terkejut dan langsung menyambut dengan ramah. Tentu saja warga desa sangat kenal dengan Via dan Vano, sementara beberapa orang yang berasal dari desa tetangga hanya tersenyum saja.
"Silahkan lanjutkan kegiatan Anda semua," ucap Via dengan ramah. Dia lalu mengikuti sang suami untuk duduk disebuah batu yang berada di pinggiran sungai sambil memasukkan kaki mereka ke dalam air.
*
*
Keesokan harinya, Hana kembali dipanggil oleh pihak perceraian regional untuk datang dan melanjutkan pemeriksaan lanjutan. Dia pergi bersama dengan Jean dan River, karena jika pergi dengan Zafran, maka para wartawan pasti akan heboh.
"Astaga, apa yang mereka lakukan di sini?" ucap Jean saat melihat ada banyak wartawan yang berada di depan pusat perceraian regional. Mereka pasti sengaja datang karena tahu jika Hana juga akan datang.
"Tubuhmu tidak lemas 'kan, Hana?" tanya River.
Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Saya tidak apa-apa." Walau belum sembuh total, tetapi dia merasa kuat untuk menerobos para wartawan itu.
Hati yang semula gelisah dan cemas, kini sudah tenang karena mendapat dukungan penuh dari semua orang. Apalagi saat Hana mengetahui jika Dionlah yang telah menyebarkan gosip tidak baik itu dan berusaha untuk mencemarkan nama baik Zafran, membuat hatinya terasa terbakar.
River lalu menghubungi anak buahnya yang sudah dia siapkan untuk menghalau para wartawan. Tidak berselang lama, datanglah sepuluh orang lelaki yang merupakan anak buahnya.
"Ayo, kita keluar!" ajak River sambil membuka pintu mobilnya.
Jean dan Hana menganggukkan kepala mereka dan bergegas untuk keluar. Para wartawan langsung menyerbu saat melihat kedatangan Hana, tetapi para anak buah River dengan sigap melindungi mereka dari para wartawan itu.
"Apakah Anda wanita yang digosipkan sedang menjalin hubungan dengan anak dari pengusaha besar berinisial Z. A?
"Kenapa Anda bercerai dengan suami Anda, apakah karena adanya pihak ketiga?"
"Apakah sudah sejak lama Anda mengkhianati suami Anda dan berselingkuh dengan tuan Zafran?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.