
Mahen menyesal karena tidak langsung ke rumah Vano jika tahu putrinya ada di sana, tetapi tidak rugi juga dia datang ke rumah Yara langsung karena bisa bertemu dengan Aidan.
"Apa Anda datang ke sini mau menyalahkan putraku juga?"
Mahen mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Nova, sementara Aidan langsung menarik ibunya menjauh dari tempat itu.
"Ibu ini apa-apaan sih? Apa Ibu belum puas, membuat aku dan Yara berpisah?"
Nova menatap Aidan dengan tajam. Padahal anaknya itu yang salah, tetapi sekarang malah menyalahkannya.
"Kok jadi ibu yang salah? Jelas-jelas yang salah itu kau dan dia, juga keluarganya yang sok itu."
Mahen yang memperhatikan mereka dari kejauhan merasa bingung. Dia lalu mendekati Aidan dan juga ibunya untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Cukup, Bu. Aku mohon jangan ikut campur masalahku dan Yara lagi!" ucap Aidan dengan penuh penekanan.
"Kau bilang ibu ikut campur? Yang ikut campur itu mertuamu, Aidan. Katakan pada mereka untuk menjauh dari kita,"
"Ada apa ini?"
Aidan dan Nova tersentak kaget saat Mahen sudah berdiri di belakang mereka, jelas laki-laki itu mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini.
"I-itu, itu Pa-"
"Anda jangan pura-pura tidak tahu, saya yakin Anda tiba-tiba datang ke sini pasti mau menyalahkan anak saya dan memintanya untuk menceraikan Yara,"
"Apa?"
Mahen sayang terkejut saat mendengar ucapan Nova, sontak dia melihat ke arah Aidan seakan bertanya tentang maksud dari ucapan ibunya itu.
Aidan merasa benar-benar kesal dengan sang ibu. Entah bagaimana lagi caranya agar ibunya itu tidak ikut campur, bila perlu pergi dari rumahnya saat ini juga.
"Apa maksud ibumu, Aidan? Kenapa dia berkata seperti itu?" tanya Mahen dengan tajam. Selama ini dia tidak mendengar berita apapun dari Vano dan juga Via, apalagi dari Yara yang selalu mengatakan semua baik-baik saja jika ditanya.
__ADS_1
Aidan terdiam saat mendengar pertanyaan sang mertua. Dia bingung harus berkata apa pada laki-laki itu, atau haruskah dia menceritakan semuanya dan memohon bantuan dari mertuanya?
Ya, itu ide bagus yang harus dicoba. Lagi pula Mahen sangat jauh berbeda dari Vano, laki-laki itu lebih ramah dan baik ketimbang Vano yang dingin dan terkesan sombong.
Aidan lalu mengajak Mahen untuk duduk dan meminta ibunya untuk tidak lagi ikut campur dalam urusannya. Dia lalu menceritakan semua yang telah terjadi dalam rumah tangganya, termasuk kedekatannya dengan Rosa.
Mahen mendengarkan seluruh cerita Aidan dalam diam. Sungguh dia tidak menyangka jika laki-laki itu berani menyelingkuhi putrinya, bahkan Vano dan Via sama sekali tidak memberitahukan hal ini padanya.
"Maafkan aku, Pa. Aku benar-benar khilaf, tapi percayalah jika aku tidak melakukan sesuatu di luar batas. Aku hanya sekedar dekat dan bermain di apartemennya saja," ucap Aidan setelah selesai menceritakan semuanya.
Mahen tetap diam di tempatnya membuat Aidan menatap dengan heran, dia bingung apakah mertuanya itu sedang marah atau sedang memikirkan apa yang baru saja dia ceritakan.
"Jadi, kau bilang kau dekat dengan wanita bernama Rosa?"
Setelah sekian detik, akhirnya Mahen mengeluarkan suaranya. Dia menatap Aidan dengan tajam, tentu saja dengan urat-urat yang mulai menonjol ke permukaan.
"Be-benar, Pa. Tapi aku hanya sekedar dekat saja, dan tidak lebih," ucap Aidan dengan cepat. "Tapi Zafran dan yang lainnya salah paham dengan apa yang aku lakukan."
"Kenapa kau dekat dengan wanita lain?"
Aidan lalu menceritakan tentang awal masalahnya dengan Yara, juga keikut campuran mertuanya dalam urusan rumah tangganya dengan sang istri.
"Sebagai seorang suami, tentu saja aku merasa tersinggung dan tidak punya harga diri. Aku mengaku salah karena sudah dekat dengan wanita lain, tapi saat itu aku benar-benar merasa frustasi, Pa."
Mahen terdiam dengan menahan segala gejolak yang mulai merasuki jiwa. Ingatan demi ingatan tentang masa lalu menari-nari dalam kepalanya, membuat air mata mengalir keluar dengan dada yang kian sesak.
Aidan yang melihat Mahen menangis tentu saja merasa bingung. Dengan cepat dia berpindah ke samping laki-laki itu lalu memegang lengannya.
"Ke-kenapa Papa menangis?" tanyanya dengan khawatir.
"Kau mau aku melakukannya di bagian mana, Aidan?"
Hah? Aidan merasa bingung dengan pertanyaan Mahen. "Maksudnya apa, Pa?"
__ADS_1
"Kau ingin aku menghajarmu di bagian mana, hah?"
Mahen langsung mencengkram kerah kemeja Aidan dan membantingnya ke lantai, membuat laki-laki itu memekik kesakitan.
"Beraninya kau melakukan itu pada putriku!" Mahen kembali mencengkram kerah kemeja Aidan membuat Nova berteriak. "Sekarang katakan padaku, kau ingin mati dengan cara seperti apa!"
"Lepaskan putraku!".
Prang.
Nova memukul kepala Mahen dengan vas bunga membuat kepala laki-laki itu mengeluarkan darah segar. Tentu saja hal itu membuat Aidan tersentak kaget, sementara Mahen sendiri menatap Nova dengan tajam.
"Lepaskan anakku atau aku akan membunuhmu!" ancam Nova sambil menodongkan pecahan vas bunga itu ke arah Mahen, membuat suasana sangat menyeramkan.
Bik Asih yang melihat semua itu langsung berlari keluar untuk meminta bantuan dari para tetangga, dia takut jika keadaan semakin gawat hingga jatuhnya korban jiwa.
Mahen tertawa sinis dengan apa yang terjadi saat ini. Dia yang masih berada di atas tubuh Aidan langsung beranjak darinya.
"Kau mengatakan jika Vano dan Via terlalu ikut campur dalam rumah tanggamu, hah?" Mahen menatap Aidan yang saat ini beranjak bangun dengan tajam. "Tentu saja mereka harus ikut campur saat putriku tinggal bersama dengan manusia seperti kalian."
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba pak RT dan beberapa warga masuk ke dalam rumah Aidan, mereka sangat terkejut saat melihat keadaan Mahen yang bermandikan darah.
"Apa yang terjadi, Pak Aidan?" tanya RT itu pada Aidan.
"Jangan bertanya padanya, karena dia bukan manusia."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.