Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 58. Merasa Terpesona.


__ADS_3

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Ryder, dia merasa tidak percaya diri dengan tubuh atletisnya yang selalu di pamerkan pada setiap wanita.


Otot-otot yang yang selama ini dia bentuk dengan rajin berolahraga, terasa tidak berguna sama sekali. Jangankan merasa kagum, bahkan Yara sama sekali tidak melihatnya.


"Aku akan membersihkan lukanya."


Yara segera membersihkan luka diperut Ryder, sementara laki-laki itu terus terdiam sambil merasa jika tubuhnya sama sekali tidak berguna.


Tidak berselang lama, kedua orang tua Ryder terbangun dari tidur mereka. Mereka merasa terkejut saat melihat keberadaan Yara.


"Loh, apa kita kesiangan, Pa?"


Adena langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja untuk melihat jam, dan ternyata sekarang masih pukul 8 kurang 15 menit.


"Enggak kok Tante, memang aku yang datang cepat," ucap Yara membuat sepasang suami istri itu langsung menoleh ke arahnya.


"Wah, tante pikir kesiangan." Adena beranjak dari sofa sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya, membuat Yara menatap dengan sayu.


Setelah itu Yara menyelesaikan pekerjaannya, sementara Ryder tetap diam sambil merenungi apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Sudah siap, sekarang kau bisa kembali memakai pakaian," ucap Yara sambil membereskan alat-alat tempurnya.


Yara yang akan beranjak pergi mengernyitkan kening saat melihat Ryder tetap diam seperti patung.


"Ryder, apa kau mendengarku?" Yara mengibaskan tangannya di depan wajah Ryder membuat laki-laki itu terkesiap.


"Apa kau tidak menyukai tubuhku?"


"Hah?"


Yara merasa terkejut dan juga bingung saat mendengar pertanyaan Ryder, sementara kedua orang tua laki-laki itu langsung menatap putra mereka dengan tajam.


"Ma-maksudku, apakah tubuhku bagus?" Ryder meralat ucapannya. "Kau kan wanita, pasti bisa menilai bagaimana tubuhku ini."


Yara menghela napas kasar saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Kau mau ikut pemilihan tubuh terbagus?"

__ADS_1


"Tidak." Ryder menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu tidak usah bertanya padaku, karena aku tidak pandai menilai tubuh seseorang. Bagiku semua lelaki sama, yang membuat mereka tampak bagus adalah sifat dan karakternya. Bukan bentuk tubuh mereka."


Yara lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Sontak Eric dan juga Adena tertawa saat mengingat ucapan Yara, apalagi ditambah dengan raut wajah Ryder yang terlihat sangat kecewa.


"Apa Mama dan Papa tidak mau pulang?" tanya Ryder dengan geram membuat tawa kedua orang tuanya semakin lebar.


"Hahahaha, Ryder ... Ryder, kau benar-benar tidak berhasil. Kau pikir badan busukmu itu bisa menarik perhatian Yara?"


"Apa, busuk kata Papa?" Ryder menatap papanya dengan tajam. "Dibanding badan Papa, badanku jauh lebih bagus. Cih." Dia membuang muka sebal.


"Bagus kalau enggak bisa menarik perhatian Yara untuk apa? Hahaha."


Ryder mengepalkan kedua tangannya dengan erat karena tidak bisa membantah ucapan sang papa, sementara Adena hanya tertawa saja saat melihat pertengkaran antara anak dan juga suaminya.


"Assalamu'alaikum."


Tiba-tiba keramaian yang ada di ruangan itu langsung terhenti saat mendengar suara seseorang sedang mengucap salam, dengan cepat Adena berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang ada di luar sana.


"Ah, saya adalah orang tuanya Yara. Apa benar, ini ruangan pasien yang sedang dirawat oleh putri saya?"


"A-anda, besan saya?"


"Ma-maaf?"


Via yang ternyata datang ke rumah sakit untuk mengantar makanan terkejut saat mendengar ucapan wanita itu, begitu juga dengan Zafran yang berdiri di belakangnya.


"Ma-maksud saya, Anda mamanya Dokter Yara?"


Via mengangguk dengan senyum lebar, membuat Adena langsung memeluk tubuhnya.


"Senang bertemu dengan Anda, saya Adena. Mamanya Ryder." Adena melerai pelukannya lalu mengulurkan tangan pada Via.


Via langsung menjabat tangan wanita itu. "Saya Via, Anda bisa memanggil nama saja tanpa menggunakan bahasa formal." Dia melepaskan jabatan tangan mereka.

__ADS_1


"Benarkah? Apa kita bisa menjadi akrab?"


Via langsung mengangguk membuat Adena memeluk lengannya dan membawanya masuk ke dalam ruangan itu, sepertinya mereka melupakan Zafran yang menatap mereka dengan helaan napas frustasi.


Ryder yang akan beranjak turun dari ranjang tidak jadi menggerakkan tubuhnya saat melihat kedatangan Via. Matanya membulat sempurna, dengan mulut terbuka lebar.


"Si-siapa dia?" Ryder merasa terpesona saat melihat wajah wanita paruh baya itu, tetapi kenapa wajah wanita sangat mirip dengan seseorang?


"Mama sudah sampai?"


Ryder terkesiap saat mendengar panggilan Yara terhadap wanita itu. "Ma-mama?"


"Iya, Nak. Mama langsung ke sini karena kau gak jawab telepon mama," ucap Via sambil duduk di sofa dan meletakkan barang bawaannya di atas meja.


Yara tersenyum lalu mengatakan jika tadi sedang diskusi dengan Dokter lain, itu sebabnya tidak bisa menjawab telepon.


"Aku melihat Zafran di luar, kenapa dia tidak masuk?"


"Astaghfirullah, mama lupa Sayang." Via langsung menepuk keningnya karena melupakan keberadaan Zafran, membuat Yara dan Adena langsung terkekeh.


"Sudah kuduga." Yara menggelengkan kepalanya dan bergegas keluar dari ruangan itu untuk mengajak Zafran masuk, dia mengira jika adiknya memang tidak mau masuk ke dalam.


Via lalu melihat ke arah Ryder yang terus menatapnya dari atas ranjang. Dia tersenyum sambil beranjak bangun dari sofa, lalu berjalan ke arah laki-laki itu sembari membawa buah-buahan yang dibawa.


"Maaf karena baru bisa menjenguk sekarang, Ryder. Ini ada sedikit buah-buahan untukmu."


Ryder langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Via. "Ti-tidak apa-apa, Tante. Terima kasih." Dia menerima buah-buahan itu dan meletakkannya di atas meja yang ada di samping ranjang.


"Pantas saja kedua ayah Yara jatuh cinta pada ibunya, ternyata ibunya memang benar-benar sangat cantik."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2