
Hana berdiri tepat di hadapan Zafran sambil menundukkan kepala dengan tangan saling bertautan. Setelah berkata akan bertanggung jawab, dia malah tidak berani menatap wajah laki-laki itu.
Zafran menghela napas kasar. "Ikut aku!" Dia lalu berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya berada membuat semua orang yang ada di tempat itu saling menatap heran, terutama Hana yang langsung panik mendengar ajakan Zafran.
Semua orang lalu bubar dari tempat itu dan melanjutkan aktivitas masing-masing, kecuali Hana yang saat ini sedang menghadap Fathir seolah menjadi tersangka yang akan diadili.
"Dunia ini sangat luas, tapi kenapa aku selalu bertemu denganmu sih?" ucap Zafran dengan kesal. Kekesalannya itu semakin bertambah saat melihat keadaannya mobilnya.
Hana semakin mengkerut takut saat mendengar ucapan Zafran. Namun, dia juga tidak tahu kenapa selalu bertemu dengan laki-laki itu. Memangnya dia Tuhan, yang tahu tentang segalanya?
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan tadi, kenapa kau bisa menyebrang sembarangan seperti itu?" tanya Zafran dengan tajam.
Hana menelan salivenya dengan susah payah. Dia bingung harus menjawab apa, karena memang tadi dia tidak melihat jika ada mobil yang sedang melintas dan hanya melihat lurus ke depan saja.
"Ma-maaf. Saya, saya tidak berhati-hati," ucap Hana dengan lirih. Tautan kedua tangannya semakin menguat dengan takut.
Zafran mengusap wajahnya dengan kasar mendengar jawaban Hana, kepalanya semakin berdenyut sakit gara-gara wanita itu saat ini. Lebih baik dia akhiri segalanya, toh wanita itu juga tidak terluka.
"Sudahlah. Lain kali tolong berhati-hati karena bukan kau saja yang punya nyawa, tapi orang lain juga punya. Bagaimana jadinya jika tadi sampai terjadi kecelakaan yang melibatkan banyak orang?" ucap Zafran dengan ketus membuat Hana kembali mengucapkan kata maaf.
Zafran lalu menyuruh Hana untuk pergi dari hadapannya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Dia harus segera menghubungi Junior agar menjemputnya di bengkel karena saat ini dia harus membawa mobil kesayangannya untuk diperbaiki.
Hana yang sudah berlalu pergi melangkahkan kakinya dengan gontai. Dia lalu duduk di taman yang berada tidak jauh dari tempat itu untuk menenangkan diri. Jika sudah berada di rumah, maka dia hanya akan mendapat cacian dan makian saja.
"Ya Tuhan, bisa-bisanya aku melakukan hal bod*oh seperti itu," gumam Hana sambil merutuki kebod*ohannya sendiri. Untung saja nyawanya masih selamat, jika tidak maka dia sudah berada di dunia lain.
Hana lalu menyandarkan tubuh sambil menatap pepohon rindang yang ada di atasnya. Semilir angin menerbangkan rambutnya yang tergerai indah, dia bahkan sampai kehilangan ikat rambut yang biasa dipakai karena kejadian beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Mama pasti akan marah lagi karena aku pulang terlambat," gumam Hana sambil menghela napas berat. Dia lalu melirik ke arah belanjannya yang terletak di atas rerumputan. Tidak sebanyak yang tadi dia beli karena sebagian sudah terinjak oleh orang-orang yang berkerumun tadi.
Tidak mau semakin membuat mertuanya menunggu lama, Hana bergegas pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumah. Untung saja jarak rumahnya dan pasar tidak terlalu jauh, itu sebabnya dia tidak pernah naik taksi jika sedang belanja.
Beberapa saat kemudian, Hana sudah sampaidi dalam pekarangan rumah bersamaan dengan kedatangan sang suami. Dia bergegas meletakkan belanjaan yang sedang dibawa untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Mas sudah pulang?" ucap Hana sambil tersenyum manis ke arah Dion yang baru saja keluar dari mobil.
Dion mengangguk sambil menyerahkan tas kerjanya kepada Hana. Dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh wanita itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan sang mama yang berdiri tepat di ambang pintu.
"Ada apa, Ma? Kenapa berdiri di situ?" tanya Dion dengan heran saat mamanya menghalangi jalan.
Reny menatap Hana dengan tajam tanpa mempedulikan ucapan Dion, membuat laki-laki itu ikut melihat ke arah sang istri.
"Dari mana saja kamu, hah?" bentak Reny dengan tajam.
"Kenapa diam, kau pasti berkeliaran ke mana-mana 'kan?" tuduh Reny.
Hana langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar tuduhan sang mertua. "Ti-tidak, Ma. Aku, aku tidak-"
"Tidak, tidak. Kau selalu saja banyak alasan seperti itu," potong Reny dengan sarkas.
Dion yang merasa lelah langsung menghentikan kemarahan sang mama. "Sebenarnya ada apa sih, Ma? Kepalaku sakit mendengar omelan Mama setiap hari." Dia berucap dengan kesal.
Reny langsung menunjuk ke arah Hana yang menatapnya dengan sendu. "Lihat istrimu ini, lihat! Sudah sejak tadi dia pergi ke pasar dan baru kembali jam segini, dia pasti berkeliaran ke mana-mana!" Dia kembali melayangkan tuduhan yang tidak berdasar pada Hana.
"Tidak, Ma. Aku, aku tidak berkeliaran. Tadi, tadi aku hampir ditabrak oleh mobil," bantah Hana dengam cepat sebelum mendapat murka dari sang suami.
__ADS_1
"Halah, kau memang pandai sekali mencari alasan. Dasar wanita kampung!" Reny langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
Dada Hana kembali berdenyut sakit saat lagi-lagi mendapat cacian dari sang mertua. Dia tahu jika sejak awal tidak ada yang menyukainya, tetapi perbuatan mereka semakin hari semakin menjadi-jadi membuat hidupnya terasa seperti di neraka.
"Ikut aku!"
Tubuh Hana kembali tersentak kaget saat ditarik paksa oleh Dion, bahkan sampai membuat belanjaan yang ada ditangannya berjatuhan ke lantai.
"Se-sebentar, Mas. Aku harus-" Hana tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dan menohok dari sang suami. Dia terpaksa mengikuti laki-laki itu ke kamar dan membiarkan barang belanjaannya berserakan di atas lantai.
Sesampainya di kamar, Hana berdiri dengan tubuh gemetaran di hadapan Dion yang saat ini menatap dengan gurat kemarahan.
"Apa tidak bisa sehari saja kau tidak membuat masalah, Hana?" tanya Dion dengan penuh penekanan, dia lalu kembali menarik tangan Hana hingga wanita itu mengernyit kesakitan. "Apa tidak bisa sehari saja kau membuat rumah ini tenang, hah?" Bentaknya sambil menghempaskan tangan Hana.
Hana memegangi pergelangan tangannya yang berdenyut sakit. "Ma-maaf, Mas. Aku, aku tidak bermaksud untuk-"
"Kenapa kau selalu saja membuat mama marah, apa tidak bisa kau menjadi menantu yang patuh dan menurut padanya?" ucap Dion kembali dengan tajam.
Hana menatap Dion dengan nyalang. Kurang patuh apalagi dia selama ini dengan orantua laki-laki itu? Dia bahkan tidak pernah melawan walau terus dicaci maki seperti tadi.
"Seharusnya kau bersyukur tinggal di rumah ini. Jika bukan kami, siapa lagi yang akan memperlakukanmu dengan baik?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.