Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 142. Bukti-bukti yang Terekam.


__ADS_3

Bayu tersenyum puas saat melihat berkas-berkas yang ada di hadapannya. Setelah menunggu lama bahkan sampai mengeluarkan banyak uang, akhirnya sebentar lagi dia akan memiliki perkebunan itu beserta pabriknya.


"Pak!"


Bayu lalu menoleh ke arah salah satu anak buahnya. "Apa?" Dia bertanya dengan tajam.


Laki-laki itu lalu melaporkan jika tadi dia melihat Ryder dan Zafran mengunjungi rumah Edward, lalu sampai sekarang mereka belum kembali juga.


"Awasi saja mereka dari jauh," perintah Bayu. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk menemui kepala desa, karena dia harus mendapatkan tanda tangan laki-laki itu juga sebagai seorang saksi.


Setelah selesai berbicara dengan Edward dan menyusun rencana, Ryder serta Zafran beranjak pergi dari tempat itu. Masih ada banyak hal yang harus mereka lakukan untuk membongkar kebusukan Bayu.


"Ayo kita ke pabrik, aku ingin melihat beberapa cctv yang terpasang di sana!" ajak Ryder.


Zafran mengangguk, lalu mereka segera pergi menuju pabrik. Namun, sebelum itu mereka singgah sebentar untuk menemui Yara yang sedang sibuk menyiapkan acara perpisahan untuk semua masyarakat desa.


"Bagaimana, apa kalian sudah bicara dengan laki-laki itu?" tanya Yara.


Ryder mengangguk. "Kau tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja. Tapi, sepertinya Zafran harus tetap berada di sini sampai masalah itu selesai, apa tidak apa-apa jika kau kembali bersama yang lain?" Dia merasa cemas.


"Tentu saja. Aku akan kembali bersama dengan mereka. Lagi pula besok Direktur juga akan datang untuk menjemput kami, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Khawatirkanlah dirimu sendiri," sahut Yara.


Ryder kembali mengangguk. Semoga saja semuanya cepat selesai agar dia bisa kembali pulang ke rumah orangtuanya untuk membahas pernikahannya dan Yara, dia tidak mau lagi menundanya terlalu lama.


Setelah berada cukup lama di tempat itu, Ryder dan Zafran kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pabrik.


Yara menatap kedua laki-laki itu dengan sendu. Dia selalu berdo'a agar mereka baik-baik saja, dan semua masalah cepat selesai.


"Assalamu'alaikum."


Yara tersentak kaget saat mendengar salam seseorang, seketika dia menoleh ke arah belakang untuk melihat orang tersebut.


"Wa-wa'alaikum salam, Bayu," jawab Yara dengan tergagap.


"Maaf, apa saya mengagetkan Anda, Dokter?" tanya Bayu dengan ramah sambil menebar senyuman.


Yara berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya karena keberadaan laki-laki itu. "Tentu saja, Bayu. Untung saja jantung saya tidak melompat keluar." Dia mencoba untuk bersikap biasa saja.

__ADS_1


Bayu langsung tergelak saat mendengarnya. Dia lalu bertanya bagaimana persiapan untuk acara perpisahan sore nanti, apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak.


"Untuk makanannya sedang disiapkan oleh para ibu-ibu. Mereka sangat bersemangat sekali, saya jadi ikut bersemangat juga," ucap Yara. Dia ingin membuat agar Bayu merasa nyaman bicara dengannya, mungkin saja dia bisa mencari celah untuk membantu Ryder dan Zafran.


"Ya, mereka memang sangat bersemangat. Tidak seperti anak-anak mudanya, yang taunya hanya main dan mengkonsumsi obat-obatan," sahut Bayu.


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lalu mengajak Bayu untuk bergabung dengan yang lainnya yang kini sedang menghias lokasi yang akan mereka gunakan.


Bayu diam sejenak, menimbang-nimbang apakah akan menerima ajakan Yara atau tidak karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


"Ayolah, kami masih kekurangan orang! Jika mengharapkan Ryder dan Zafran, maka tidak akan selesai," ucap Yara.


"Apa mereka tidak kemari?" tanya Bayu.


Yara lalu mengatakan jika Ryder dan Zafran tadi sempat datang, tetapi pergi lagi ke pabrik karena masih ada pekerjaan yang harua dilakukan.


Akhirnya Bayu memutuskan untuk membantu Yara, entah kenapa dia merasa tertarik dengan ajakan wanita itu. Apa karena besok Yara akan kembali ke kota?


"Apa Anda tidak akan kembali ke sini?" tanya Bayu sambil membantu Yara menempelkan berbagai macam hiasan.


Yara menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Mungkin tidak, saya kan harus kerja di sana." Dia menjawab sambil memperhatikan semua kegiatan yang Bayu lakukan.


Dari kejauhan, Lewis dan Ansel terus memperhatikan apa yang Yara lakukan. Mereka merasa heran kenapa tiba-tiba wanita itu akrab dengan Bayu, padahal selama ini mereka berdua hanya sekedar salung tegur sapa saja.


"Tidak mungkin 'kan, kalau Dokter Yara menyukai Bayu?" ucap Lewis. Dia lalu mengernyit kesakitan dengan suara tertahan saat tiba-tiba Ansel menginjak kakinya. "Apa yang kau lakukan?" Dia menatap dengan tajam.


"Makanya, punya mulut itu dijaga. Memangnya Dokter Yara udah gila apa?" hardik Ansel dengan tajam. "Mana mungkin dia suka dengan Bayu sementara ada tuan Ryder yang sangat sempurna di hadapannya, memangnya dia tidak waras?" Dia jadi merasa kesal sendiri.


"Cih! Aku 'kan cuma bilang." Lewis mencebikkan bibirnya. "Tapi, kenapa mereka dekat seperti itu?"


Ansel mengendikkan bahunya. Dia lalu mengajak Lewis untuk terus mengawasi kedua orang itu, dia takut terjadi sesuatu dengan Yara. Kalau sampai itu terjadi, mungkin mereka semua akan dibinasakan oleh Ryder.


Pada saat yang sama, Ryder dan Zafran sudah sampai di pabrik. Mereka langsung menuju ruang kerja Ryder untuk memasang cctv yang sempat dia pasang beberapa waktu yang lalu.


"Dulu di sini sama sekali tidak ada cctv, itu sebabnya aku langsung menyuruh orang dari kota untuk memasangnya," ucap Ryder saat sudah berada di dalam ruang kerjanya.


"Apa bajing*an itu juga tahu?" tanya Zafran. Percuma saja Ryder memeriksa cctv jika Bayu mengetahuinya, pasti laki-laki itu sudah mempersiapkan semuanya.

__ADS_1


Ryder menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya aku dan kakek Domi yang tahu soal cctv ini. Aku sengaja merahasiakanya karena ingin memeriksa langsung bagaimana pekerjaan laki-laki itu. Tapi, tidak disemua tempat ada CCTV. Aku hanya memasang beberapa saja."


Zafran menghela napas lega. Tidak apa-apa jika hanya ada beberapa CCTV saja, itu jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.


Ryder lalu menyalakan laptopnya untuk segera memeriksa CCTV itu, begitu juga dengan Zafran yang sudah menyiapkan tatapan tajamnya.


Beberapa tayangan berputar di layar laptop itu, tetapi belum ada sesuatu yang tampak mencurigakan. Apalagi ada banyak sekali tayangan, membuat kedua laki-laki itu bingung ingin memeriksa dibagian mana.


"Coba periksa untuk beberapa hari belakangan ini, juga saat di malam hari," ucap Zafran.


Ryder mengangguk sambil melakukan sesuai dengan ucapan Zafran. Kedua mata mereka benar-benar memperhatikan tayangan-tayangan itu dengan serius, karena tidak ingin ada yang terlewat.


"Lihat itu!" seru Zafran saat melihat Bayu memasuki pabrik tepat pukul dua dini hari, dan dilakukan beberapa hari yang lalu.


Terlihat Bayu memasuki pabrik bersama dengan dua orang laki-laki yang tadi malam mengejar Zafran. Mereka berjalan ke arah gudang yang ada di bagian paling ujung.


"Si*al. Tidak ada lagi cctv di tempat itu," pekik Ryder dengan kesal. Dia merasa penasaran apa yang Bayu lakukan di gudang belakang.


"Apa selama ini dia menggelapkan bahan yang keluar dari pabrik?" gumam Ryder. Dia baru ingat jika gudang itu berisi bahan-bahan yang akan dikirim keluar.


Mendengar ucapan Ryder, Zafran segera mengotak-ngatik laptop itu untuk mempercepat tayangan CCTV itu, dan benar saja. Bayu kembali terlihat sambil membawa beberapa boks berisi bahan-bahan pabrik. Bukan itu saja, mereka bahkan bisa melihat para pekerja dibagian gudang dan juga petugas keamanan membantu perbuatan Bayu.


"Bagus, bagus sekali," gumam Ryder sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ternyata selama ini banyak orang-orang yang bermain dibelakangnya.


Zafran masih terus mengumpulkan semua kebusukan Bayu selama ini, dan semua tayangan CCTV itu pasti sangat bagus sekali diputar saat acara perpisahan sore nanti.


"Terus kumpulkan semua buktinya, Zaf. Aku harus menemui manajer," ucap Ryder.


Zafran mengangguk paham, lalu Ryder segera beranjak keluar dari ruangan itu untuk meminta nama-nama semua pekerja yang bekerja dibagian gudang.


"Kau tunggu saja, Bayu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2