Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab.17. Hancurnya Cinta dan Kepercayaan.


__ADS_3

Zafran melemparkan puluhan foto tepat ke tubuh Aidan membuat laki-laki itu terkesiap, begitu juga dengan Yara dan juga Nova yang terkejut saat melihat aksinya.


"Kau mengatakan jika kau tidak berdua dengannya, 'kan? Coba tunjukkan di bagian mana kalian tidak berduaan di apartemen itu!" ucap Zafran dengan penuh penekanan.


Aidan terdiam dengan tubuh kaku dan jantung berdegup kencang. Dia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang laki-laki itu lemparkan padanya saat ini.


"I-itu, itu-"


"Kau mau bilang kalau teman-temanmu tidak tertangkap cctv?"


Aidan semakin tidak bisa berpikir karena terus di pojokkan oleh Zafran, sementara Zafran tersenyum sinis lalu beralih melihat ke arah sang kakak.


"Ini rekaman cctv sejak pertama kali laki-laki itu datang ke apartemen itu, Mbak. Dan tidak ada satu pun orang yang datang ke sana kecuali dia."


Zafran memberikan sebuah flashdisk ke tangan Yara yang sejak tadi diam dengan mata mulai mengembun, dia lalu menggenggam tangan sang kakak seolah memberi wanita itu kekuatan dan dukungan.


Yara menganggukkan kepalanya lalu menghapus air mata yang mulai menetes membasahi wajah. Matanya lalu melihat ke arah tangan Zafran yang terluka, jelas luka itu disebabkan karena pukulan yang adiknya layangkan pada Aidan.


"Kenapa tidak mengobati tanganmu, Zaf?" tanya Yara dengan bergetar sambil menatap sang adik dengan sendu.


Zafran tersenyum. Dia tahu jika sang kakak sudah mengerti dan paham dengan apa yang dia lakukan saat ini.


"Jangan menangis. Lukaku tidak berarti apapun dibanding dengan Mbak, jadi aku mohon sembuhkan luka dihati Mbak dan jangan biarkan laki-laki itu semakin memperbudak rasa cinta yang Mbak miliki."


Yara mengangguk paham dengan kepala tertunduk, sementara Aidan mulai cemas dan mencoba untuk memikirkan alasan yang harus dia berikan pada Yara.


"Terima kasih, Zaf. Sekarang pulang dan istirahatlah, jangan lupa obati tanganmu ini."


Yara mengusap punggung tangan Zafran yang terluka, lalu adiknya itu mengangguk sambil melirik ke arah Aidan.


"Aku pulang, Mbak. Besok aku akan datang ke sini untuk menjemputmu."


Yara memalingkan wajah yang sudah terisak membuat Aidan kian meradang, sementara Zafran sudah berbalik dan pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Nova yang sejak tadi diam karena terkejut dengan semuanya mulai memperhatikan foto-foto yang Zafran berikan. Kedua tangannya terkepal erat karena paham dengan apa yang putranya itu lakukan di belakang Yara.


"Yara, aku mohon dengarkan aku-"


Yara mengangkat tangannya membuat ucapan Aidan langsung terhenti. Laki-laki itu terkejut karena untuk pertama kalinya Yara melakukan hal seperti itu, begitu juga dengan Nova yang menatap sang menantu dengan nanar.


Yara menarik napas panjang dan mencoba untuk menenangkan hatinya yang sudah akan meledak, dia lalu berjongkok dan memunguti foto-foto yang berserakan di atas lantai.


Melihat itu, tentu membuat Aidan ikut berjongkok dan menatap Yara dengan sendu. Rasa bersalah merasuki relung hatinya, apalagi saat melihat ekspresi sang istri saat ini.


"Apa maksud semua ini, Aidan? Kau, kau selingkuh dengan wanita itu?" tanya Mona dengan tajam membuat Aidan mendongakkan kepalanya. Laki-laki itu lalu kembali berdiri, dan menatapnya dengan sendu.


"Aku, aku tidak bermaksud seperti itu, Bu. Aku hanya, hanya-"


Plak.


Sebuah tamparan melayang ke wajah Aidan membuat laki-laki itu terkesiap, begitu juga dengan Yara yang sudah mengumpulkan foto-foto itu.


"Beraninya kau berhubungan dengan wanita lain dan mengkhianati istrimu!"


Aidan terdiam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia benar-benar sangat menyesal telah lupa diri, bahkan sampai melakukan hal seperti itu.


"Aku tunggu di kamar, Mas."


Aidan langsung menoleh ke arah Yara yang sudah beranjak pergi menaiki anak tangga, begitu juga dengan Nova yang mengerti jika saat ini menantunya itu pasti sangat terluka.


"Ibu benar-benar tidak menyangka kau sanggup melakukan hal serendah ini, Aidan. Ibu benar-benar kecewa denganmu."


Nova ikut berbalik dan berlalu pergi ke kamarnya membuat hati Aidan terasa sakit. Dia lalu beranjak menaiki anak tangga dan pergi ke kamar untuk menemui Yara.


Yara duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Tangannya masih memegang bukti-bukti pengkhianatan suaminya, dan tentu saja membuat hatinya hancur berkeping-keping.


"Sampai hati kau melakukan semua ini padaku, Mas."

__ADS_1


Bibir Yara bergetar dengan sekujur tubuh yang juga ikut bergetar menahan rasa sakit dan kecewa, hingga tanpa sadar jika Aidan sudah berdiri di sampingnya.


"Yara."


Yara tersentak dan dengan cepat menghapus air mata yang menetes di wajahnya, tetapi sama sekali tidak melihat ke arah sang suami.


"Apa semua ini, Mas? Inikah pekerjaan yang kau lakukan beberapa hari belakangan ini?"


Suara Yara terdengar sangat lirih dan bergetar. Dengan susah payah dia mengeluarkan suara di tengah rasa sakit yang menyesakkan dada.


"Maafkan aku, Yara. Maafkan aku."


Habis sudah. Aidan tidak bisa lagi berkelit saat ini karena semua bukti yang Zafran berikan benar-benar menunjukkan perselingkuhan yang dia lakukan.


Yara memejamkan kedua matanya dengan penuh kecewa saat mendengar ucapan maaf yang Aidan katakan. Hatinya terasa bak ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum, dan rasanya sungguh sangat sakit sekali.


"Setiap malam sampai dini hari kau terus bersamanya, tanpa memikirkan jika istrimu terus menunggu dengan perasaan gelisah dan khawatir."


Kepala Aidan semakin tertunduk. Dia salah, dia mengaku salah karena tidak bisa mengendalikan diri dan terbawa dengan napsu semata.


"Maafkan aku, Yara. Sungguh aku sangat menyesal. Aku, aku khilaf."


Rasa sakit dan kecewa menyelimuti hati Yara saat ini. Bagaimana mungkin suami yang sangat dia cintai tega mengkhianatinya seperti ini? Kurangkah kasih sayang yang selama ini dia berikan, atau sudah hilangkah perasaan cinta yang suaminya miliki untuknya?


Kedua tangan Yara terkepal erat menahan rasa sakit yang teramat dalam. Sungguh tidak pernah dia bayangkan jika Aidan menduakan cintanya seperti ini.


"Kita berpisah saja, Mas."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2