
Ryder yang sedang istirahat langsung membuka kedua matanya saat mendengar langkah kaki masuk ke dalam ruangan. Bukan hanya satu orang, Ryder merasa jika ada beberapa orang yang memasuki tempat itu.
Ryder langsung beranjak duduk saat melihat seorang wanita berdiri tepat di hadapannya, sementara wanita itu menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya.
"Selamat pagi, Tuan. Perkenalkan, nama saya Yara." Yara memperkenalkan diri dengan ramah, membuat Vano mencebikkan bibirnya.
"Cih, ngapain juga harus ramah sama laki-laki modelan kayak gitu. Lihat, dia bahkan tidak mengelurkan suara dan hanya menatap putriku saja."
Belum apa-apa, Vano sudah merasa kesal melihat Ryder walaupun laki-laki itu tidak melakukan apa-apa.
"Kau lihat, Ryder. Kami sudah membawa Yara ke hadapanmu, jadi bersikaplah yang baik dan juga sopan padanya," ucap Eric dengan tajam, tetapi air wajah Ryder tidak berubah sama sekali.
"Dan ini adalah Tuan Vano, beliau ayahnya Yara."
Ryder langsung menganggukkan kepalanya dan di balas dengan anggukan kepala Vano. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Silahkan duduk." Dia beranjak turun dari ranjang membuat Yara refleks memegangi tubuhnya.
"Anda mau ke mana?" tanya Yara dengan mata yang melotot tajam.
"Hem, aku mau turun. Memangnya perlu di tanya lagi?"
Kedua orang tua Ryder hanya bisa menghela napas kasar sambil menunduk di hadapan Vano, sementara Vano sendiri terus memperhatikan laki-laki itu dan juga putrinya.
"Saya mengerti. Hanya saja kondisi Anda masih seperti ini, jadi tolong berbaringlah di ranjang."
Ryder langsung mengikuti apa yang Yara ucapkan tanpa adanya bantahan, tentu saja apa yang dia lakukan membuat Eric dan Adena membulatkan mata.
"Pa, anakmu sudah menemukan pawangnya."
Eric langsung memalingkan wajah ke arah sang istri. "Apa maksudmu, Ma?" Dia tidak mengerti apa yang istrinya katakan.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Adena langsung mempersilahkan Vano dan juga Ruver untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tentu saja dengan diikuti oleh Eric juga.
"Sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu padanya," ucap Vano sambil menatap Ryder dengan tajam. Tentu saja laki-laki itu paham jika dia ingin bicara.
"Silahkan tanya apapun yang Anda inginkan, Tuan. Jika Anda bertanya apakah saya punya kekasih, maka jawabannya adalah tidak. Saya tidak punya kekasih dari lahir sampai sekarang, jadi saya masih suci lahir san batin."
Semua orang tercengang saat mendengar ucapan panjang kali lebar kali tinggi dari Ryder, bahkan Eric yang akan duduk di sofa mendadak jadi kaku dengan tubuh yang sudah menungging.
Vano sendiri menatap Ryder dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang sangat pede seperti itu? Padahal dia sama sekali tidak peduli apakah Ryder punya kekasih atau tidak.
"Aku tidak peduli tentang itu." Vano menekankan setiap ucapannya agar Ryder sadar diri. "Aku ingin tanya, kenapa kau meminta putriku untuk merawatmu?"
Eric dan Adena memukul kening mereka melihat kepedean tingkat dewa putra mereka, sementara Ryder tidak peduli sama sekali dan malah tersenyum tipis. Dia suka melihat sikap Vano yang langsung berterus terang.
"Saya merasa kalau putri Anda sangat hebat, karena dia telah menyelamatkan nyawa saya. Tidak ada Dokter yang lebih baik dari dia, itu sebabnya saya hanya ingin dirawat olehnya."
Wajah Yara langsung memerah saat mendengar ucapan Ryder, sementara Ryder juga sangat bangga pada diri sendiri karena bisa mengeluarkan kata-kata se-epic itu.
"Baiklah. Aku akan mengizinkan putriku untuk merawatmu, hanya saja kau harus tau jika dia bukan wanita sembarangan. Jika aku mendengar ada sesuatu yang salah, maka kau akan langsung berhadapan denganku."
Vano mengulas senyum tipis yang tampak menyeramkan dimata semua orang, bahkan Yara saja sampai menelan salivenya dengan kasar jika sang papa sudah dalam mode devil.
"Tentu saja, Tuan. Saya akan menghormati dan memperlakukannya dengan baik, seperti kekasih saya sendiri,"
"Ryder!"
Eric ingin sekali menarik mulut putranya yang sedang memantik kobaran api, tetapi Ryder langsung tergelak di tempatnya.
"Aku hanya bercanda, Pa. Kenapa Papa serius sekali,"
__ADS_1
"Dasar pembohong!"
Ingin sekali Eric dan juga Adena berteriak seperti itu di hadapan Ryder, jelas mereka sudah paham betul bagaimana sifat dan karakter laki-laki itu.
Setelah mengantar Yara dan bicara langsung dengan Ryder, Vano dan River lalu pergi menuju perusahaan Mahen. Eric dan Adena juga beranjak pergi dari tempat itu, tentu saja karena diusir oleh Ryder.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi ke ruangan Dokter Tiara sebentar, Tuan. Saya harus melihat catatan medis Anda."
Ryder menganggukkan kepalanya. "Pergilah, tapi kembali dengan panggilan yang lebih akrab."
Yara mengernyitkan kening bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Panggilan yang lebih akrab?"
"Ya. Aku tidak mau orang-orang mengira kau sedang merawat laki-laki tua bangka."
Yara menghela napas kasar. Bagaimana mungkin orang akan berpikir seperti itu saat melihat wajah Ryder yang masih sangat muda? Orang gila pun tidak akan mengatai laki-laki itu tua bangka.
"Bagaimana? Apa kau setuju?"
Yara terkesiap dan refleks menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau gitu saya pergi dulu." Dia lalu berbalik dan segera keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di luar ruangan, Yara menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dirinya benar-benar sangat syok dengan sifat dan karakter laki-laki yang akan dirawat. Dia mengira jika Ryder akan memiliki sifat yang sama dengan papa Vano, tetapi kenyataannya sangat berbanding terbalik sekali.
"Dia ingin menjadi akrab?" Yara mengingat ucapan Ryder beberapa saat yang lalu. "Sebenarnya dia ingin kami menjadi seakrab apa?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.