Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 195. Perseteruan Hana.


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain terlihat Via dan Hana sudah berada di tempat tujuan. Via langsung pergi ke bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran, lalu di arahkan menuju ruangan salah satu pencatatan untuk laporan perpisahan.


"Ayo, Hana!" ajak Via sambil menggandeng lengan Hana. Sebenarnya ini kali pertama dia mengurus perceraian di negara tempatnya tinggal dan merasa sedikit bingung. Jika di Indonesia, maka dia sudah sangat tahu sekali.


Dengan melangkah penuh kepastian dan keyakinan, Hana menemui pihak pencatatan laporan perpisahan yang akan dia ajukan. Walau dia merasa sedikit cemas dan gelisah, tetapi hatinya tetap yakin untuk berpisah dengan Dion.


"Baiklah, bisa tolong ceritakan apa masalah Anda?" ucap seorang lelaki yang bertugas di tempat itu.


Via menoleh ke arah Hana lalu menganggukkan kepalanya. "Ceritakan semuanya. Jangan takut, tante akam selalu bersamamu." Dia memberikan dukungan dan keberanian.


Hana menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya bersama dengan Dion, dan lelaki yang ada di hadapannya mendengar semua cerita itu sambil melakukan pencatatan.


Via tetap berada di samping Hana sambil menggenggam tangan wanita itu yang sedang gemetaran. Wajah Hana juga sudah mulai pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajah, bahkan telapak tangan wanita itu sudah basah karena keringat.


"Baiklah, saya sudah mencatat seluruh keterangan Anda dan akan membuat surat pelaporannya. Tapi sebelum itu saya akan menjelaskan tentang aturan baru yang sudah di tetapkan untuk perceraian," ucap lelaki itu setelah Hana selesai menceritakan semuanya.


Lelaki itu lalu menjelaskan tentang aturan baru yang sudah ditetapkan untuk proses perceraian. Jika dulu proses perpisahan antara suami dan istri tidak bisa dilakukan jika tidak ada alasan yang sangat kuat. Seperti perselingkuhan, penyiksaan, dan lain sebagainya. Bahkan banyak di antara sepasang suami istri yang melakukan banyak cara agar bisa berpisah, seperti membuat bukti-bukti palsu tentang perselingkuhan di antara mereka.


Namun, saat ini sudah tidak seperti itu. Peraturan tentang perpisahan telah diubah dan tidak lagi seketat dulu, bahkan pasangan suami istri bisa mengajukan perpisahan hanya dengan alasan tidak lagi saling suka.


Bukan hanya itu saja, bahkan untuk proses perpisahannya juga sangat cepat sekali. Jika dulu prosesnya bisa berjalan antara enam sampai delapan bulan, maka sekarang hanya dengan waktu satu atau dua bulan saja maka sepasang suami istri sudah sah untuk berpisah.


"Itu artinya tidak ada yang memberatkannya, 'kan? Dia bisa langsung berpisah dengan suaminya?" tanya Via.


Lelaki itu mengangguk. Namun, dia juga mengatakan jika proses akan berjalan lama jika salah satu pihak tidak setuju.


Setelah semuanya selesai, Via dan Hana beranjak pergi dari tempat itu dan kembali di suruh datang lusa untuk keterangan lebih lanjut.


"Semuanya pasti akan berjalan lancar," ucap Via. Dia tahu jika Hana sedang merasa takut dan cemas.


Hana menganggukkan kepalanya. Dia berharap semoga proses perpisahannya dan Dion berjalan dengan lancar dan cepat, tanpa ada sedikit pun kesalahan.


Dalam perjalanan pulang, Via mengajak Hana untuk mampir ke kilinik kecantikan. Dia ingin menghilangkan stres dengan melakukan perawatan tubuh, terutama untuk Hana agar wanita itu tidak cemas dan takut.


"Sa-saya tunggu di luar aja, Tante," ucap Hana sambil keluar dari mobil. Dia merasa canggung untuk menerima ajakan Via.

__ADS_1


""Tidak apa-apa, Hana. Ayo, kita perawatan sama-sama!" ajak Via kembali sambil menarik tangan Hana untuk masuk ke dalam klinik.


"Hana!"


Hana dan Via yang sudah membuka pintu klinik seketika terkejut karena panggilan seseorang. Dengan cepat Via menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang sudah memanggil Hana, sementara Hana hanya diam dengan tubuh gemetar karena tahu siapa pemilik suara itu.


"Hana!" panggil Dion kembali sambil mendekati Hana. Wajahnya memerah menahan emosi, apalagi saat melihat wanita itu ada di depan matanya. Padahal selama dua hari ini dia terus mencari keberadaan Hana.


Dengan cepat Dion mencengkram tangan Hana lalu menariknya dengan kuat, membuat tubuh Hana tersentak kaget dan tertarik ke arah laki-laki itu.


"Dari mana saja kau, hah? Apa kau tidak tahu kalau dari semalam aku terus mencarimu?" hardik Dion dengan tajam sambil mencengkram kedua bahu Hana dengan kuat membuat wanita itu meringis kesakitan. "Dasar wanita si*al. Awas saja kalau kau berani pergi lagi, aku akan memotong kedua kakimu itu!" Ancamnya dengan sarkas.


Hana hanya bisa diam sambil menundukkan kepala. Seluruh tubuhnya bergetar melihat Dion, bahkan ancaman laki-laki itu sangat menyeramkan sekali.


"Lepaskan dia, kau tidak punya hak untuk membawanya!" ucap Via sambil mencengkram tangan Dion yang masih berada di bahu Hana.


Kedua mata Dion berkilat marah karena wanita itu berani ikut campur dengan urusannya. "Siapa kau? Kau tidak pantas untuk ikut campur urusanku." Dia menatap dengan tajam sambil menepis tangan wanita itu.


Via tersenyum sinis sambil memberikan tatapan mautnya. Dia yang selalu ramah dan tersenyum, kini tampak dingin dan menyeramkan.


"Kau bilang apa, tante?" pekik Dion dengan kasar. "Apa kau sudah gila, hah? Dasar j*a*l*ang!"


Plak.


Sebuah tamparan melesat tepat ke wajah Dion membuat laki-laki iti terkesiap, sementara Via tersenyum senang melihat apa yang Hana lakukan.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Hana, dia berani menampar seseorang, apalagi orang itu adalah laki-laki seperti Dion. Walau tangannya gemetaran dan takut, tetapi dia tidak bisa membiarkan laki-laki sampah itu menghina orang yang sudah sangat baik padanya.


"Jangan berani kau menghina tanteku dengan mulut sampahmu itu, Dion," ucap Hana dengan tajam. Dia segera mendekati Via dan berdiri di hadapan wanita itu untuk melindunginya.


"Beraninya kau menamparku!" bentak Dion dengan tidak terima. Darahnya semakin mendidih dengan apa yang Hana lakukan.


"Y-ya, aku berani menamparmu karena kau telah menghina tanteku. Jangan hina dia lagi!" ancam Hana dengan tatapan tajam.


Dion tercengang melihat apa yang Hana lakukan. Dia merasa terkejut dengan sikap yang wanita itu tunjukkan padanya, sejak kapan Hana berani berkata tajam dengan tatapan sinis seperti ini padanya? Wanita itu bahkan menamparnya dengan kuat.

__ADS_1


"Apa kau pikir kau sudah hebat, hah?" tanya Dion dengan sinis. "Kau adalah wanita kampung yang aku nikahi dan aku bawa ke sini, jadi kau tidak punya hak untuk melakukan apapun. Kau hanya harus tunduk padaku!" Dia benar-benar murka.


Hana hanya diam dengan apa yang Dion katakan, sementara Via tampak tertawa mendengar ucapan laki-laki itu.


"Kau bilang Hana tidak punya hak apapun?" seru Via sambil terkekeh. "Dia adalah manusia, dan setiap manusia punya hak untuk melakukan apapun. Lalu kau tidak pantas menyebutnya sebagai istrimu, karena jika dia memang benar istrimu, maka sudah seharusnya dia merasa bahagia dan bebas. Bukannya kau perlakukan seperti binatang." Dia berucap dengan tajam dan menohok.


Kedua tangan Dion mengepal kuat mendengar ucapan wanita yang bersama dengan Hana. Sebenarnya siapa dia, kenapa Hana bisa bersama dengan wanita itu?


"Cih, persetan dengan apa yang kau bilang. Dia adalah istriku, jadi aku berhak untuk melakukan apapun padanya. Tutup saja mulutmu, si*alan!" umpat Dion dengan kemarahan yang luar biasa.


Dion lalu mencengkram tangan Hana dan menariknya pergi dari tempat itu membuat Hana tersentak kaget dan langsung memberontak, sementara Via segera menyusul kepergian mereka sambil berteriak meminta tolong pada orang-orang.


"Tolong kami, tolong bantu kami!" teriak Via sambil berusaha untuk menahan tarikan Dion, begitu juga dengan Hana yang berusaha keras untuk melepaskan diri.


Orang-orang yang berada di tempat itu segera mendekati mereka, begitu juga dengan orang-orang yang berada di dalam klinik kesehatan.


"Lepaskan wanita itu!" teriak salah satu lelaki yang ada di tempat itu. Beberapa dari mereka tampak menghadang Dion, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli.


"Minggir! Jangan ikut campur urusanku, brengs*ek!" Dion memaki mereka semua yang telah menghalangi jalannya.


"Tolong bantu kami dan lapor polisi," pinta Via.


Salah satu dari mereka segera menelepon polisi, sementara yang lain berusaha melepaskan tangan Hana dari cengkraman Dion.


"Dia adalah istriku, kalian tidak berhak ikut campur!" teriak Dion dengan murka saat orang-orang berhasil melepaskan tangan Hana dari cengkramannya.


"Siapa bilang kami tidak berhak ikut campur, hah?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2