
Aidan berjalan cepat ke arah di mana mobilnya berada, dia lalu masuk ke dalam mobil tersebut lalu membanting pintunya dengan kuat.
"Si*alan! Bagaimana mungkin semua ini terjadi?"
Duak.
Aidan memukul setir mobilnya dengan kuat. Dia tidak menyangka jika situasinya akan semakin bertambah rumit, bagaimana jadinya jika Rosa benar-benar mengandung anaknya?
"Tidak, itu tidak boleh terjadi."
Aidan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jika sampai wanita itu benar-benar hamil, maka pupus sudah harapannya untuk kembali bersama dengan Yara.
Sungguh dia sangat menyesal sekali dengan apa yang terjadi. Andai dia bisa lebih sabar dan tidak tergoda oleh Rosa, maka hidupnya pasti tidak akan jadi seperti ini. Bagaimana jadinya jika Yara mengambil rumah dan seluruh harta mereka?
Aidan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus mencari cara agar bisa bicara berdua dengan Yara dan memohon ampunan wanita itu, atau keluarganya akan jatuh miskin.
Setelah selesai makan siang, Yara segera bertemu dengan River dan juga seorang pengacara yang akan menangani kasus perceraiannya dengan Aidan.
"Apa mereka benar-benar harus berpisah, Mas?" ucap Via dengan sendu membuat Vano dan Mahen langsung melihat ke arahnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Via? Apa kau ingin jika putri kita tetap bersama dengan laki-laki seperti dia?"
Mahen menatap Via dengan tajam. Terlihat jelas raut kesedihan diwajah mantan istrinya itu, juga kekhawatiran yang sangat besar untuk Yara.
"Aku juga tidak ingin seperti itu, Mas. Hanya saja kenapa Yara harus bernasib sama sepertiku?"
Jleb.
Hati Mahen terasa seperti ditusuk pisau saat mendengar ucapan Via. Tentu saja dia merasa tercubit karena dialah yang telah membuat wanita itu mengalami luka yang sangat dalam, dan sama persis dengan apa yang Yara rasakan saat ini.
__ADS_1
"Bukan sama, Sayang. Hanya saja memang garis takdir Yara seperti itu, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Fokus saja pada kebaikan dan kebahagiaannya."
Via mengangguk dengan lemah, sementara Mahen hanya diam dengan dada yang terasa sesak.
"Lagi pula putri kita itu pintar dan juga kuat. Aku yakin dia bisa menghadapi semua ini dengan baik, dan menunjukkan pada mereka bahwa hidupnya jauh lebih bahagia setelah perpisahan," ucap Vano.
Rumah tangganya dan Via adalah salah satu bukti dari kebahagiaan yang dirasakan setelah perpisahan, dan memang seharusnya wanita berani untuk keluar dari rasa sakit dalam pernikahan, dan bukannya tetap bertahan dengan bermandikan luka.
"Apa yang kau katakan benar, Vano. Seperti aku yang sangat menyesal dengan masa lalu, suatu saat nanti Aidan pasti juga akan merasakannya. Dan semoga disaat itu Yara sudah mendapatkan kebahagiaannya."
Vano mengangguk sambil merangkul bahu sang kakak. Dia merasa bersalah karena sudah membuat kakaknya mengingat tentang masa lalu mereka.
Sementara itu, Yara sudah berada di dalam ruang kerja sang papa bersama dengan River dan juga seorang pengacara bernama Jordan.
Jordan langsung saja menjelaskan apa-apa saja yang harus Yara lakukan untuk kasus perceraiannya, sekaligus membahas tentang gugatan harta.
"Apa aku harus menggugat tentang harta juga?"
Yara hanya bisa diam saat mendengar ucapan River. Jika dia menggugat semua harta, lalu bagaimana dengan Aidan dan juga mertuanya? Bukankah mereka nanti tidak akan mendapatkan apa-apa?
"Jangan khawatir dan merasa bersalah pada mereka, Nona. Sejak awal seharusnya mereka sadar diri dan tidak bersikap angkuh, jika bukan karena Anda pasti laki-laki itu juga tidak akan menempati posisi sebagai ketua tim di perusahaan," ucap River.
Sudah cukup selama ini dia diam dengan apa yang Aidan lakukan, tetapi sekarang tidak lagi. Jika dia tidak bisa menggunakan kekerasan, maka dia akan menggunakan cara halus dengan membuat mereka kehilangan semuanya.
"Tidak mungkin aku tidak khawatir, Om. Biar bagaimana pun mereka pernah menjadi bagian dalam hidupku yang dulu selalu aku jaga dan aku bahagiakan."
Yara menghela napas kasar. Sungguh dia merasa tidak tega, tetapi apa yang Aidan lakukan memang jauh lebih parah dari semua ini.
"Itu wajar saja, Nona. Tapi bukan berarti kita akan diam dengan apa yang mereka lakukan, apalagi mertua Anda sudah terlalu banyak menghina Anda dan juga semua keluarga."
__ADS_1
Ya, Yara tahu betul jika mertuanya sudah sangat keterlaluan. Wanita paruh baya itu mengusirnya dari rumah tanpa sadar jika rumah itu adalah miliknya.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya akan menyelesaikan semuanya, dan Anda hanya perlu duduk tenang menunggu sampai pihak pengadilan meresmikan perceraian."
Yara menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Jordan. Dia tahu jika River sudah turun tangan, pasti semuanya cepat selesai. Termasuk perceraiannya nanti.
Setelah selesai, Jordan langsung pamit pada semua orang untuk kembali ke kantor sementara Yara dan River bergabung dengan Vano dan yang lainnya.
Mereka lalu kembali membahas tentang gugatan perceraian yang akan Yara layangkan ke pengadilan, juga tuntutan harta selama pernikahan.
"Itu bagus, River. Kerahkan semuanya agar kasus ini cepat selesai, aku ingin Yara dan laki-laki itu sudah resmi bercerai dalam kedipan mata."
Semua orang terkejut saat mendengar ucapan Vano, memangnya perceraian itu seperti bimsalabim yang bisa diselesaikan begitu saja?
Yara sendiri memejamkan kedua matanya sejenak. Dia menghirup napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Aku tidak menyangka jika pernikahan kita akan jadi seperti ini, Mas. Tapi aku yakin jika inilah yang terbaik untuk kita berdua."
Yara kembali membuka kedua mataya dan tersenyum ke arah semua orang. Tidak ada alasan lagi untuknya bersedih, karena keluarganya selalu memberikan kebahagiaan berlimpah yang tidak bisa dikalahkan oleh kesedihan.
Sementara itu, Ambar yang mendapat telepon dari Yara segera melajukan motornya ke rumah wanita itu. Berulang kali dia membaca alamat rumah kedua orang tua Yara karena memang belum pernah berkunjung ke tempat itu.
Setelah sampai, petugas keamanan segera membukakan gerbang untuknya membuat Ambar segera masuk ke halaman depan rumah mewah itu.
"Wah, ternyata keluarga Dokter Yara benar-benar sangat kaya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.