
Rosa menatap Via dengan tajam. Tangannya mengepal kuat dengan emosi yang meletup-meletup.
"Aku tidak menghancurkan rumah tangga siapa pun! Anakmu sendiri lah yang telah menghancurkam rumah tangganya, dan tidak bisa menjaga suaminya hingga memilih untuk bersama dengan wanita lain dari pada dia!"
Via semakin menatap Rosa dengan geram. Mungkin jika dia yang diganggu atau dihina, dia tidak akan semarah ini. Namun, jangan coba-coba untuk menganggu anak-anaknya.
"Kau benar." Yara yang sejak tadi diam kini buka suara membuat situasi kian ramai. "Aku tidak bisa menjaga rumah tanggaku dan juga suamiku. Aku terlalu fokus untuk bekerja, aku fokus pada masa depan rumah tangga kami. Aku fokus untuk menunggunya di rumah dan menyiapkan makanan yang enak, aku juga terlalu fokus untuk menjaga perasaan dan mengorbankan semua yang aku miliki untuknya."
Orang-orang yang berkumpul di tempat itu semakin ramai, apalagi mereka paham betul dengan apa yang terjadi saat ini. Tentu jika tentang pelakor semua orang pasti merasa bersemangat untuk menonton.
"Aku lupa jika diluar rumah ada banyak rumah lain yang bisa disinggahi suamiku, bahkan bisa membuat suamiku menetap untuk sementara waktu. Andai aku tidak fokus dengan semua itu, kau pasti tidak akan bisa menarik suamiku untuk masuk ke dalam perangkapmu."
"Kau, kau bilang apa?"
Rosa menatap Yara dengan nyalang. Dia lalu beralih melihat ke arah orang-orang yang mulai berbisik-bisik tentang dirinya, membuat darahnya kian mendidih.
"Tapi aku tidak pernah menyesal, Rosa. Aku malah berterima kasih karena kau sudah menjauhkanku dari seorang lelaki sepertinya, jika tidak mungkin selamanya aku hanya akan berkorban sampai akhirnya hancur dengan hampa."
Yara tersenyum membuat Via merasa bangga padanya, sementara Ambar yang awalnya tidak tau tentang masalah mereka. Kini paham jika ternyata suami Yara sedang bermain dengan wanita lain yang saat ini ada di hadapannya.
"Pelakor jaman sekarang benar-benar sangat berani ya. Bukan hanya berani merebut suami orang lain, bahkan kini berani melabrak istri sah dari suami yang dia rebut. Sungguh sama sekali tidak punya harga diri," ucap Ambar dengan menohok membuat orang-orang ikut mencerca Rosa.
"Kau-"
"Iya betul, pelakor seperti dia itu memang tidak punya malu."
"Yang namanya pelakor memang tidak punya malu dan harga diri. Kalau dia punya semua itu, dia pasti tidak akan merebut suami orang lain."
__ADS_1
"Iya benar, padahal istri sahnya jauh lebih cantik dari muka tebal bedak kayak dia."
Orang-orang yang ada di tempat itu ikut berkomentar membuat Rosa tidak bisa melanjutkan ucapannya. Mereka terus menghina dan mencercanya membuat dia tidak tahan dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Orang-orang semakin berkerumun membuat petugas keamanan terpaksa turun tangan untuk membubarkan mereka, sementara Yara segera meminta maaf pada semua orang karena sudah membuat keributan.
"Kau tidak salah, Nak. Wanita yang tega menyakiti wanita lain memang pantas untuk mendapatkannya, dan kau jauh lebih berharga dari wanita itu juga dari suamimu yang tidak tau diri."
Yara tersenyum saat mendengar ucapan wanita paruh baya yang sejak tadi menonton pertunjukannya, setelah itu dia pamit dan bergegas pergi bersama dengan sang mama dan juga Ambar.
"Astaghfirullahal'adzim."
Sepanjang perjalanan Via terus beristighfar untuk menenangkan emosinya yang masih saja membara. Berulang kali dia mengusap dadanya untuk menghilangkan rasa sesak, membuat Yara menahan tawa karena ekspresi mamanya itu.
Yara sendiri tidak menyangka jika sang mama akan melawan Rosa seperti itu, padahal selama ini mamanya adalah orang yang selalu sabar dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar.
"Padahal aku adalah istri sah selingkuhanmu, tapi bagaimana mungkin kau dengan berani melakukan semua itu padaku, Rosa?"
Yara menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dan keputusannya untuk berpisah dengan Aidan memang sangatlah tepat.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali ke rumah. Begitu sampai Ambar langsung pamit untuk segera pulang ke rumahnya sendiri, sementara Yara dan Via berlalu masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, di tempat lain Rosa melampiaskan amarahnya dengan memporak-porandakan seisi kamar. Dia geram karena sudah dibuat malu di hadapan banyak orang, dan dia pasti akan membalas apa yang sudah mereka lakukan.
"Kau lihat saja, Yara. Aku pasti akan membalasmu dengan menikahi Aidan, dan setelah itu kau pasti akan semakin hancur saat mengetahuinya."
Rosa harus segera datang ke rumah Aidan dan bertemu dengan keluarga laki-laki itu, dia harus mendesak Aidan agar segera menikahinya.
__ADS_1
***
Malam harinya, semua orang tampak berkumpul di meja makan sambil menyantap menu makan malam yang sudah tersaji di hadapan mereka. Terjadi ketegangan antara Vano dan Via hanya karena masalah kaus kaki.
"Sudah berulang kali kukatakan, jika semua kaus kaki itu ada di dalam laci lemari yang paling bawah, Mas," ucap Via dengan penekanan. Dia kesal karena Vano selalu mengobrak-abrik pakaian di dalam lemari hanya untuk mencari kaus kaki.
"Aku kan lupa." Vano mencebikkan bibirnya membuat Zayyan terkikik geli, tentu dia langsung menatap putra bungsunya itu dengan tajam.
"Lagi pula ada apa dengan mamamu ini, Yara? Sejak sore selalu saja marah, bahkan untuk hal sepele seperti tadi." Vano beralih melihat ke arah Yara membuat putrinya itu menatap sang mama dengan senyuman.
"Lupakan masalah yang tadi siang, Ma. Lihat, papa jadi kena getahnya 'kan?"
Yara tergelak saat melihat raut wajah sang papa, sementara Mahen yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka merasa sangat bahagia.
"Memangnya apa yang terjadi? Apa ada yang menganggu atau menyakiti Mama?" tanya Zafran.
Via menggelengkan kepalanya. Dia lalu menceritakan tentang apa yang terjadi di mall tadi siang dengan mereka.
"Beraninya dia melakukan itu pada putriku!" ucap Vano dan Mahen secara bersamaan membuat semua orang terlonjak kaget.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1