
Setelah mengiyakan ajakan Ryder, Yara kembali masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lainnya. Terlihat semua orang masih mengobrol ria, padahal malam sudah semakin larut. Bahkan Yumi sudah memejamkam kedua matanya di atas karpet bulu.
Tepat pukul 11 malam, Yara dan semua keluarga pamit untuk pulang. Ryder dan kedua orang tuanya mengantar mereka sampai ke halaman depan, dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah bersedia untuk memenuhi undangan makan malam mereka.
Ryder memalingkan wajahnya ke arah kanan saat merasa jika sejak tadi Zafran terus menatapnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Dia memilih untuk bertanya langsung karena tidak pintar untuk berbasa-basi.
"Tidak," jawab Zafran dengan cepat, tetapi sorot matanya masih menatap Ryder dengan tajam.
"Baiklah. Kalau gitu terima kasih sudah bersedia datang ke rumahku, dan hati-hati di jalan," ucap Ryder kemudian. Bair bagaimana pun, laki-laki itu adalah adik Yara. Jadi dia harus memperlakukannya dengan baik.
"Tidak perlu berterima kasih, aku datang bukan untuk memenuhi undanganmu. Tapi untuk mengantar keluargaku," balas Zafran. Dia lalu berjalan ke arah mobil tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah Ryder saat ini.
"Apa katanya, hanya mengantar keluarganya?"
Ryder mengepalkan kedua tangannya dengan erat, wajahnya tampak tegang karena merasa kesal dengan apa yang laki-laki itu ucapkan. Kenapa dia merasa sepertinya Zafran sedang mengibarkan bendera perang? Apa laki-laki itu tidak menyukainya?
Lamunan Ryder terhenti saat mendengar klakson mobil, dan yang membunyikannya adalah Zafran yang saat ini masih saja memandangnya dengan tajam.
"Benar. Dia pasti tidak menyukaiku."
Ryder terus menatap mobil Yara dan keluarganya yang sudah melaju pergi, sementara kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam rumah.
"Baiklah. Terserah jika dia menyukaiku atau tidak, toh besok aku tidak akan menikah dengannya."
Ryder lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah, dia bergegas ke kamar untuk menghubungi teman-temannya.
Dalam perjalanan, Mahen terus menatap ke arah Zafran yang saat ini sedang mengemudikan mobil.
"Apa ada yang ingin Papa katakan padaku?" tanya Zafran. Sekilas dia melihat ke arah sang papa, lalu kembali melihat lurus ke depan.
__ADS_1
"Apa kau ada masalah dengan Ryder?"
Ternyata sejak tadi Mahen memperhatikan interaksi antara Zafran dan Ryder. Dia bisa melihat dengan jelas jika terjadi suatu gesekan di antara mereka, bahkan Zafran sempat mengikuti laki-laki itu saat pergi bersama dengan Yara.
"Tidak," jawab Zafran dengan cepat membuat Mahen menyipitkan mata tidak percaya.
"Jangan mencari masalah dengannya, walaupun dia terlihat santai dan tampak biasa saja." Mahen mengingatkan. Dia tidak mau anak dari adiknya itu mendapat musibah.
Zafran hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Mahen, sementara Yara menghela napas kasar karena tahu jika adiknya itu tidak menyukai Ryder.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di halaman rumah. Mahen segera menggendong Yumi dan membawanya keluar dari mobil, begitu juga dengan yang lainnya.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka memejamkan mata. Begitu sampai di rumah, mereka membasuh wajah dan langsung merebahkan diri di atas ranjang. Hanya Zafran sajalah yang saat ini masih duduk di balkon kamarnya.
Zafran memutar-mutar ponsel yang sedang berada di tangannya, sambil memikirkan satu orang yaitu Ryder.
*
*
Keesokan harinya, tepat pukul 2 siang. Yara sudah terlihat rapi dan cantik dengan menggunakan gaun berwarna sage. Dia memberikan sedikit riasan diwajahnya, lalu beranjak keluar dari kamar sambil menentang tas mewah pemberian mama Riani.
"Wah. Kau cantik sekali, Sayang," seru Riani yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga. Sejak menikah dengan Mahen, dia memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Semua pekerjaan sudah diserahkan pada seseorang yang dipercayai, dan sesekali akan mengeceknya ke kantor.
"Aku izin pergi bersama Ryder, Ma. Dia mengajakku pergi ke acara salah satu temannya," ucap Yara meminta izin, bertepatan dengan Zafran yang sedang menuruni anak tangga.
"Oh, begitu." Riani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah, tapi hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam."
Yara mengangguk paham. "Insyaallah gak sampai malam, Ma."
__ADS_1
Kemudian datanglah salah satu pembantu yang memberitahu jika sedang ada tamu yang datang, dengan cepat mereka semua berlalu keluar untuk menemuinya.
Ryder menyapa Riani saat wanita itu menemuinya. Dia lalu pamit untuk membawa Yara pergi, dan di balas dengan anggukan kepala Riani.
"Hati-hati di jalan, Ryder. Jangan pulang terlalu malam." Riani kembali mengingatkan yang di balas dengan anggukan kepala laki-laki itu.
"Baik, Tante. Kami pergi dulu, as-assalamu'alaikum." Untuk pertama kalinya Ryder mengucap salam setelah sekian lama, dan lidahnya benar-benar terasa sangat kaku sekali.
Yara hampir saja tertawa saat mendengar Ryder mengucap salam, tetapi dia mencoba untuk tidak menertawakan laki-laki itu. Bagaimana mungkin seorang muslim mengucap salam saja terbata-bata? Bukankah itu sudah sangat keterlaluan?
"Wa'alaikum salam." Riani juga tersenyum simpul. Apalagi saat bersitatap mata dengan Yara, dia sudah berusaha setengah mati untuk menahan tawa.
Ryder yang mengerti jika Yara dan wanita paruh baya itu merasa lucu, cepat-cepat melajukan mobilnya. Wajahnya merah padam karena saat ini sedang menahan malu.
"Kenapa mulutku seperti ini sih? Bikin malu aja." Ryder ingin sekali menjual mulutnya dan menggantinya dengan yang baru.
Yara melirik ke arah Ryder saat menyadari jika wajah laki-laki itu memerah, dia menunduk sambil berusaha untuk kembali menahan tawa.
"Ala bisa karna terbiasa, Ryder. Jika belajar diwaktu kecil sama dengan mengukir di atas batu, maka belajar diwaktu dewasa sama dengan mengukir di atas air."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1