
Yara langsung memberikan dua jempol pada sang mama, kemudian dia berlalu pergi menginggalkan tempat itu setelah menyalim tangan para orang tua.
"Sudah mau pergi, Sayang?" tanya Mahen saat melihat Yara. Dia sedang duduk di teras rumah setelah selesai olahraga lagi.
Yara mengangguk. "Iya, Yah. Yara pergi dulu ya, udah kesiangan." Dia segera menyalim tangan sang ayah lalu berlari ke arah di mana mobilnya berada.
Mahen menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Yara, hatinya terasa nyaman dan tenang jika bisa selalu melihat putri sulungnya itu. Namun, dia tidak bisa melakukannya karena terhalanh oleh jarak.
"Ada apa, Kak? Kenapa melamun?"
Mahen tersentak kaget saat mendengar suara Vano. "Kau ini ngagetin aja!" Serunya sambil mengusap dada yang terasa berdebar kencang.
Vano tertawa karena tidak sengaja membuat sang kakak terkejut. "Habisnya masih pagi gini udah melamun, gak boleh tahu Kak." Dia mengomel seperti ibu-ibu yang kekurangan jatah bulanan.
Mahen langsung mendengus sebal saat mendengar ucapan Vano. "Kau mau ke kantor?" Dia bertanya dengan heran karena melihat pakaian laki-laki itu.
"Tidak," jawab Vano sambil menggelengkan kepalanya. "Aku mau ke rumahnya River. Ayo, Kakak juga ikut!" Ajaknya.
Mahen lalu menyuruh Vano untuk menunggunya karena dia ingin mandi dulu. Dia juga belum sarapan, tidak mungkin keluar dengan perut kosong.
Beberapa saat kemudian, Vano dan Mahen sudah siap untuk pergi ke rumah River. Lusa laki-laki itu akan menikah, dan River sama sekali tidak punya keluarga. Jadi tentu saja mereka yang harus mengurus semua itu.
"Kau ngasi hadiah apa untuknya?" tanya Mahen saat dalam perjalanan. Dia bingung ingin memberi hadiah apa untuk pernikahan River.
"Rumah," jawab Vano dengan santai, tetapi tidak untuk Mahen yang langsung membulatkan kedua matanya.
"Rumah?" tanya Mahen dengan tidak percaya, dan dijawab dengan anggukan kepala Vano. "Kau yakin mau kasi dia rumah? Rumah beneran?"
Vano langsung berdecak kesal mendengar pertanyaan sang kakak. Memangnya harus, bertanya berulang-ulang seperti itu?
"Iya beneranlah, masa iya rumah-rumahan," sahut Vano dengan ketus. "Memangnya kenapa sih Kak? Kayak aku ngasi bom nuklir aja." Dia jadi kesal sendiri.
"Yah gak salah sih, tapi kan harga rumah itu sangat mahal Van. Apalagi di sini," ucap Mahen.
Vano lalu mengatakan jika hanya rumah saja maka dia masih sanggup untuk membelinya. Kakaknya saja yang tidak tahu jika kekayaannya sangat berlimpah.
Perusahaan milik Vano berkembang dengan pesat, dan tentu saja kekayaannya semakin bertambah. Apalagi dia masih mendapat bagian dari perusahaan keluarga yang dikelola oleh sang kakak, bukankaj kekayaannya jadi setinggi gunung?
"Cih, ternyata kau sangat pilih kasih yah," cibir Mahen tiba-tiba. "Dulu saat kakak menikah kau hanya memberi hadiah bulan madu, tapi untuk River kau membelikannya rumah." Dia merasa iri dengki.
Vano langsung tertawa saat mendengar ucapan sang kakak. "Tentu saja. Selama ini River selalu setia padaku, sedang Kakak?" Balasnya dengan penuh sindiran.
__ADS_1
"Apa, memangnya aku ngapain, hah?" tanya Mahen sambil meninju lengan Vano.
Vano semakin tergelak. Dasar laki-laki tidak sadar diri. Padahal jika diungkit banyak sekali hal buruk yang kakaknya itu lakukan, terutama saat dia dan Via dulu mau menikah.
***
Tepat saat dijam makan siang, Ryder menemui Yara ke rumah sakit karena sekalian ingin bertemu dengan Ryzal. Terlihat wanita itu sedang sibuk bersama dengan pasiennya, jadi dia memutuskan untuk menunggu di ruangan itu.
"Dokter, Anda sudah ditunggu oleh calon suami," bisik Bianca.
Yara yang sedang menulis resep obat untuk pasiennya itu langsung menoleh ke arah luar saat mendengar ucapan Bianca, dan benar saja jika ada Ryder di tempat itu.
"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Yara. Dia lalu menyerahkan resep obat itu pada keluarga pasien agar bisa segera ditebus, setelahnya dia bergegas keluar untuk menghampiri Ryder.
"Ryder!"
Ryder langsung mendongakkan pandangannya dari ponsel saat mendengar suara Yara. Senyum cerah langsung terbit dibibirnya saat melihat wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yara sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi yang ada di samping Ryder.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kau sedang sibuk?" ucap Ryder.
"Untuk sekarang enggak, tapi jam dua nanti aku ada rapat," jawab Ryder.
Yara lalu meminta Ryder untuk menunggu sebentar karena dia ingin mengambil tasnya di dalam ruangan, setelah itu bergegas untuk mengambilnya.
Tidak berselang lama, Yara sudah kembali menghampiri Ryder. Mereka lalu pergi ke restoran yang ada di dekat rumah sakit agar tidak banyak membuang waktu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Yara saat sudah sampai di restoran dan melihat menu makanan serta minumannya.
"Aku mau steik aja sama jus jeruk," jawab Ryder.
Yara mengangguk lalu mengatakan pesanan mereka pada pelayan, setelahnya mereka diminta untuk menunggu sebentar karena makanan dan minuman akan segera disiapkan.
"Nanti sore kita harus ke butik untuk menyiapkan pakaian, takutnya tidak keburu," ucap Yara. Dia sudah menyiapkan desainer terbaik untuk memyiapkan pakaian pernikahan mereka.
Ryder mengangguk. Dia selalu siap sedia karena memang tidak bekerja, lain hal dengan Yara yang masih harus bekerja dan diberi waktu libur saat tiga hari menjelang pernikahan.
Tidak berselang lama, pelayan mengantar pesanan nereka dan langsung menyajikannya di atas meja. Makanan itu tampak sangat lezat untuk Yara karena perutnya sedang keroncongan.
Di sela makan, mereka kembali membahas tentang segala persiapan yang harus segera di lakukan. Namun, sebagian besar sudah di ambil alih oleh Zafran sehingga mereka tidak terlalu repot lagi.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka lalu kembali ke rumah sakit karena Yara harus menghadiri rapat, yang itu artinya Ryzal juga hadir dalam rapat tersebut.
Ryder terpaksa pulang karena tidak bisa bertemu dengan Ryzal. Dalam perjalanan, tiba-tiba dia menghentikan mobilnya saat melihat seorang anak kecil sedang meringkuk di pinggir jalan.
Merasa kasihan, Ryder bergegas untuk menghampiri anak itu. "Halo, apa yang kau lakukan di sini?" Dia bertanya sambil menjongkokkan tubuhnya di hadapan anak kecil itu.
Merasa tidak ada pergerakan dari anak kecil itu, membuat Ryder langsung menepuk bahunya dengan pelan. Namun, tiba-tiba tubuh anak kecil itu langsung tergeletak di atas tanah.
"Astaga, apa yang terjadi?" gumam Ryder dengan heran. Dia lalu mencoba untuk mencari orang lain di tempat itu, tetapi tidak menemukannya.
Ryder segera memeriksa denyut nadi anak itu untuk memastikan apakah masih hidup atau sudah tiada. "Detak jantungnya sangat lelah." Dia lalu mengangkat tubuh anak kecil lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Dia terpaksa kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan anak kecil itu sebelum terjadi sesuatu yang buruk, dan pastinya nanti dia akan ikut terlibat.
Beberapa saat kemudian, Ryder sudah kembali lagi ke rumah sakit. Dengan cepat dia menggendong anak kecil itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengannya, Tuan?" tanya Dokter.
"Saya tidak tahu. Saya tidak sengaja menemukamnya di pinggir jalan," jawab Ryder dengan jujur.
Dokter dan perawat segera membawa anak itu ke ruang ICU agar segera mendapat penanganan, sementara Ryder menunggu di depan ruangan.
Setelah menunggu selama satu jam lebih, akhirnya pintu ruangan itu terbuka juga dan keluarlah Dokter bersama dengan perawat.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Ryder.
"Pasien lemas karena tidak makan, Tuan. Kemungkinan sudah berhari-hari dia tidak makan, itu sebabnya keadaannya jadi seperti ini," ucap Dokter. Dia lalu bertanya di mana Ryder menemukan anak kecil itu.
Ryder lalu memberitahukan tentang lokasi di mana dia melihat anak itu, membuat Dokter menghela napas berat.
"Tempat itu memang dipenuhi oleh masyarakat dengan ekonomi rendah, bahkan banyak anak-anak yang mati karena hal tersebut," jelas Dokter.
Ryder tertegun saat mendengarnya. Entah kenapa sekarang hatinya berubah jadi sangat baik dan merasa tidak tega.
"Lalu, di mana orangtua mereka?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.