Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 153. Asisten Pribadi Baru.


__ADS_3

Zafran yang saat itu sedang berada di perusahaan merasa terkejut saat mendengar ucapan Ryder. "Kau ingin membeli rumah?" Dia bertanya dengan serius.


"Benar. Belikan rumah yang bagus untukku, nanti aku akan mengirim uangnya," ucap Ryder di sebrang telepon.


Zafran lalu mengiyakam ucapan Ryder, kemudian panggilan itu terputus. "Dasar Ryder, ada-ada saja kerjaannya." Dia mendessah berat.


Hari ini Zafran sudah mulai aktif bekerja di perusahaan setelah berhasil menyelesaikan program Magisternya. Selama ini dia sudah sedikit-sedikit mengerjakan beberapa dokumen, sesuai dengan perintah sang papa.


Tok, tok. "Apa saya boleh masuk, Tuan?"


Terdengar suara ketukan di pintu diiringi suara River yang meminta untuk masuk. Dengan cepat Zafran mempersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa, Om? Bukannya mulai hari ini Om sudah cuti?" tanya Zafran dengan heran.


River menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Tapi hari ini ada seseorang yang ingin saya kenalkan pada Anda, kemungkinan Anda pun sudah mengenalnya."


Zafran mengernyitkan kening bingung, lalu bertanya siapa sosok yang akam berkenalam dengannya, dan untuk apa mereka saling mengenal.


"Masuklah, Junior!" panggil River.


Zafran langsung melihat ke arah pintu saat River memanggil seseorang, terlihat seorang laki-laki yang sudah tidak asing dimatanya sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Dia bukannya laki-laki yang bersama dengan Om saat penyerangan itu?" tanya Zafran


River kembali mengangguk. "Benar, Tuan. Dia adalah Junior, yang waktu itu ditangkap juga oleh Luke."


Zafran mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Junior terus tersenyum ke arah calon bosnya karena dia harus menunjukkan kesan baik dipertemuan pertama.


"Pernalkan dirimu, Junior," perintah River kemudian.


Junior menganguk paham. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Nama saya Junior Alberty, berumur 24 tahun. Jika ada yang ingin Anda tanyakan tentang saya, maka saya persilahkan," ucap Junior.


Zafran menganggukkan kepalanya. "Senang bertemu dengan Anda juga, Junior. Tapi, kenapa Anda datang menemuiku?" Dia bertanya dengan heran.


Junior melirik ke arah River yang saat ini sedang berdiri di sampingnya, seolah meminta bala bantuan dari laki-laki itu.


"Sejak hari ini, Juniorlah yang akan menjadi asisten pribadi Anda, Tuan. Semoga Anda berdua bisa bekerja dengan baik," jawab River.


Zafran merasa terkejut saat mendengar ucapan River, tidak disangka jika laki-laki itulah yang menjadi asisten peribadinya.

__ADS_1


"Apa Anda merasa keberatan atau tidak setuju, Tuan?" tanya River kembali.


Zafran terdiam sambil memperhatikan Junior. Dia melihat dari ujung rambut sampai ujung, hingga membuat laki-laki itu merasa cemas dan takut jika Zafran menolaknya.


"Penampilannya tidak meyakinkan. Tapi jika om River sendiri yang membawanya, jelas laki-laki itu berkualitas, dan tidak mungkin papanya tidak tahu tentang hal ini." Zafran mengangguk-angukan kepalanya.


" baiklah, kalau gitu aku menerimamu sebagai asisten pribadiku, Junior. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Zafran kemudian.


Senyum lebar langsung terbit dibibir Junior karena merasa senang mendengar ucapan Zafran. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak. Saya pasti akan mengerjakan semua pekerjaan dengan baik, dan akan mematuhi semua perintah Anda."


Zafran tersenyum tipis, dia lalu beranjak dari kursi dan menghampiri Junior. "Baiklah. Kalau gitu selamat bekerja, Junior. "Dia mengulurkan tangan ke hadapan Junior.


Junior langsung menyambut uluran tangan Zafran dengan semangat. "Ba-baik, Tuan. Terima kasih." Dadanya sampai berdebar-debar, padahal dia tidak sampai seperti ini saat berada di medan perang.


River lalu beranjak keluar dari ruangan itu untuk meninggalkan mereka berdua, dia berharap semoga Zafran merasa cocok dengan calon anak sambungnya itu.


"Kalau gitu, aku ingin meminta tolong padamu, Junior," ucap Zafran saat River sudah keluar dari ruangannya.


Dengan sigap Junior menganggukkan kepalanya lalu mempersilahkan Zafran untuk memberi perintah padanya, membuat Zafran merasa lucu.


"Tidak usah terlalu tegang, Junior. Anggap saja aku sama seperti temanmu," pinta Zafran yang dijawab dengan anggukan kepala Junior. Dia lalu menyuruh laki-laki itu untuk mencari rumah di sekitar tempat tinggal orangtuanya, setelah itu baru nanti mereka akan mengeceknya secara langsung.


Setelah menerima perintah dari Zafran, Junior bergegas keluar dari ruangan itu untuk segera melaksanakan apa yang tuannya inginkan.


*


*


Ryder merasa tenang karena Zafran sudah menemukan rumah yang sesuai dengan keinginannya. Rumah itu dibeli seharga 15 milyar dan dekat dengan kediaman keluarga Yara, itu sebabnya dia sudah tidak susah-susah lagi untuk mencari hotel. Karena tidak mungkin semua keluarganya tinggal di rumah keluarga Yara.


Beberapa jam kemudian, mereka semua sudah sampai di bandara tujuan. Terlihat Zafran dan Junior menunggu kedatangan mereka di tempat itu.


"Terima kasih sudah datang, Zaf," ucap Ryder sambil menepuk bahu sang calon adik ipar.


Zafran mengangguk. "Tidak apa-apa." Dia lalu beralih menyalim semua keluarga Ryder, tidak lupa kakek Domi dan nenek Weny juga.


"Tunggu, kau bukannya anak buah River?" ucap Ryder saat melihat Junior.


"Benar, Tuan." Junior menganggukkan kepalanya. "Sekarang saya sudah menjadi asisten pribadi tuan Zafran, mohon bimbingannya." Dia menatap dengan penuh harap.

__ADS_1


Ryder mengangguk-anggukkan kepalanya. Baguslah jika laki-laki itu yang menjadi asisten pribadinya Zafran, karena dia sendiri sudah tahu bagaimana kehebatan Junior.


"Baiklah, jika ada sesuatu yang membuatmu susah, kau boleh menanyakannya padaku. Tapi ingat, kau harus menjaga Zafran dengan baik," ucap Ryder kemudian.


Junior mengangguk paham. Dia merasa senang karena semua orang menyambutnya dengan baik, bahkan semua keluarga Zafran juga memperlakukannya dengan hangat.


Mereka semua lalu meninggalkan bandara menuju perumahan yang sudah disiapkan oleh Zafran. Ada dua pembantu juga di rumah itu agar bisa melayani kebutuhan mereka.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara dan mamanya sedang sibuk membuat kue. Mereka ingin menghidangkan kue itu untuk keluarga Ryder besok malam.


"Apa mereka sudah sampai?" tanya Via sambil mencetak kue-kue itu.


"Sudah, Ma. Tadi Ryder baru saja nelepon. Zafran dan Junior juga pergi menjemput mereka," jawab Yara.


Via menghela napas lega. Dia sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan mereka semua, bahkan sampai menyiapkan berbagai macam kue buatannya sendiri.


"Oh ya Ma, aku bingung ingin memberi hadiah apa untuk pernikahan om River dan tante Jean. Kira-kira menurut Mama bagusnya ngasi apa yah?" tanya Yara. Sejak semalam dia pusing memikirkan hadiah untuk River. Bahkan dia sampai tidak sempat untuk memikirkan acaranya sendiri.


"Bagaimana kalau tiket bulan madu?" ucap Via memberi saran.


Ah, benar juga. Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi tunggu, bukannya papa dan Mama juga ngasi hadiah tiket bulan madu?" Dia ingat jika papanya pernah mengatakannya.


"Tidak." Via menggelengkan kepalanya. "Papa tidak jadi memberikam tiket bulan madu, katanya dia ingin memberi rumah saja."


"Apa?" Yara memekik kaget saat mengetahui hadiah yang papanya berikan untuk River. Memangnya ada, orang yang ngasi rumah untuk hadiah pernikahan?


"Ommu pantas mendapatkannya, Nak. Selama ini dia sudah mengabdikan dirinya untuk keluarga kita, jadi kita harus membalasnya dengan setimpal," ucap Via kemudian.


Ya, Yara juga setuju dengan apa yang mamanya katakan. Dia bukannya sayang jika sang papa membelikan rumah untuk River, hanya saja dia merasa terkejut karena baru tahu jika ada orang yang memberi hadiah sebuah rumah untuk pernikahan.


Setelah semua kuenya siap, Yara beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan tubuhnya terasa sangat lelah karena langsung membantu mamanya membuat kue saat baru pulang kerja.


Tiba-tiba Yara tersenyum saat memikirkan jika sebentar lagi Ryder akan datang ke rumahnya untuk melamar, dan Ryder juga bilang jika setelah itu akan langsung menyiapkan pernikahan.


"Ya Allah, lancarkanlah semua rencana kami, dan jauhkan dari segala mara bahaya dan orang-orang jahat."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2