
Baik para Dokter dan juga perawat terpaksa keluar dari ruangan itu karena diusir oleh pasien mereka, sementara Eric dan juga Adena bergegas mendekati mereka.
"Bagaimana, Dokter? Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Adena.
Lagi-lagi Dokter senior harus unjuk gigi dengan menganggukkan kepalanya. "Keadaan tuan Ryder baik-baik saja Nyonya. Kami sudah memeriksa semuanya, dan sekarang tuan Ryder sedang dalam proses pemulihan."
Adena langsung mengucap syukur yang sebanyak-banyaknya pada Allah, dia bahkan hampir bersujud jika tidak dihentikan oleh sang suami.
"Tapi ada hal penting yang harus kami sampaikan pada Anda Tuan, Nyonya."
Mendadak suasana jadi suram saat mendengar ucapan Dokter. "Biasakan untuk tidak mengucapkan sesuatu yang berawal dari kata tapi."
Semua orang menatap Adeva dengan heran, sementara Eric langsung menutup mulut istrinya itu dan mempersilahkan Dokter untuk bicara.
"Begini Tuan, tuan Ryder tidak ingin dirawat oleh kami,"
"Apa?" Semua orang terlonjak kaget saat mendengar teriakan Eric. "Kalau tidak mau dirawat oleh kalian, lalu oleh siapa lagi? Dokter hewan?"
Adeva langsung memukul lengan suaminya yang secara tidak langsung mengatai putranya hewan, sementara Eric menggelengkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam ruangan Ryder dengan penuh emosi.
Adena lalu mengucapkan terima kasih pada para Dokter dan juga perawat, dia lalu ikut masuk ke dalam ruangan sang putra untuk melihat bagaimana keadaannya.
"Jika mereka tidak tampan dan juga cantik, orang-orang pasti tidak akan percaya jika mereka seorang konglomerat," ucap salah satu Dokter membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung melihatnya dengan tajam.
"Hati-hati dengan ucapan Anda Dokter. Jangan sampai Anda di kirim ke ruang operasi hanya karena sesuatu yang keluar dari mulut."
Glek.
Semua orang langsung menelan salive mereka saat mendengar ucapan seorang lelaki yang baru saja tiba di tempat itu.
"Jangan terlalu tegang, Dokter. Anda dikirim ke ruang operasi hanya untuk menyelamatkan pasien, bukan manjadi pasiennya."
"Bohong!"
Ingin sekali mereka semua berteriak dihadapan laki-laki itu, tetapi apalah daya hanya sebutir debu yang tidak berdaya di hadapan gurun pasir.
Eric yang sudah berdiri di hadapan Ryder langsung menatap putranya itu dengan tajam, tentu saja dengan tangan bertolak pinggang andalannya.
"Kenapa kau tidak mau dirawat oleh mereka, Ryder? Apa kau mau dirawat oleh tukang kebun di rumah kita?"
Adena lagi-lagi memukul lengan suaminya yang selalu saja berkata tidak benar. Setelah mengatai putra mereka hewan, sekarang laki-laki itu juga mengatai Ryder tumbuhan.
__ADS_1
"Aku mau dirawat oleh dokter itu,"
"Hah, Dokter yang mana?"
Kedua orang tua Ryder terlihat bingung dengan Dokter yang dia maksud, sementara laki-laki yang baru masuk ke dalam ruangan langsung paham dengan apa yang tuan mudanya inginkan.
"Saya akan mempersiapkannya, Tuan."
Eric dan Adena langsung menoleh ke samping kanan saat mendengar suara seseorang, terlihat Raymond sudah berdiri di samping mereka.
"Siapa Dokter yang kalian maksud, Ray?" tanya Adena.
Raymond lalu mengatakan tentang seorang dokter yang telah menyelamatkan Ryder dilokasi kecelakaan, bahkan apa yang dilakukan dokter tersebut menjadi viral di dunia maya.
"Tunggu, Viral kau bilang?"
Raymond menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Tapi orang-orang kita sudah mengamankan video tersebut."
Ryder langsung mengambil ponselnya untuk melihat apa yang asistennya katakan, begitu juga dengan Eric dan Adena yang kompak sekali dalam hal seperti ini.
Ryder membulatkan mata saat melihat apa yang ada di ponselnya saat ini, wajahnya berubah menjadi merah seperti tomat yang siap untuk dipetik.
"Waah, dia hebat sekali," seru Adena dengan bersemangat. "Lihat, jika bukan karna pompaan wanita itu, Ryder pasti sudah bertemu dengan malaikat maut."
"Beraninya mereka memasukkan videoku seperti itu!"
Ryder menggenggam ponselnya sampai berbunyi kretek-kretek membuat kedua orang tuanya langsung berhenti menonton. Walaupun sudah di hapus, tentu saja mereka masih bisa melihatnya karena ponsel khusus itu sangat canggih.
"Pastikan tidak ada lagi satu video pun yang tersebar. Memangnya mau taruh di mana wajahku yang tampan ini?"
Eric dan juga Adena langsung berdecak sebal saat melihat kenarsisan putra mereka. "Memang apa masalahnya? Bukankah itu sangat keren sekali?" Adena berdecak kagum melihat kehebatan wanita itu.
"Keren dari mana?" ucap Ryder dengan kesal. "Video itu akan terlihat keren jika aku yang menolong, dan bukannya ditolong. Harga diriku langsung jatuh bangun saat melihat tubuhku lemas tak berdaya." Sungguh dia sangat pandai sekali mendramatisasi keadaan.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Masyarakat lebih fokus pada wanita itu, dan sama sekali tidak mencari informasi tentang Anda,"
"Apa? Beraninya mereka lebih fokus pada wanita itu ketimbang aku. Apa mereka tidak tahu aku ini siapa, hah?"
Raymond langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Seharusnya dia paham bagaimana sifat tuan mudanya itu, sudah pasti semua akan terlihat salah di matanya.
Sementara itu, Yara yang saat ini sedang menikmati makan malam bersama dengan keluarganya tidak sengaja tersedak sesuatu. Dia langsung terbatuk-batuk membuat semua orang khawatir.
__ADS_1
Riani langsung menepuk-nepuk punggung Yara, sementara oma Camelia memberikan segelas air pada cucunya itu.
"Makan itu pelan-pelan, Yara. Memangnya siapa yang mau mintak sih?" ucap Mahen sambil menggelengkan kepalanya.
Wajah Yara memerah karena apa yang terjadi barusan, dia sendiri bingung kenapa tiba-tiba tersedak padahal belum sempat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya, Pa. Lain kali aku akan pelan-pelan," ucap Yara agar kekhawatiran keluarganya menghilang.
Mereka semua lalu kembali melanjutkan makan malam dan bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga Vano dan yang lainnya.
Tepat pukul 11 malam, Vano dan rombongan yang lain sudah sampai di rumah Mahen. Mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah itu dari pada rumah opa Adrian.
Kehebohan kembali terjadi saat Vano dan juga Via mengucapkan kebanggaan mereka pada Yara, begitu juga dengan Zafran dan juga Zayyan yang sepanjang perjalanan terus memutar video tersebut.
"Tapi satu jam yang lalu semua video itu sudah tidak bisa dilihat lagi," ucap Riani. "Sepertinya ada yang sengaja menghapusnya."
Zafran langsung mengambil ponselnya dan memeriksa apa yang Riani katakan, dan benar saja jika semua video itu sudah di hapus.
"Untung langsung ku save, jadi enggak perlu lihat di internet," seru Zayyan. Dia sangat bangga dengan apa yang kakaknya lakukan.
Akhirnya malam ini semua keluarga Yara berkumpul jadi satu. Suasana terasa sangat hangat dan juga bahagia, apalagi saat mendengar ocehan dari para anak-anak.
Setelah merasa jika malam semakin larut, semua orang memutuskan untuk istirahat dikamar masing-masing. Apalagi Vano, Via, dan yang lainnya yang baru saja melakukan perjalanan panjang.
River yang juga ada di tempat itu terlihat sedang berkutat dengan laptopnya untuk menyiapkan beberapa pekerjaan, lalu fokusnya terhenti saat mendengar ponselnya berdering.
Dengan cepat River menyambar benda pipih tersebut dan mulai bicara dengan seseorang yang tidak dikenal.
Beberapa saat kemudian, River mematikan panggilan tersebut saat sudah selesai mendengar apa yang sih penelepon inginkan.
"Ternyata nona Yara telah menyelamatkan anaknya, pantas saja berita itu langsung menghilang."
River mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajar saja jika video itu terhapus karena memang ada orang penting di dalamnya.
"Aku harus segera memberitahu tuan Vano tentang apa yang mereka inginkan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.