
Seorang wanita berambut coklat terang dengan pakaian serba terbuka membuka pintu ruangan Ryder, dan melangkah masuk ke dalam tempat itu membuat Ryder dan juga Yara tersentak kaget.
"Hello Sayang, bagaimana kabarmu?" Wanita itu melambaikan tangannya yang berotot dengan penuh ke anggunan.
"Kau!"
Rayder membulatkan matanya saat melihat kedatangan sang makhluk durjana, sementara Yara juga melebarkan kedua pipil matanya saat melihat penampakan itu.
"Dia sebenarnya laki-laki atau perempuan?" Yara merasa bingung dan terheran-heran.
Wanita itu tersenyum manis sambil melangkah masuk untuk menghampiri Ryder, tentu saja dengan sebuket bunga di tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Shanto?"
Prak.
Ryder terlonjak kaget saat buket bunga yang dibawa oleh wanita itu mendarat di lengannya, begitu juga dengan Yara yang langsung beranjak bangun dari sofa.
"Shanto Shanto, namaku itu Shanty. S-h-a-n-t-y, Shanty. Bukan Shanto atau Sumanto," ucap seseorang yang mengaku bernama Shanty, dan bukannya Shanto dengan kesal.
"Cih, emang dasar kau makhluk jadi-jadian."
Ryder mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan wanita itu, sementara Yara tampak menundukkan kepalanya karena sedang menahan tawa.
"Terserah siapa namamu, tapi apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ryder kembali.
Shanty yang sempat kesal kembali tersenyum cerah, dia merapikan buket bunga yang tadi mendarat di lengan Ryder.
"Aku datang untuk memastikan kapan kau dikubur." Shanty menjawab dengan ringan, seringan dia bernapas.
"Si*alan!"
Ryder langsung memaki penuh kekesalan, bisa-bisanya dia kenal dengan makhluk seperti itu. Namun, tunggu dulu. Jika Shanty ada di sini, itu artinya ...
"Kau datang dengan-"
Brak.
__ADS_1
Lagi-lagi pintu ruangan itu di buka dengan kuat membuat mereka semua terlonjak kaget. Belum sempat Ryder menyelesaikan ucapannya, ternyata firasat buruknya benar-benar terjadi.
"Hello, Bro. Masih hidup aja lo?"
Dua orang lelaki tampak melangkah masuk ke dalam ruangan yang diyakini adalah teman-teman Ryder, membuat laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar kurang ajar. Mereka sudah ku larang agar tidak datang kemari, tapi tetap saja datang dan membuat keributan."
Ryder benar-benar sangat kesal. Sudah berulang kali dia mengatakan untuk tidak datang dan mengganggunya, tetapi lihat. Mereka malah datang beramai-ramai dengan bangga.
Begitulah rakyat Indonesia, semakin dilarang maka mereka akan semakin melakukannya.
Yara yang sejak tadi diam beranjak ke arah pintu. Dia lalu memeriksa apakah pintu itu baik-baik saja setelah dua kali dibanting dengan kuat.
"Untung enggak lepas, bisa bahaya kalau menimpa orang lain." Yara menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau diam, Ryder? Apakah kecelakaan membuat mulutmu tidak bisa bicara?"
"Diam!" ucap Ryder dengan penuh penekanan. "Aku kan sudah melarang kalian datang, kenapa sekarang kalian ada di sini?" Dia menatap mereka semua dengan tajam.
"Kenapa? Apa kami tidak boleh mengunjungimu?" Laki-laki bernama Bisma itu mendudukkan tubuhnya di ranjang, tetapi secepat kilat Ryder mendorongnya.
Melihat kedatangan teman-teman Ryder, Yara berpikir untuk pergi sebentar ke mushollah. Kebetulan sekarang sudah masuk waktu zuhur, dan sudah ada yang menemani laki-laki itu.
"Ayolah, Ryder. Kakakmu ini sangat merindukanmu," seru Alan, yang merupakan teman Ryder juga.
"Maaf mengganggu obrolan kalian semua."
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Ryder yang baru sadar jika Yara masih ada di ruangan itu juga.
Ketiga teman Ryder membulatkan mata mereka saat melihat Yara. Mereka memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah, dan terus seperti itu sampai membuat Yara merasa risih.
"Maaf. Aku tinggal keluar sebentar ya, Ryder."
Ryder langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Yara. "Tidak usah, mereka sudah mau pulang kok." Pengusiran secara paksa kepada tiga temannya itu, tetapi sayangnya mereka tidak merasa.
"Dia siapa, Ryder? Apa malaikat yang akan menjemputmu?" tanya Shanty.
__ADS_1
"Malaikat kepalamu!" Ryder mendengus sebal dan langsung menyuruh mereka untuk pergi dari ruangannya saat ini juga.
"Tunggu, jangan-jangan dia adalah wanita yang- aarrgh!" Alan mengerrang kesakitan saat tangan Ryder mencubit punggungnya dengan sangat kuat, hingga membuat semua orang tersentak kaget karenanya.
"A-ada apa?" tanya Yara dengan khawatir, dia yang akan mendekat langsung berhenti saat mendengar ucapan Ryder.
"Di-dia tidak apa-apa. Dia memang sering seperti itu, sejenis penyakit keturunan."
Yara mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Ryder. Memangnya ada, penyakit keturunan seperti itu?
"Pergilah kalau kau memang kau pergi, tapi jangan kembali terlalu lama," sambung Ryder kemudian.
Yara diam sejenak sambil menatap salah satu teman Ryder yang masih terlihat kesakitan. Kemudian dia mengangguk, dan berlalu keluar dari ruangan itu.
Ryder menghela napas lega saat melihat Yara sudah keluar. Hampir saja temannya itu mengatakan sesuatu yang sangat dia haramkan.
"Dasar si*alan." Maki Alan sambil meninju lengan Ryder. "Kenapa kau mencubitku?" Dia mengusap-ngusap punggungnya yang terasa berdenyut.
"Makanya diam," ketus Ryder. "Lebih baik kalian pergi sekarang, aku tidak mau kalian mengangguku." Untuk kesekian kalinya dia kembali mengusir mereka.
"Halah Ryder, aku tahu kenapa kau tidak mau diganggu." Bisma tersenyum miring sambil menaikkan sebelah alisnya. "Wanita itu yang akan kau pertaruhkan bukan?"
Ryder kembali menghela napas kasar. Dia benar-benar merasa frustasi saat ini. Jangankan untuk dipertaruhkan, dia bahkan belum bisa mendekati Yara.
"Kalau modelan jandanya seperti wanita itu, aku bahkan rela melepaskan 10 gadis perawan," ucap Alan yang langsung diangguki oleh Shanty dan juga Bisma.
"Tutup mulutmu, dia bukan wanita seperti itu," bantah Ryder dengan sangat tidak suka membuat ketiga temannya menatap curiga.
"Aku akan membawa Kimberly dan Sena minggu depan, jadi kau juga harus membawa wanita itu. Aku akan mempertaruhkan mereka sebesar 1 milyar."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1