
Aku berdiri di tengah panasnya padang pasir ini.
Oliver berdiri di sebelahku sambil memegang sebuah pedang besar. Kini perlengkapannya sangat lengkap. Zirah Mithril yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, pelindung kepala beruba helm, serta pelindung tangan dan kaki yang juga terbuat dari Mihtril.
Semua Item itu dibuat oleh Tasmith. Termasuk pedang besar itu. Tentu saja tingkatannya yaitu Unique.
Meski pun mereka berdua sering terlibat cekcok satu sama lain, tapi pada akhirnya mereka hidup rukun dengan cara mereka sendiri.
Dibelakang kami berdua, terdapat puluhan ribu pasukan Goblin dengan perlengkapan ala kadarnya. Meski begitu, mereka semua setidaknya berada pada level 50. Aku membutuhkan waktu berhari-hari untuk memanggil mereka semua.
Sedangkan dihadapan kami?
Nampak pasukan barbar yang berjalan kesana kemari dalam kelompok kecil. Setiap kelompok berjumlah sekitar 10 orang. Sedangkan kelompok yang ada sangatlah banyak dan tersebar di seluruh padang pasir ini.
Aku telah mencoba untuk membunuh beberapa dari mereka dan tebakanku memang benar. Mereka diklasifikasikan sebagai ‘Monster’ sehingga akan mengalami Respawn setelah beberapa saat.
“Tapi kenapa mereka bisa bergerak keluar dari wilayahnya dan menyerbu peradaban? Apakah sebuah settingan dari sistem? Entahlah….”
Dengan segera aku membagi puluhan ribu goblin itu menjadi ratusan kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 50 Goblin dan dipimpin oleh Goblin tingkat Epic. Mereka semua menyebar ke segala arah di padang pasir ini, membantai apapun yang ada dihadapan mereka.
Meskipun…. Semua yang ada disini hanyalah Barbarian dan beberapa hewan buas.
Aku dan Oliver hanya duduk santai diatas bukit batu. Notifikasi sistem yang muncul dihadapanku benar-benar sangat memuaskan.
[Anda telah memperoleh 803.947 Experience Point!]
[Anda telah memperoleh 843.211 Experience Point!]
[Anda telah memperoleh ….]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah memperoleh …. ]
“Hahaha…. Levelku terus menerus naik dengan sangat cepat! Yah, wajar saja karena aku baru saja kembali ke level 70 karena memberi Lucien sebuah Trait.” Ucapku dengan senyuman puas. Oliver yang mendengar itu juga terlihat ikut senang.
“Tuanku…. Apakah aku boleh ikut bertarung?” Tanya Oliver dengan wajah sedikit takut. Mungkin karena aku akan menolaknya?
“Melihat kondisinya saat ini…. Kurasa takkan sulit bagimu untuk menang. Lagipula kau telah mencapai level 153 kan. Tapi bawa mereka sebagai jaminan keamanan. Soul Container….”
Di hadapanku muncul 5 Goblin Knight tingkat Epic yang selalu kusimpan untuk berjaga-jaga. Level mereka berada pada kisaran 90. Aku memerintahkan mereka berlima untuk menemani Oliver berburu.
Mengingat rata-rata level Barbarian di bagian terluar Padang Pasir ini hanya berkisar pada angka 80 hingga 90, kurasa takkan ada masalah. Bahkan Field Boss yang ada yaitu Barbarian Chief hanya berada pada level 110.
__ADS_1
“Pergilah, Oliver. Mengamuklah sesuka hatimu.” Ucapku kepada Oliver sambil melihat pemandangan perburuan yang ada dihadapanku.
“Terimakasih telah mendengarkan permintaan egoisku, Tuan Eric!” Balasnya sambil sedikit menundukkan kepala.
Segera setelah itu, Oliver pergi bersama dengan 5 Goblin Knight. Tak lupa aku juga membekali mereka dengan Health Potion dan Stamina Potion. Aku harus mempersiapkan atas segala sesuatu yang mungkin terjadi.
Waktu terus berjalan….
Kini aku telah berbaring dengan santai tanpa alas di bukit batu itu. Apa yang kulakukan? Aku membuka MeTube melalui jendela menu sistem. Kini dihadapanku nampak jelas video Tutorial Angie.
Jujur saja berbagai videonya sangat bermanfaat bagiku. Terutama mengenai penjelasan berbagai jenis ‘Status’ yang dapat diberikan atau diterima. Stun, Slow, Freeze, Wet, Dry, Shock….
Aku mempelajari semuanya. Meskipun segera setelah itu aku lupa, aku hanya perlu memutar ulang videonya berkali-kali agar semua informasi itu tertanam di dalam otakku.
Tanpa kusadari, aku telah berbaring dan menonton MeTube selama 15 jam lebih di Dunia Virtual ini. Tubuh virtualku mulai merasa lapar. Akhirnya aku mengeluarkan beberapa kentang rebus dan memakannya. Tentu saja aku melakukannya sambil menonton video.
Saat aku masih sibuk dengan duniaku sendiri, terdengar suara yang seakan telah lama tak kudengar.
“Tuanku…. Aku mendengar kau memanggilku.” Ucap seorang Vampir dengan paras yang sangat menawan, Lucien.
“Kau!!! Darimana saja kau?! Aku mencarimu kemana-mana tapi kau!!!”
“Tentu saja…. Aku menaikkan levelku!” Balas Lucien sambil tersenyum.
“Sialan…. Apa gunanya pengawal pribadi jika kau tidak ada disampingku….” Ucapku sambil menghela nafas.
“Pe-pengawal… pribadi…. Aaah!!! Maafkan aku, Tuanku!!!”
Setelah itu Lucien merengek di tubuhku sambil terus menerus meminta maaf.
“Sudahlah, hentikan itu Lucien. Aku takkan mempermasalahkannya lagi. Tapi mulai sekarang, kau dilarang pergi terlalu jauh dariku. Kau mengerti?”
“Terimakasih banyak, Tuanku. Meskipun aku telah membuat kesalahan besar…. Kau memaafkanku dengan semudah itu…. Aaah! Benar-benar Tuan yang luarbiasa! Aku bersyukur pada Dewa Kematian karena telah dipertemukan ….”
Lucien kembali mengoceh hal-hal yang tidak jelas. Dewa Kematian? Apakah hal seperti itu memang ada di dunia virtual ini?
“Aturan baru…. Jangan panggil aku Tuan. Bersikaplah santai denganku karena kita akan sering bersama mulai sekarang….” Ucapku dengan nada santai.
“Baiklah, aku akan bersikap santai…. Tapi biarkan aku memanggilmu Tuan!”
Sialan. Apakah orang ini mengerti apa yang kumaksud?
“Terserah kau saja, Lucien. Sekarang…. Aku ingin menjelajahi wilayah Padang Pasir ini. Jika terdapat Dungeon dengan lawan yang kuat, aku ingin melatih kemampuanku dalam bertarung.”
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana jika kita mencari Dungeon di sekitar sini?”
Lucien dengan segera menyanggupi keinginanku. Kami berdua segera pergi berkelana di tengah padang pasir yang sangat luas ini. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menggunakan Skill [Assimilation].
Tubuhku yang telah menyerap kekuatan Lucien kini mampu menumbuhkan sayap kelelawar dan memungkinkanku untuk terbang.
Meskipun….
“Sialan! Bukankah kendalinya sangat sulit?! Aaaa!!! Aku akan jatuh!”
...***...
Wilayah Kerajaan Salvation.
Istana Kerajaan.
“Hee…. Jadi ini adalah Dungeon yang berada di bawah tanah kastilmu, Chris? Bahkan Dungeon ini tidak memiliki informasi…. Menarik!” Ucap seorang Wanita dengan rambut pirang, Angie.
“Apakah kau sudah puas? Pastikan kau merahasiakan hal ini, dengan begitu aku akan memperbolehkanmu untuk….”
Sebelum Chris sempat menyelesaikan perkataannya, Angie memotongnya dengan segera.
“Aku sudah berjanji padamu, Chris. Tenang saja. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana caramu meningkatkan level secepat itu. Oh…. Setiap monster disini berada pada level 70 keatas? Bahkan jumlahnya…. Hmm….” Gumam Angie pada dirinya sendiri.
“Jadi apa yang akan kau lakukan berikutnya, Angie?” Tanya Chris yang kebingungan dengan tingkah Angie.
“Tidak ada. Aku hanya penasaran saja dengan caramu untuk menaikkan levelmu dengan cepat. Setelah mengetahuinya kupikir aku akan memintamu untuk memperbolehkanku leveling disini. Tapi aku tidak jadi. Jika aku terus menerus membunuh sampah seperti ini, maka kemampuanku akan menumpul kau tahu?”
Segera setelah itu. Angie segera pergi meninggalkan Dungeon Barrack. Chris nampak semakin kebingungan dengan tingkah Angie. Meski mereka berdua berasal dari Amerika, tapi mereka tidak begitu mengenal satu sama lain.
“Aku akan mampir untuk memesan Item dari pandai besimu lain waktu, Chris! Terimakasih karena telah memperbolehkanku memesan Item itu!” Teriak Angie sambil pergi dari Istana itu.
“Pastikan kau tidak memberitahu siapapun!”
“Tenang saja! Aku berjanji!” Balas Angie sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...