
14 Mei 2073.
Beberapa hari telah berlalu semenjak kami tinggal di Imperial Hotel Tokyo.
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk bersantai dan menikmati hotel mewah ini bersama Elin. Selain itu, kami berdua juga berjalan-jalan di Tokyo dengan menggunakan taksi.
Meskipun kegiatan kami berdua cukup sederhana, tapi aku dan Elin sangat menikmatinya. Aku bahkan mulai berpikir untuk sesekali berlibur ke tempat lain tanpa adanya tanggungan kompetisi.
Tapi sekarang….
Aku dan Elin berada di sebuah stadion tertutup yang sangat besar. Di dalamnya terdapat banyak sekali proyektor hologram. Mulai dari yang kecil hingga yang terbesar di langit-langit bagian tengah stadion ini.
Di tengah stadion nampak ratusan kapsul VR berjejer dengan rapi. Itu semua akan digunakan oleh para pemain dalam bertanding nantinya.
Aku dan Elin berbaris di tengah-tengah bersama dengan ratusan peserta lainnya. Penonton nampak bersorak-sorak meskipun pertandingan belum dimulai.
Di hadapan kami, nampak pembawa acara yang menjelaskan semua peraturan serta tata cara penyisihannya.
“Terimakasih atas partisipasi kalian semua dalam penyisihan PVP di Kompetisi Internasional ini. Mengingat banyaknya jumlah peserta yang mengikuti PVP, maka akan dilakukan penyisihan sebelum pertandingan utama.
Sistem penyisihannya yaitu sederhana. Jika kalian menang, kalian akan lanjut ke babak berikutnya. Tapi jika kalian kalah di suatu babak, maka kalian akan gugur dan tidak bisa melanjutkan pertandingan. Hanya mereka yang sampai final yang bisa masuk ke dalam pertandingan utama.” Jelas pembawa acara itu.
Ia kemudian menjelaskan berbagai detail kecil seperti karakter dan panggung pertandingan yang akan digunakan. Setidaknya terdapat berbagai jenis panggung pertandingan dan semua akan diundi secara acak. Mulai dari padang rumput yang datar, pegunungan yang curam, daerah pantai, hutan bahkan gunung berapi.
“Perlu diingat! Penggunaan Potion dilarang selama pertandingan! Akan tetapi penggunaan senjata dan item sekali pakai seperti bom asap dan peledak diperbolehkan! Item yang akan digunakan akan menghilang jadi perlu diperhatikan dengan baik!” Lanjut pembawa acara itu.
Mendengarnya saja membuatku sangat bersemangat untuk bertanding. Meskipun…. Waktuku dalam bermain Re:Life berkurang dengan signifikan karena mengikuti acara ini.
Jujur saja aku sangat senang karena fasilitas hotel yang kusewa sangatlah luarbiasa. Mengetahui bahwa tamu mereka merupakan seseorang yang akan bertanding di Kompetisi Re:Life, mereka telah menyiapkan kapsul VR untukku dan Elin. Mungkin juga untuk peserta lainnya.
Oleh karena itu, aku masih bisa Log In dan memantau keadaan Benteng Perbatasan di Padang Pasir itu meskipun hanya sebentar. Bahkan aku juga bisa meningkatkan level dan perlengkapanku.
Aku telah memperoleh sepatu dan pelindung tangan tingkat Unique dari Tasmith. Sedangkan untuk pelindung kepala aku masih tidak menggunakan apapaun.
Levelku yang terus menerus jatuh bangun karena memberikan berbagai Trait kepada para petinggi Origin kini telah kembali. Setidaknya sedikit lebih tinggi dibandingkan saat aku mendaftar yaitu level 221.
Saat aku masih hanyut dalam pikiran dan semangatku sendiri, sebuah kalimat yang diucapkan oleh pembawa acara itu membuat heboh seisi stadion.
“Dengan demikian, Pertandingan Player Versus Player Babak Penyisihan Blok ke 14 akan segera dimulai!”
‘Proook! Prook! Prook!!’
Seluruh penonton yang ada di dalam Stadion ini nampak begitu semangat. Membuatku sedikit ragu akan babak ini.
“Bukankah ini babak penyisihan? Kenapa penontonnya sebanyak ini?” Tanyaku pada diriku sendiri.
Mendengar perkataanku, Elin segera menjawabnya.
“Itu karena adanya Miyamoto di blok ini.”
“Miyamoto? Siapa dia? Player Jepang?” Tanyaku kebingungan.
__ADS_1
“Benar, dia adalah salah seorang Official Ranker dari Jepang. Ia telah melakukan Rebirth sebanyak 1 kali dan kini berada di level 183. Sedangkan senjata yang Ia kenakan adalah sebuah Katana. Ia benar-benar bertarung seperti seorang Samurai.” Jelas Elin.
Katana? Apa itu? Tapi aku memahaminya setelah mendengar kata Samurai. Memangnya di dunia Re:Life terdapat Samurai? Entahlah. Tapi kurasa dia lawan yang sangat tangguh di blok ini.
Saat aku dan Elin sedang bersiap untuk memasuki kapsul kami masing-masing, seorang Pria dengan tubuh yang cukup tinggi menabrakku.
‘Bruk!’
“Ah… maaf aku sedang melamun.” Ucapku setelah bertabrakan dengannya.
“Hah! Jangan permalukan Negara Indonesia dengan sikap lemahmu itu! Aku yakin kau bahkan tidak bisa bertahan satu ronde disini!” Teriak Pria itu dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
“Eh? Apa maksudnya itu?”
Tanpa menjawab pertanyaanku, Pria itu sudah memasuki kapsul. Tapi Elin nampak menyadari kebingunganku dan segera menjelaskannya sambil berjalan menuju kapsul.
“Ilham Pratana. Salah seorang Ranker dari Indonesia yang telah melakukan 1 kali Rebirth dan memiliki level 162. Ia merupakan seorang tipe Tanker yang sangat kuat. Meskipun…. Aku tak pernah menyangka bahwa sifatnya seperti itu.”
Mendengar penjelasan Elin, aku hanya bisa terdiam sambil memasuki kapsul yang ditujukan untukku. Tapi di dalam hati, aku cukup ketakutan. Itu karena lawan setiap orang belum ditunjukkan sama sekali.
Hal itu dilakukan demi mencegah persiapan yang matang sebelum pertandingan. Tentu saja, setelah kami semua memasuki kapsul, daftar lawan tanding sudah terpampang jelas dan di proyeksikan di stadion ini.
Tapi dalam hatiku, aku merasa sedikit gelisa. Itu semua karena….
‘Kenapa banyak sekali Ranker kuat di blok ini?!’
...***...
Segera setelah aku Log In, pandanganku berubah.
Di kejauhan, nampak seorang Wanita yang mengenakan busur sebagai senjatanya.
“Apakah dia lawanku?” Ucapku sambil mengeluarkan Staff of Enigma dari dalam Inventoryku.
Di bagian tengah antara tubuhku dan Wanita itu nampa sebuah kubus besar yang terus menerus berputar. Di seluruh sisi kubus itu nampak sebuah angka yang berkurang secara perlahan.
87… 86… 85….
“Ah jadi ini Timer yang dimaksud oleh pembawa acara itu?”
Aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin. Jika Ia menggunakan busur sebagai senjatanya, maka Ia akan bertarung dari jarak jauh. Begitu juga aku yang menggunakan tongkat sihirku.
Meskipun…. Aku tidak berencana untuk menggunakan kekuatan Summoning milikku. Itu semua karena aku tidak ingin identitasku di dunia virtual sebagai seorang Summoner atau bahkan Dungeon Master tersebar.
Setelah meyakinkan diriku soal itu, aku segera melakukan pertarungan di dalam imajinasiku sendiri. Membayangkan situasi seperti apa yang akan terjadi jika aku menggunakan skill tertentu. Begitu juga mengenai serangan yang mungkin Ia lancarkan.
Semua hasil latih tandingku dengan Lucien membuahkan hasil yang luarbiasa. Aku mulai bisa memikirkan cara bertarung yang sedikit lebih baik. Meski begitu, aku merasa perjalananku menjadi lebih kuat masih panjang.
Tanpa terasa….
‘Triiiing!!!’
__ADS_1
Waktu sudah habis. Menandakan pertandingan telah dimulai.
Aku berencana untuk mengulur pertarungan dengan menggunakan Mana Shield untuk mengukur kekuatannya terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menghujaninya dengan berbagai sihir.
‘Wuuoosh! Wuoossh!! Wuooossh!!!’
Tiga buah anak panah melesat dengan sangat kencang ke arahku. Tapi itu semua sia-sia. Itu karena aku pernah melihat panah yang jauh lebih mematikan. Sebuah tembakan dari Dark Elf!
‘Ttraang!!!’
Seluruh anak panah itu memantul ketika mengenai Mana Shield yang kubuat di depanku.
[Anda telah menerima 3.239 damage!]
[Mana Shield telah menahan damage yang Anda terima!]
[Mana telah berkurang sebesar 9.717]
[Anda telah menerima … ]
‘Damage yang diberikan cukup besar juga….’ Pikirku dalam hati.
Di kejauhan nampak pemanah itu segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah batu yang besar. Aku merasa hal itu merupakan sebuah kesalahan karena Magic Missile merupakan sebuah skill tipe Target yang akan mengejar targetnya.
“Magic Missile!” Teriakku sambil mengarahkan ke arah batu besar itu.
Tapi hal yang mengejutkanku terjadi.
Peluru sihir yang seharusnya bergerak mengikuti target di balik batu itu justru mulai berbelok ke kanan. Seakan….
‘Jleb!!!’
Tanpa kusadari sebuah pisau telah menancap di punggungku.
[Anda telah menerima 4.532 damage!]
[Anda terkena efek racun mematikan!]
[Anda menerima 1.000 damage per detik!]
[Anda terkena efek Paralysis!]
[Anda tidak dapat bergerak selama 2 detik!]
Tak berhenti sampai di sana, Wanita itu berdiri tepat di belakang tubuhku. Menunggu datangnya Magic Missile.
Tepat sesaat sebelum kontak dengan Magic Missile itu, Ia segera memutar tubuhnya dan kini berada di depan tubuhku.
Peluru sihir yang tak memiliki cukup ruang dan waktu untuk berbelok menabrak tubuhku dengan kuat.
‘Duuaaar!!!’
__ADS_1
[Anda telah menerima 6.114 damage!]
‘Sialan! Pemanah ini sangatlah kuat!’