The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 247 - Hasil Akhir


__ADS_3

Pada saat keempat pemain dari Indonesia itu keluar dari dalam kapsul, tak ada satu orang pun yang bersorak.


Bahkan sang pembawa acara pun hanya bisa terdiam seakan tak bernyawa.


Bukan karena mereka tidak menghargai, ataupun menyukai pertarungan yang dilakukan oleh pemain dari Indonesia itu. Akan tetapi, mereka sama sekali tak bisa mempercayai bahwa Boss yang sekuat itu, bahkan bisa dikalahkan hanya dalam waktu kurang dari 2 menit.


Semua orang tak bisa berkata-kata mengenai kejadian yang baru saja mereka lihat. Maka dari itu, saat ini mereka hanya terdiam dan membisu.


Hingga akhirnya, sang pembawa acara adalah yang pertama kali tersadar dan mulai berbicara.


"Su-sungguh lu-luar biasa! Mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk tim dari Indonesia!"


Segera setelah itu, perayaan kecil-kecilan pun dilakukan di atas panggung. Keempat pemain dari Indonesia itu sangat ramah dan mau menjumpai semua fan baru mereka.


...***...


...Ruang Tim Indonesia...


"Buahahahaha! Aku masih tidak bisa percaya bahwa kita akan memperoleh peringkat pertama!" Teriak Ilham sambil menghantamkan gelas kaca di meja itu hingga menumpahkan sebagian cairan di dalamnya.


"Sungguh tak beradab. Bisakah kau berhenti melakukan itu?" Ucap Renata kesal melihat tingkah Ilham.


"Aku setuju. Jika saja panahku ada di dunia ini, aku sudah akan menembak kepalanya ratusan kali." Sambung Febri dengan nada kesal.


Meski suasana ruangan dipenuhi dengan pembicaraan dan kehebohan tak hanya dari mereka bertiga, tapi juga pemain dari Indonesia yang lain, Eric masih terdiam menatap ponselnya.


"Hmm?! Kenapa malah kau yang paling diam Erik? Harusnya kau lebih merayakannya!" Teriak Ilham sambil mulai meletakkan kaki kanannya di atas meja.


Renata dan Febri yang kesal dengan tingkah Ilham pun segera menyingkir dan pindah tempat duduk.


Sedangkan Erik....


"Maaf, istriku sedang tak enak badan. Aku harus segera kembali. Ah, soal hadiahnya, rundingkanlah dengan anggota dari keseluruhan tim. Aku ingin membantu agar tim Indonesia semakin kuat kedepannya. Kalau begitu, sampai jumpa." Ucap Erik sambil meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun.


Semua orang yang melihat tingkahnya hanya bisa terdiam, kecuali Ilham.


"Rawatlah dengan baik istrimu itu. Bukankah dia sudah memasuki bulan kedua kehamilannya?"


Tanpa menjawab, Erik hanya tersenyum tipis dan mengangguk ringan.


Kini, seisi ruangan dipenuhi dengan keheningan.


Sebagian besar masih memikirkan skill apa yang sebenarnya digunakan oleh Erik untuk bisa mengalahkan Elder Ice Dragon dalam waktu kurang dari dua menit.


Beberapa berspekulasi bahwa skill yang digunakan adalah skill tingkat legendaris. Beberapa yang lain berpikir bahwa itu adalah efek dari Overbuff yang diperoleh Erik dan juga status [Wet] pada lawannya.

__ADS_1


Tak hanya tim dari Indonesia, tapi juga seluruh dunia masih membingungkan mengenai hal ini.


Meski begitu, beberapa orang memiliki pemikiran yang berbeda dengan yang lain.


'Bukankah Elin terlalu beruntung memiliki suami sebaik Erik?'


Beberapa pemikiran itu muncul dari gadis-gadis yang ada dalam tim Indonesia setelah melihat tingkah Erik sebelumnya.


Tanpa Erik sadari, beberapa dari mereka telah....


...***...


...Hotel...


"Yo, Elin. Apa kabarmu?" Ucap Erik sambil muncul secara tiba-tiba dari balik pintu kamar itu.


"Bukankah lebih tepat jika kau bilang 'bagaimana' daripada 'apa'? Hah, lagipula aku sudah menjelaskan semuanya di pesan singkat yang ku kirim sebelumnya kan." Keluh Elin kesal sambil terus berbaring di ranjang yang besar itu.


Mengabaikan perkataan Elin, Erik mengambil sesuatu yang Ia letakkan di depan pintu kamar itu.


Sebuah kantung plastik yang berisi entah apa itu, Ia berikan kepada Elin yang masih berbaring dengan lemas.


Melihat hal itu, mata Elin nampak berbinar seakan mengharapkan sesuatu yang 'wah' dari suaminya.


Akan tetapi, Erik yang memahami apa arti dari tatapan Istrinya itu segera berbicara.


"Terimakasih.... Bagaimana kau bisa tau aku sedang sangat menginginkan cokelat hari ini?" Tanya Elin sambil segera membuka dan mematang satu dari lima coklat batangan berukuran besar itu.


"Insting suami? Mungkin bisa disebut seperti itu." Balas Erik sambil tersenyum dan membelai rambut Elin.


Pada akhirnya, mereka berdua menikmati sisa waktu di hari ini dengan menonton film bersama. Elin yang seakan sedang gila makan, telah menghabiskan semua cokelat dan roti isi yang diberikan oleh Erik hanya dalam waktu setengah jam.


...***...


...Federasi Pedagang...


...Suatu Kota di Wilayah Utara...


Di dalam sebuah toko terbesar.... Atau lebih tepatnya istana di Kota ini, tiga orang nampak berjalan dengan santai. Beberapa penjaga yang membawa tombak terlihat mempersilakan ketiga orang itu masuk.


Kini, di hadapan mereka....


Terlihat sosok salah seorang pedagang terbesar di Federasi Pedagang.


"Tuan Verickson, kami hadir setelah menerima undangan Anda." Ucap pedagang gemuk yang mengantar Aamori serta Valis itu.

__ADS_1


Mereka berdua hanya berdiri dengan santai sambil mengikuti seluruh alur yang ada.


"Hoho.... Jadi kalian berdua yang ingin mencari pusaka ini?" Ucap Verickson sambil memandangi suatu kotak kaca yang begitu indah.


Di dalam kotak kaca itu, terlihat kalung yang begitu indah dengan warna emas dan banyak sekali permata yang indah.


"Bisakah aku melihatnya?" Tanya Aamori kepada Verickson.


"Hanya melihat." Balas Verickson singkat sambil segera mempersilakan Aamori untuk melihatnya.


Tanpa ragu, Ia segera memperhatikannya bersama dengan Valis. Setelah beberapa saat, dua orang itu mengangguk seakam telah puas dengan apa yang mereka lihat.


"Jadi, berapa harganya?" Tanya Aamori singkat.


Sang pedagang besar itu hanya membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan pertanyaan Aamori.


"Berapa? Pusaka ini tak bisa dinilai dengan uang. Untuk bisa membelinya, kau harus mempersiapkan pusaka atau sesuatu yang menurutku jauh lebih bernilai daripada kalung ini!" Teriak Verickson tersenyum licik.


'Sudah kuduga.' Pikir Aamori dalam hati sambil menyipitkan sedikit matanya.


"Maaf tapi aku hanya memiliki beberapa berlian dan juga...."


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Verickson segera memotongnya.


"Maaf tapi barang-barang sampah itu sama sekali tak ada nilainya jila dibandingkan dengan pusaka ini. Aaah.... Tapi jika dengan cincinmu itu kurasa...."


"Cincin ini tidak dijual." Balas Aamori dengan cepat.


"Sangat disayangkan. Kalau begitu segeralah pergi dari sini."


Verickson pun nampak bersiap untuk menutup kembali barang dagangannya yang luarbiasa mahal itu. Hal yang wajar, karena kalung itu adalah buatan langsung dari Arroth.


Aamori yang tidak puas dengan hasil ini, segera kembali mengajukan pertanyaan. Bagaimanapun, dia harus bisa memperoleh kalung itu untuk bisa menyelesaikan Quest ini.


"Apakah tidak ada yang bisa hal lain yang bisa ku lakukan untuk memperoleh kalung itu?" Tanya Aamori.


"Sayang sekali tidak. Bangsawan besar dari Kekaisaran Avertia akan datang dan telah menitipkan pesan. Pesan itu berisi bahwa dia akan membeli kalung ini dengan sebuah kota di Kerajaan Ilandis.


Jika kau tidak bisa menyiapkan harga yang sama atau lebih besar dari itu dalam waktu dua bulan, maka aku sudah akan menjual kalung ini kepadanya." Balas Verickson dengan tegas.


Tapi sebelum membiarkan siapapun berbicara, termasuk Valis yang terlihat kesal itu, Verickson kembali berbicara.


"Aah, jangan memikirkan hal bodoh seperti mencuri atau membunuhku untuk mengambil paksa kalung ini. Bahkan aku sendiri pun bisa membunuh kadal api itu."


Tatapannya yang sangat tajam ke arah Valis secara langsung membuat bahkan Fire Draconic tingkat tinggi itu merinding. Ia menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh Verickson itu benar adanya.

__ADS_1


Sebuah kekuatan....


Yang diperoleh melalui kekayaan yang telah Ia bangun selama ratusan tahun lebih sebagai pedagang.


__ADS_2