
...Wilayah Kerajaan Farna...
...Ibukota Forgia...
Forgia merupakan Ibukota yang terletak di bagian Selatan dari Kerajaan Farna. Sebuah kota yang didirikan atas fokus utama yang pengolahan berbagai bahan tambang menjadi berbagai peralatan. Sungguh, kota yang sangat cocok untuk ditinggali para pandai besi.
“Kota ini sangatlah indah jika dilihat dari atas sini. Meskipun, kini terlihat bahwa jumlah prajurit mereka semakin rendah. Apakah kau setuju, Lucien?” Tanyaku kepada Lucien yang kini telah berasimilasi denganku.
“Tentu saja, Tuanku.” Balasnya singkat.
Aku pun segera mengepakkan sayap kelelawarku dan bergerak ke arah barak yang berada di bagian Utara kota itu.
“Si-siapa kau?!”
“Panggil yang lainnya!”
Seluruh prajurit yang melihatku mulai berteriak dan mengarahkan senjata mereka kepadaku. Aku hanya terdiam sambil memasukkan kembali sayap kelelawar itu ke dalam tubuhku.
“Tenang saja. Aku bukanlah orang yang mencurigakan.” Ucapku sambil tersenyum kepada beberapa prajurit dengan lambang api merah itu.
“Seorang Iblis berkata bahwa dirinya bukanlah seseorang yang mencurigakan?” Ucap seorang Ksatria yang berjalan mendekatiku. Zirah Mithril dengan warna putih mengkilap itu membalut tubuh kekarnya.
“Jendral Agmar! Pria ini tiba-tiba turun dari langit dan memiliki sosok seperti seorang Iblis!” Ucap salah satu Prajurit.
‘Tak kusangka akan segera bertemu dengannya.’ Ucapku dalam hati.
“Persiapkan barisan! Kita akan segera….”
Sebelum Ia selesai memberikan perintah kepada bawahannya, aku segera memotongnya.
“Bagaimana jika kita berbicara mengenai suatu hal terlebih dahulu, Jendral Agmar? Terutama mengenai niatmu yang sebenarnya pada tanggal 13 Juli tahun 2073 yang lalu.” Ucapku sambil membuat senyuman yang lebar.
Agmar yang sebelumnya telah mengangkat pedangnya di udara dan bersiap untuk memimpin pasukan, kini terlihat pucat dan lemas.
“Ba…. Aku tidak tahu apa maksudmu!” Teriak Agmar berusaha untuk bermain tidak tahu apapun.
Tapi aku tahu. Berdasarkan percakapannya dengan anggota Partynya pada saat berusaha menaklukkan Dungeon Treasure…. Aku dengan jelas mendengarnya.
“Coba kuingat-ingat, kalau tidak salah korbankan pasukan untuk….”
‘Slaassh!!! Ttraaang!!’
Seketika Agmar mengayunkan pedangnya ke arah leherku. Dengan tepat, aku berhasil menahannya menggunakan zirah yang ada di pergelangan tanganku.
“Oh?! Apakah kau mulai tertarik dengan percakapan kita? Bagaimana jika aku membeberkannya kepada semua orang?” Ucapku sambil sedikit tertawa.
Para prajurit yang mendengarkan percakapan kami berdua mulai nampak kebingungan. Beberapa diantaranya terlihat saling bertanya satu sama lain mengenai apa maksudku. Bahkan salah seorang prajurit nampak ingin bertanya kepadaku.
Tapi sebelum itu, Agmar telah angkat bicara.
“Mari kita bicarakan di ruanganku.”
...***...
__ADS_1
“Kau berencana untuk mengancamku dengan itu?” Tanya Agmar segera setelah menutup pintu ruangannya di barak pasukan ini.
“Tidak tidak! Jangan salah sangka dulu. Aku hanya ingin membangun hubungan kerjasama yang saling menguntungkan denganmu.” Balasku sambil bersandar di dinding.
“Hubungan kerjasama yang saling menguntungkan? Apa maumu? Katakan dengan jelas!” Teriak Agmar sambil memelototi diriku.
“Bukankah kau ingin kekayaan? Bagaimana jika kau menukar kerajaan ini untuk kekayaan itu?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Menukar…. Apa maksudmu?!”
Agmar mulai kebingungan mendengar tawaranku.
Segera setelah itu, aku menjelaskan rencanaku dengan detail kepada Agmar. Hal paling mendasar yang menjadi pondasi rencanaku adalah keretakan internal yang ada di Kerajaan Farna.
Agmar yang mendengarkan rencanaku nampak begitu antusias. Di wajahnya yang garang itu terlihat sebuah senyuman yang sangat lebar dan terkesan jahat.
Tentunya, tujuan awalku hanyalah untuk memanfaatkan posisi Agmar sebagai seorang Jendral di Kerajaan Farna. Jika Ia tak berkhianat, maka itu adalah hal yang bagus.
Tapi aku sendiri sangat yakin bahwa Ia akan berkhianat di menit-menit terakhir. Oleh karena itu, aku akan mempersiapkan rencana kedua.
Dan begitulah, awal mula kerjasama yang saling tidak mempercayai antara diriku dengan Agmar dimulai.
...***...
“Tidak cukup…. Jika begini saja maka tidak akan pernah cukup….” Ucap seorang Wanita dengan rambut pirang di tengah hutan lebat ini.
Tangan kanannya nampak memegang sebuah pedang satu tangan. Sedangkan di tangan kirinya nampak sebuah tongkat sihir dengan batu Mana berukuran sedang dan berwarna biru di ujungnya.
‘Kreseek! Srreekk!!’
‘Srraakk!!! Kreeek!!!’
Seketika, beberapa pohon di sekitar semak belukar yang bergerak itu mulai roboh. Di baliknya, terdapat sosok monster yang sangat mengerikan.
Tubuhnya berupa pohon raksasa yang nampak sudah lapuk dan berlubang di beberapa sisi. Tinggi monster ini mencapai 8 meter lebih dengan lebar tubuhnya yang mencapai 2 meter.
“Manusia. Kenapa. Kau. Mengganggu. Kami.” Ucap monster itu dengan suara yang terpatah-patah. Hal yang wajar mengingat wujud dari monster itu.
“Elder Ent ya? Tidak…. Ancient Ent? Kurasa aku sangat beruntung hari ini. Kalian dengar?! Ini adalah mangsaku!” Ucap Wanita itu sambil mengarahkan tongkat sihirnya kepada monster itu.
Kedua mata Wanita itu nampak mulai bercahaya. Sesaat setelah itu, informasi mengenai status lawannya terlihat dengan jelas di hadapannya.
[Ancient Ent]
[Ras : Ent]
[Rarity : Legendary]
[Tipe : Rare Field Boss]
[Level : 386]
Health Point : 48.942.120
__ADS_1
Mana Point : 2.432.850
Stamina Point : 1.129.500
Attack Power : 32.539
Magic Power : 4.634
Defense : 18.245
“Monster yang hanya tebal saja takkan bisa menjadi lawanku. Persiapkan dirimu untuk menjadi batu pijakanku! Kalian semua, jangan ganggu aku!” Ucap wanita itu sambil berlari ke arah Ancient Ent itu.
Kecepatan gerakannya setara dengan seorang Assassin. Meski begitu, perlengkapan yang Ia kenakan hampir mirip dengan seorang Warrior yaitu zirah logam tipis yang ringan serta pelindung berbahan kulit hewan.
Pedang yang ada di tangan kanannya seketika mulai menghilang. Tidak ada setengah detik, kini tangan kanannya telah memegang sebuah tongkat sihir yang berbeda. Dengan kata lain, Wanita itu menggunakan dua tongkat sihir sekaligus.
Hal yang sangat aneh jika diperhatikan oleh pemain biasa. Tapi di tangannya….
Tongkat sihir yang ada di tangan kirinya memunculkan lingkaran sihir berwarna hijau yang indah. Sebuah warna yang menandakan bahwa sihir elemen angin sedang digunakan.
Sedangkan tongkat sihir yang ada di tangan kanannya memunculkan lingkaran sihir berwarna merah menyala. Sebuah warna untuk sihir elemen api.
Dalam waktu yang bersamaan. Hal itu terjadi.
Sebuah sihir angin tingkat tinggi [Whirlwind] menghasilkan sebuah pusaran angin bertekanan tinggi yang mengarah ke Ancient Ent itu. Bersamaan dengan itu, sebuah sihir api tingkat tinggi [Inferno] juga mengarah ke lawannya.
Sebuah penerapan dari kemampuan ‘Double Casting’ yang hampir mustahil untuk dilakukan. Pasalnya, seorang Player harus memikirkan nama dua skill secara bersamaan agar mampu mengaktifkan dua skill sekaligus.
Segera setelah itu, kedua sihir itu nampak saling menguatkan satu sama lain. Sudah sebuah pengetahuan umum bahwa beberapa elemen sihir mampu saling menguatkan satu sama lain. Sebagai contoh yaitu elemen air yang diikuti dengan elemen petir.
Hal yang sama juga terjadi pada elemen angin dan api.
‘WUUUUUOOOOSSH!!!’
Pusaran angin raksasa yang muncul hanya memperkuat sihir api yang seharusnya memiliki luasan serangan yang rendah itu. Kini tak hanya jangkauan serangan sihir api itu saja yang meningkat, melainkan damagenya juga meningkat dengan drastis.
Wanita itu segera mengarahkan dua tongkat sihirnya ke atas dan membakar seluruh tubuh Ancient Ent itu.
[Anda telah memberikan 119.153 damage!]
[Anda telah memberikan 135.294 damage!]
[Anda telah memberikan …. ]
Notifikasi itu terus menerus bermunculan setiap setengah detik. Tak cukup sampai disitu saja.
[Target telah terbakar!]
[Efek debuff Burn telah memberikan 10.000 damage per detik!]
Nampak senyuman yang indah di wajah Wanita berambut pirang itu. Segera setelah durasi sihirnya berakhir, Ia mengganti dua tongkat sihirnya dengan kapak di masing-masing tangannya.
“Sekarang, bersiaplah untuk memberikan EXP sebanyak mungkin kepadaku!” Teriak Wanita itu sambil berlari kencang dan bersiap untuk mencincang pohon raksasa itu.
__ADS_1
Dan begitulah, pertarungan melawan monster tingkat tinggi yang bahkan berada di luar bayangan Top Player berlangsung tanpa ada yang mengetahuinya.
Tentu saja, selain 11 orang yang sedang memperhatikan pertarungan Wanita itu.