
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
“Lucien, apa katamu?!” Teriak Arlond penuh dengan rasa terkejut.
“Kami akan segera memulai pembantaian keluarga kerajaan. Pastikan kau sudah bersiap untuk mendapat dukungan menjadi raja baru. Ingat ini, Arlond. 4 hari lagi kami akan memulainya.” Jelas Lucien sambil kembali menghilang di bayangan.
Kini, Arlond kembali sendirian di bawah pohon apel di sebuah bukit kecil ini. Ia merebahkan tubuhnya di rerumputan itu sambil memandangi langit yang berawan.
‘Eric…. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?’ Tanya Arlond dalam hati.
...***...
...Kerajaan Farna...
...Kota Lesta...
“Kurasa untuk saat ini sudah cukup.” Ucapku kepada diriku sendiri sambil memandangi tumpukan slime yang hampir tak terhitung jumlahnya di hadapanku.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan memulainya.” Ucap Evan sambil mengambil tongkat sihirnya.
Seketika, tongkat sihir yang digunakan oleh Evan mulai bercahaya. Tapi bukan cahaya yang luarbiasa. Apa yang digunakan oleh Evan adalah sebuah skill sederhana namun sangat mematikan jika musuh sangat banyak dan berdekatan antar satu sama lain.
“Burn.” Ucap Evan singkat. Segera setelah itu, api berukuran yang cukup kecil mulai melahap salah satu slime.
Dua… empat… delapan….
Api itu terus menerus meluas dan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu. Hingga akhirnya, api kecil itu telah menjadi raksasa dan melahap seluruh tumpukan slime yang ada.
Notifikasi sistem muncul di hadapan Evan segera setelah itu.
[Anda telah membunuh 34.241 Slime!]
[Anda telah memperoleh 785.239 Experience Point!]
[Anda telah memperoleh 34.241 Jiwa!]
[Efek dari Necropolis telah aktif! Jumlah Jiwa yang diperoleh telah meningkat sebesar 50%]
“Aku tak pernah menyangka bahwa kita dapat melakukan hal bodoh tapi sangat efektif seperti ini.” Ucap Evan sambil tersenyum tipis.
“Hahaha! Apapun itu, yang terpenting adalah cara ini sangat efektif. Dengan begini, kau tak akan mengalami masalah mengenai kekurangan jiwa kan?” Tanyaku sambil tertawa.
“Kurasa kau lebih gila dariku, Eric.” Balas Evan singkat.
Dan begitulah, pemanenan Jiwa yang dilakukan oleh Evan dengan bantuan Eric berjalan dengan sangat lancar. Termasuk juga pembangunan Dungeon di bawah Kota Lesta yang akan terhubung dengan Dungeon Origin.
Persiapan untuk pertahanan melawan pasukan Ksatria Suci telah siap.
Yang tersisa, hanyalah memperoleh Kerajaan Farna di bawah kendali Arlond.
...***...
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
__ADS_1
...Malam Hari...
Hari yang dijanjikan telah tiba.
Suasana di Ibukota Kerajaan Farna masih sama seperti biasanya. Sangat ramai dan padat penduduk. Banyak toko besi terlihat mengepulkan asap hitam yang mengotori udara meskipun sudah malam. Sedangkan di bagian Istana Kerajaan?
Suasananya sedikit berbeda.
“Siapa kau?!” Teriak beberapa penjaga setelah melihat sosok dua orang asing yang memasuki Istana tanpa ijin itu.
“Fufufu…. Hari ini, kami akan menunjukkan kepada kalian kekuatan dari Dewa Kematian.” Ucap seorang Pria dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya itu. Bahkan kepalanya terlihat tertutup oleh tudung jubah yang semuanya serba hitam.
“Kalian bukanlah target kami. Jika tak ingin mati, maka segeralah menyingkir.” Ucap seorang Wanita yang ada di sebelah Pria itu. Ia juga mengenakan jubah yang serba hitam dan terlihat menutupi seluruh tubuhnya.
“Jangan berpikir bahwa kalia….”
‘Slaasshh!! Slaassssh!!’
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, kepala seluruh penjaga itu telah melayang di udara. Mereka bahkan tak sempat mengetahui apa yang menjadi penyebab kejadian ini.
“Nona Elin. Kau tidak perlu turun tangan langsung untuk mengatasi sampah seperti mereka. Serahkan saja kotoran-kotoran itu kepadaku.” Ucap Pria itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Aku hanya tak ingin membuang terlalu banyak waktu, Lucien. Terlalu lama dalam menyelesaikan ini maka seluruh pasukan akan memburu kita. Jika harus menghadapi seluruh pasukan yang ada di Kota ini, bahkan aku dan kau sekalipun takkan bisa selamat tanpa luka parah.” Ucap Wanita itu.
“Dimengerti, Nona Elin.” Balas Pria itu.
“Kita akan berpisah jalur mulai dari sini. Semoga beruntung.” Ucap Wanita itu.
Mereka berdua segera berlari dengan sangat cepat menyusuri lorong yang berhiaskan emas itu. Tujuannya?
Ruang Tahta sang Raja beserta tempat tinggal para Keluarga Kerajaan.
Pintu yang besar dan megah itu ditendang dengan sekuat tenaga oleh Lucien hingga hancur dan terlempar jauh.
“Permisi, apakah sang Raja ada disini?” Ucap Lucien sambil tersenyum lebar. Ia nampak segera membuka tudung jubahnya.
Penampilannya yang begitu menawan dengan kulit yang sangat putih dan pucat, taring yang tajam, mata merah, rambut hitam mengombak yang indah serta telinga yang agak runcing itu mampu memikat semua orang yang melihatnya.
Semua orang yang ada di dalam ruang tahta nampak terkejut. Ratusan penjaga yang ada segera membentuk barisan yang rapi. Termasuk juga Arlond, Agmar dan beberapa Ksatria lainnya.
“Iblis ya? Apakah kau bawahan dari Necromancer itu?” Tanya Raja Trias dengan tatapan serius. Tak nampak sedikitpun ketakutan di wajahnya.
“Jika iya memangnya kenapa?” Ucap Lucien sambil memamerkan taring dan kukunya yang tajam itu.
“Raja, kumohon segera….” Ucap seorang Ksatria bernama Agmar. Ia telah mengalami penurunan pangkat setelah memperoleh kekalahan beruntun pada saat melawan Undead milik Evan.
“Diam. Jika aku pergi meninggalkan tempat ini, maka Kota Forgia yang telah kubangun dengan susah payah akan hancur. Selain itu….” Ucap sang Raja sambil berdiri dari singgsasanya.
“Iblis rendahan sepertinya takkan mampu membunuhku.” Lanjut Raja Trias sambil mengangkat senjatanya yang berupa palu satu tangan dengan perisai raksasa yang ada di samping singgasananya.
“Fufufu…. Jika tidak begini, maka takkan menarik sama sekali!” Teriak Lucien sambil berlari mendekati barisan pasukan itu.
...***...
...Di sisi lain....
...Tempat tinggal Keluarga Kerajaan....
__ADS_1
“Aaarrrggh!!!”
“Siapapun! Hentikan wanita gila itu!!”
“Sial, apaka….”
‘Slash! Slasssh!! Slaaassh!!!’
Tebasan demi tebasan terus menerus dilancarkan oleh Elin bahkan tanpa jeda sama sekali. Itulah kekuatan yang Ia peroleh setelah membaca buku legendaris yang diberikan oleh Eric.
[Legendary Book - Ancient Desert Dragon’s Footwork]
[Rarity : Legendary]
Skill yang diperoleh dari membaca buku itu yaitu :
[Desert Footwork]
[Tipe : Passive Skill]
Efek : Mengurangi konsumsi Stamina Point sebesar 40% ketika melakukan segala aksi yang menggunakan kaki. Meningkatkan kecepatan jalan dan berlari sebesar 50%. Efek akan menjadi 2x lipat ketika digunakan di padang pasir.
[Desert Acrobatic Movement]
[Tipe : Active Skill]
[Konsumsi Mana : 15.000]
[Cooldown : 10 detik]
Efek : Melakukan gerakan akrobatik yang mampu menghindari seluruh serangan yang dilancarkan kepada pengguna serta meningkatkan kecepatan gerak sebesar 100% selama 4 detik. Efek akan menjadi 2x lipat ketika berada di padang pasir.
[Blessing of the Desert - Endurance]
[Tipe : Passive Skill]
Efek : Meningkatkan jumlah Stamina Point pemilik skill sebesar 100% serta regenerasi Stamina Point sebesar 80%. Efek akan menjadi 2x lipat ketika berada di padang pasir.
Hanya dalam waktu 5 detik….
Elin telah membunuh lebih dari 20 penjaga yang ada.
‘Eric, terimakasih karena telah mempercayakan kekuatan ini padaku.’ Ucap Elin dalam hati sambil memandangi kedua belati berwarna merah darah miliknya.
Tapi sebelum sempat berbahagia lebih lama lagi, nampak beberapa orang yang berjalan di lorong bangunan ini.
“Nampaknya ada kucing kecil yang tersesat ya?”
“Hey, Nona kecil. Jika kau mau menjadi….”
Tapi sebelum salah seorang Pria yang ada menyelesaikan perkataannya….
‘Ttraaangg!!!’
Terdengar benturan yang sangat keras antara belati milik Elin dengan sebuah bilah pedang berwarna perak.
‘Dia mampu menahannya?!’ Teriak Elin dalam hati dengan wajah yang terkejut.
__ADS_1
“Jangan meremehkan kami, Nona Kecil. Meski jarang terdengar, kami bertiga adalah pahlawan terkuat di Kerajaan Farna.” Ucap Pria berambut hitam kemerahan itu sambil tersenyum lebar.