The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 179 - Tukang Onar


__ADS_3

...Wilayah Kerajaan Farna...


...Bagian Barat...


Nampak 3 orang penunggang kuda yang mendatangi suatu desa. Mereka disambut dengan baik oleh sang penjaga di desa tersebut.


"Selamat datang. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu prajurit di desa itu.


"Perintah dari Yang Mulia Raja. Persiapkan pasukan untuk mencari sosok yang menjadi penyebab dari penyerangan menggunakan monster. Selain itu bersiagalah untuk...."


Tapi sebelum sempat menyelesaikan perkataannya....


'Klaangg! Klaangg! Klaang!'


Suara bel dari menara pengawas terdengar begitu nyaring. Bersamaan dengan suara bel itu, diikuti dengan perkataan si pengawas menara.


"Serangan Goblin! Goblin menyerang dari sisi Utara! Serangan Goblin! Seluruh pasukan bersiap un...."


'Jleb!'


Sebuah anak panah telah bersarang di kepalanya. Beberapa detik berlalu, si pengawas kemudian segera berubah menjadi cahaya putih yang indah.


Seluruh warga yang mendengar hal itu menjadi panik. Termasuk juga prajurit yang berjaga di desa ini.


"Sialan! Serangan Goblin?!"


"Berapa jumlah mereka?!"


"Haruskah kita melawan?!"


Sang pembawa pesan pun segera bertindak.


"Kalian berdua pergi lah ke kota terdekat dan minta bantuan. Aku akan membantu prajurit di sini berjaga! Cepat!" Teriak pemimpin regu pembawa pesan.


"Siap laksanakan!"


'Ctak! Kletak kletak kletak!"


Mereka berdua segera memacu mereka ke arah Timur untuk mencari bantuan.


Sementara itu....


Goblin yang menyerbu desa ini mencapai angka 800 lebih. Di bagian terdepan pasukan goblin itu, nampak salah satu Goblin yang cukup besar dan membawa bendera putih dan corak emas.


"Tuanku Eric! Sang Penyihir Agung telah memerintahkan pembantaian ini!"


Pada saat itulah, pertama kalinya sebuah desa tidak hancur total.


Para goblin yang menyerbu dengan sengaja melepaskan ratusan penduduk desa untuk menyebarluaskan ketakutan dan nama buruk Eric.


Di balik bayangan pohon yang ada di puncak bukit....


"Hahaha! Rasakan itu Eric! Penyihir Agung? Jangan membuatku tertawa. Aku mungkin tak bisa mengalahkanmu saat ini tapi.... Bagaimana jika seluruh Player dan NPC di Kerajaan ini membencimu? Hahaha!"


Wanita dengan rambut merah itu nampak tertawa sangat puas. Di bayangannya, sebuah kemenangan yang gemilang telah menanti.


...***...


...Kota Forgia...

__ADS_1


...Kerajaan Farna...


Beberapa hari telah berlalu.


Aku segera kembali ke Istana Kerajaan Farna di Kota Forgia sesaat setelah menyelesaikan seluruh permasalahanku. Termasuk permasalahan dengan kelompok Angie dan masalah di dalam Dungeon Laut milik Leviathan.


Jujur saja aku bisa mengambil semua hadiah itu untuk diriku sendiri. Tapi....


'Mereka sangat kuat, aku tak ingin memiliki masalah apapun dengan mereka.' Ucapku dalam hati sambil terus melangkah kan kakiku ke istana kerajaan.


Akan tetapi, apa yang menyambutku hanyalah kekesalan tiada akhir.


"Lihat itu.... Berani-beraninya dia datang kemari setelah semua yang dilakukannya."


"Kau benar. Namanya saja yang Agung. Tapi perilakunya seperti hewan buas."


Nampak gerombolan penduduk Kota Forgia yang sedang menggosipkan suatu hal. Mereka nampak memasang wajah jijik sekaligus ketakutan ketika melihat ke suatu arah.


'Bruk!'


Sebuah batu mendarat dengab kuat di kepalaku.


[Anda telah menerima 2 damage!]


'Hmm? Apa maksudnya ini?' Tanyaku keheranan.


Tapi pada saat aku menoleh ke sekitarku....


"Apakah kau sudah puas membantai orang?! Dasar penjinak monster!"


"Orang sepertimu tak pantas berada di sini!"


"Aku meninggalkan desaku untuk mencari nafkah di kota! Dan kau malah membunuh istri dan kedua anakku?! Tak bisa dimaafkan!"


"Ayo bunuh dia!"


"Ayooo!"


Suasana gerombolan warga kota Forgia semakin memanas. Bahkan beberapa dari mereka nampak mengambil senjata ala kadarnya untuk....


"Menyerangku?! Kenapa?! Fly!" Teriakku sambil segera terbang ke udara.


"Turunlah kemari dan terimalah hukumanmu dasar munafik!"


"Benar! Dimana para ksatria?! Kita harus segera meminta untuk membunuh pengkhianat ini!"


Aku pun sedikit kebingungan dengan situasi ini. Tapi karena mereka terus menerus melempari berbagai barang, aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini.


...***...


...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


"Hah.... Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku kesal sambil berjalan ke arah kastilku di lantai 5 ini.


Seluruh monster bawahanku nampak membungkukkan badannya menyambut kehadiran diriku.


Setelah sampai di ruang tahta kecilku ini, aku segera duduk di kursi perak keemasan yang cukup besar.

__ADS_1


"Tuanku, apakah ada yang bisa kami penuhi?" Tanya salah seorang Goblin Knight yang berjaga di ruangan ini.


Dengan segera, aku membalasnya.


"Panggil Oliver dan Knox kemari."


"Dengan segera, Tuanku."


Aku juga segera memanggil Lucien dengan menggunakan skill [Telepathy] milikku. Ia dengan segera menyanggupinya dan sedang dalam perjalanan kemari.


Beberapa saat berlalu. Aku terus memikirkan berbagai hal mengenai seluruh kejadian ini sambil menikmati segelas anggur di tangan kananku.


'Scarlet.... Kau benar-benar sudah melewati batasmu kali ini. Kau tahu aku bisa saja membiarkanmu pergi jika kau tidak mencari masalah denganku kan? Tapi memfitnah ku sebagai penyebab seluruh kerusakan itu.... Tak bisa dimaafkan.' Ucapku dalam hati dengan tatapan yang tajam.


'Tap! Tap!'


Suara langkah kaki terdengar begitu kuat.


Di balik suara itu, terlihat sosok dua orang Goblin yang paling kuat di seluruh Dungeon milikku. Tubuh mereka sangat besar dan kekar serta memiliki perlengkapan kualitas terbaik.


Sementara itu, sosok bangsawan vampir yang begitu elegan segera menyusul mereka berdua.


Dengan segera, mereka semua berlutut di hadapanku.


Akan tetapi....


"Apa yang telah kalian lakukan selama ini? Bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk dengan segera menangkap Scarlet?" Tanyaku dengan nada yang datar tapi sedikit menyinggung.


"Ka-kami sedang berusaha, Tuanku." Balas Oliver singkat.


"Oh? Berusaha? Lalu untuk apa semua mata-mata yang telah kutanamkan di wilayah Kerajaan Farna ini? Untuk hiasan kah? Apakah tidak ada satu pun dari mereka yang melihat keberadaan wanita berambut merah yang bisa memanggil monster?!"


Suaraku semakin keras seiring dengan meningkatnya kekesalanku terhadap Scarlet.


"Me-mereka sudah melaporkannya tapi.... Wanita itu bergerak dengan sangat rapi dan cepat sehingga...." Balas Knox.


Tapi aku segera mengangkat tangan kananku mengisyaratkannya untuk diam.


"Cukup. Karena kalian yang terlalu lama menangkap Scarlet, seluruh usaha kerasku untuk membuat nama baik telah runtuh. Jangankan Penyihir Agung, aku bahkan dilempari batu dan kotoran oleh anak kecil.


Oleh karena itu.... Aku yang akan pergi mencarinya sendiri." Ucapku sambil segera berdiri dari tempat dudukku.


"Tunggu, Tuanku! Pencarian seperti ini tidak seharusnya...." Ucap Lucien sambil berusaha menghentikanku.


Tapi aku hanya menatapnya dengan tajam tanpa berkata apapun.


Lucien yang melihat itu hanya terdiam dan segera kembali berlutut.


"3 hari. Aku hanya akan memberikan kalian waktu 3 hari saja untuk segera menemukannya. Sementara itu, aku yang akan menjadi umpan dan memancingnya keluar. Jika kalian masih tidak bisa menangkapnya...." Ucapku sambil memelototi 3 orang petinggi itu.


Setelah beberapa saat, aku segera pergi dan meninggalkan mereka bertiga tanpa melanjutkan perkataanku.


Sementara itu....


"Oliver.... Kurasa kita lebih baik menggunakan pasukan utama untuk...." Ucap Knox.


"Tidak, lebih baik hanya menggunakan beberapa orang saja yang terampil untuk...."


Tapi sebelum mereka selesai berdebat.

__ADS_1


"Tuanku.... Maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Sekarang, aku akan segera menebusnya. Scarlet, jangan harap kau memperoleh sedikitpun ampun karena telah menghancurkan seluruh rencana Tuanku!" Teriak Lucien dengan mata yang berkaca-kaca.


Bersamaan dengan itu, tubuh Lucien hancur dan berubah menjadi ribuan kelelawar yang bergerak ke segala penjuru arah.


__ADS_2