
"Apakah Anda yakin dengan pilihan itu, Nyonya Elin?" Tanya seorang petugas dari penyelenggara acara kompetisi internasional ini. Petugas itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi.
"Kau pikir aku bercanda? Aku telah mencoba memasuki dunia virtual beberapa kali dan aku selalu muntah tanpa henti meski hanya beberapa menit saja." Balas Elin dengan nada kesal ke arah petugas itu.
"Dengar. Bahkan dokter yang kami temui kemarin telah membuat surat ini dan meminta agar Elin menjauhi penggunaan Accelerated Thoughts selama beberapa saat. Termasuk juga mengundurkan diri dari kompetisi internasional. Itu semua dikarenakan kondisi tubuh Elin yang...."
Aku pun segera mengulangi penjelasan dokter yang kemarin Ia paparkan kepadaku dan Elin.
Mendengar hal itu, sang petugas nampak menggaruk-garuk kepalanya karena sedikit kebingungan dengan situasi ini.
"Jujur saja sangat disayangkan bahwa salah seorang pemain yang cukup dinanti oleh dunia akan mengundurkan diri seperti ini. Akan tetapi dikarenakan kondisi kesehatan beserta surat medis yang telah dibuat oleh dokter, kami tak bisa menolak pengunduran diri ini." Balas sang petugas sambil memperhatikan beberapa lembar kertas dari hasil pemeriksaan dokter kemarin.
Setelah melakukan beberapa input data dan utak-atik pada komputernya, akhirnya petugas itu kembali berbicara.
"Teknologi AT memang kadang membuat beberapa pengguna mengalami rasa tidak nyaman, terutama pada pengguna baru karena perbedaan percepatan waktunya. Akan tetapi tak kusangka pemain veteran seperti Nyonya Elin juga dapat terpengaruh."
"Sudah kukatakan bahwa Elin...."
Sebelum sempat menyelesaikan perkataanku, sang petugas segera memotongnya dan berkata.
"Saya tidak menyalahkan Nyona Elin. Hanya saja sedikit khawatir pada istri saya sendiri di rumah. Dia suka bermain Re:Life untuk memancing di sungai. Ah, tenang saja. Proses pengunduran diri telah selesai dan kini Nyonya Elin dapat beristirahat." Jelas petugas itu sambil tersenyum ramah kepada kami berdua.
Dengan begini, Elin telah resmi mengundurkan diri dan lawan tandingnya pun memperoleh kemenangan secara otomatis.
Tak hanya cabang PvP, tapi Elin juga akan mengundurkan diri sepenuhnya pada Kompetisi Internasional ini. Termasuk Team Boss Raid dan juga FFA PvP.
Jujur saja sangat disayangkan bahwa Team Boss Raid harus terdiri dari 4 orang, sedangkan wakil yang berasal dari Tim Indonesia tak ada yang sekuat Elin.
Tapi tak ada gunanya menyesali hal itu. Lagipula pada saat akau menoleh dan melihat wajah Elin, Ia nampak begitu murung dan sedih.
'Kemungkinan orang yang paling menyesali kejadian ini adalah Elin sendiri....'
...***...
...Kamar Hotel...
__ADS_1
"Erik.... Maafkan aku karena tak bisa membantumu meraih kemenangan di PvP dan juga Team Boss Raid. Terlebih lagi FFA PvP yang seharusnya menjadi ladang uang kita...." Ucap Elin setelah duduk di ranjang itu.
Mendengar hal itu, aku pun segera memeluknya dan berusaha untuk menenangkan hati Elin.
"Tenanglah. Jangan pikirkan hal itu. Lagipula semua ini hanyalah untuk permainan saja. Yang paling penting adalah kita berdua akan segera menjadi seorang Ayah dan Ibu. Akan lebih baik jika kita memikirkan hal itu saat ini." Ucapku sambil membelai lembut perut Elin.
"Erik.... Kenapa kau tiba-tiba bisa merangkai kata-kata bijak seperti itu?" Tanya Elin sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dadaku.
Pada akhirnya, kami berdua pun beristirahat dengan tenang malam ini.
Apa yang menanti keesokan harinya, adalah pertandingan semi final antara aku dengan Angie.
Jujur saja setelah melihat rekaman video pertarungan antara Angie dengan Zhang Lie cukup membuatku merasa ngeri.
Bagaimana tidak, Angie mampu membunuh lawan yang seharusnya kuat dalam pertarungan jarak pendek.
Sedangkan aku yang hanya bisa bertarung pada jarak menengah dan jarak jauh, tentunya akan sangat dirugikan ketika bertarung dengan Angie.
Tak ingin terlalu terlarut dalam pikiran negatif itu, aku pun segera tidur.
...***...
"Dan salah satu pertarungan yang paling dinantikan oleh seluruh penonton di berbagai belahan dunia akhirnya akan segera dimulai!" Ucap sang pembawa acara dengan begitu meriahnya.
Setelah beberapa saat menghentikan perkataannya, Ia segera melanjutkan intro mengenai dua orang pemain yang akan bertanding pada sore hari ini.
"Di sisi Timur, seorang jenius yang memiliki bakat mengerikan dalam dunia game sehingga mampu memenangkan pertandingan hanya dalam waktu satu detik! Mari kita sambut, Angie!!!"
Setelah memberikan waktu kepada para penonton untuk memberikan dukungan dan tepuk tangan yang meriah, pembawa acara itu pun segera melanjutkan perkataannya.
"Kemudian di sisi Barat. Seorang pemuda yang pernah diremehkan pada kompetisi internasional tahun lalu, kini telah kembali dengan pertahanan mutlak yang belum tertembus hingga sekarang! Mari kita sambut, Erik!!!"
Tepuk tangan yang begitu meriah serta berbagai visual efek pada saat aku berjalan menaiki panggung kompetisi itu sungguh membuatku tak nyaman.
Bukan karena aku tak terbiasa ketika berada di depan umum. Akan tetapi karena beban yang kubawa kini menjadi semakin berat.
__ADS_1
Pada pagi hari sebelum kompetisi ini dilakukan, aku sempat menemui tim resmi Indonesia. Mereka memberikan dukungan yang begitu besar kepadaku. Hal yang wajar karena akulah satu-satunya pemain dari Indonesia yang mampu mencapai babak semi final di cabang PvP ini.
Bahkan sang pelatih tim resmi juga menitipkan pesannya kepadaku untuk berjuang sebaik mungkin untuk mengharumkan nama Indonesia.
"Jangan sampai kalah dengan Angie. Berjuanglah sebaik mungkin."
Pada saat mendengar perkataan itu dari Ilham, beban pikiranku menjadi luarbiasa besar.
Akan tetapi, memikirkan semua itu sama sekali tak ada gunanya. Bahkan takkan bisa membantuku menyelesaikan masalah ini.
Oleh karena itu, aku segera menyadarkan diriku sendiri dan fokus untuk menghadapi pertarungan yang ada di depanku.
Sebelum memasuki kapsul itu, Angie menyapaku dengan ramah.
"Yo, Erik. Bagaimana kabar istrimu? Kudengar dia mengundurkan diri karena masalah kesehatannya." Ucap Angie dengan suara yang cukup lirih sambil mengulurkan tangannya.
"Saat ini Elin masih beristirahat di hotel. Asistenku telah menemaninya beserta seorang dokter ahli dari perusahaanku. Mungkin saat ini dia telah membaik." Balasku sambil menjabat tangan Angie.
Mendengar hal itu, Angie nampak memberikan senyuman tipis.
"Syukurlah. Tapi sangat disayangkan karena aku ingin bertarung dengan seorang Assassin yang sehebat dirinya di final."
"Perkataanmu itu seakan menyatakan bahwa kau bisa menang dariku ya, Angie?" Tanyaku sambil sedikit memiringkan kepalaku.
Dengan senyuman yang lebar, Angie segera merapikan rambutnya yang acak-acakan itu dan membalas perkataanku.
"Tentu saja, saat ini aku sangat yakin bisa mengalahkanmu Erik. Tidak.... Lebih tepatnya aku sangat yakin bahwa aku yang akan menjadi juara dalam kompetisi PvP ini."
Jujur saja perkataannya cukup menusuk hatiku.
Perkataan itu seakan menyatakan bahwa kemampuanku tak cukup bagus untuk menandingi Angie. Begitu juga dengan Elin.
Meski cukup kesal, aku berusaha sebaik mungkin untuk menjaga senyumanku.
Bersamaan dengan itu, kami berdua pun segera memasuki dunia virtual untuk bertanding.
__ADS_1