The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 209 - Pertempuran di Kota Torka


__ADS_3

...Kerajaan Farna, Wilayah Timur Laut...


...Kota Torka...


Peperangan yang terjadi di Kota Torka di Wilayah Timur Laut ini sangatlah sengit.


Bagaimana tidak.


Di Kota ini, tak ada Pahlawan yang menjaga mereka. Kedua Pahlawan yang seharusnya berada di Wilayah Timur Laut saat ini sedang sibuk mendukung di daerah Kaki Pegunungan Alpa. Itu semua karena disana terdapat Kota di dalam gunung yang menyimpan banyak harta.


Serbuan musuh yang ada di Kota itu sangat besar sehingga memaksa 4 pahlawan bekerja keras disana.


Oleh karena itu….


“Pertahankan barisan! Panah itu takkan menembus perisai kalian jika semuanya berbaris dengan rapi!” Teriak salah seorang Viscount yang memimpin barisan pasukan Salvation ini.


Jumlah yang menyerbu Kota ini cukup banyak, yaitu sekitar 25.000 prajurit.


Sedangkan di pihak bertahan, sekitar 10.000 prajurit nampak sedang berlindung di balik dinding kota. Keadaan sangat mencekam karena mereka harus melindungi nyawa sekitar 150.000 penduduk sipil di Kota ini.


“Pemanah! Bersiap! Tembak!” Teriak komandan pasukan di Kota itu.


‘Syuuutt!! Syuutt!!’


Ribuan anak panah melesat ke barisan pasukan Salvation.


Akan tetapi, karena barisan prajurit Salvation mengangkat tinggi perisai mereka dan berbaris dengan rapi….


‘Klang! Klaaangg!!’


Dari ribuan anak panah, yang mampu melewati dinding perisai itu dapat dihitung dengan menggunakan jari. Bahkan, luka yang diberikan juga tidak seberapa.


“Sialan! Balista dan Onager masih sibuk mengincar para penyihir mereka yang kini bersembunyi di balik dinding batu! Kurir! Dimana kurir!” Teriak Komandan pasukan itu dengan kesal.


“Disini! Tuanku!” Teriak seorang Pria muda dengan tas di pinggangnya. Di dalam tas itu nampak berisi banyak lembaran kertas serta beberapa pena dan tinta.


Komandan itu segera membalik badannya dan melihat pemuda itu.


“Bagus. Tulis ini baik-baik! Aku akan mencoba bertahan selama beberapa hari! Sementara itu, seluruh Kota yang memiliki prajurit siap tempur, kirimkan seper sepuluh prajurit kalian! Sisanya akan menjaga kota masing-masing!”


Bersamaan dengan teriakan sang komandan itu, Pemuda barusan nampak mencatatnya dengan rapi di selembar kertas yang Ia miliki. Pada saat Ia telah selesai menuliskan semuanya, Pemuda itu mengangkat wajahnya dan memandang sang Komandan seakan ingin tahu perintah berikutnya.


“Sekarang, pergilah dan bawa 10 orangku. Tidak… bawalah 20. Lalu bagil menjadi beberapa kelompok untuk pergi ke berbagai Kota di sekitar. Bawalah bantuan dalam waktu kurang dari tiga… tidak. Dua hari! Kau mengerti?” Tanya komandan itu dengan suara yang begitu lantang.


“Siap! Komandan!” Balas Pemuda itu sambil memukul dadanya sendiri dengan tangan kanannya. Segera setelah itu, Ia segera berlari dan diikuti oleh 20 orang prajurit.


Sementara itu, sang komandan nampak kebingungan.


“Sialan…. Apakah aku bisa menahan mereka dalam waktu 2 hari? Kurasa…. Oi! Apa yang kalian lakukan?! Persiapkan minyak panasnya dan hentikan Battering Ram itu mendobrak gerbang!”


Pertempuran pun berlanjut.

__ADS_1


Saat ini, pasukan pertahanan dalam situasi yang sangat buruk.


Di satu sisi, dinding mereka memang masih utuh dan hanya mengalami keretakan kecil di beberapa bagian saja.


Bahkan korban di pihak Kerajaan Farna ini masih terbilang cukup sedikit jika dibandingkan dengan lawannya.


Meski begitu, musuh mereka juga mengalami hal yang sama.


Para penyihir di pihak musuh mampu beradaptasi dengan lingkungan pertempuran ini. Mereka segera memasang sihir dinding batu untuk menghentikan gempuran dari Onager dan Balista yang ada.


Akan tetapi, dinding batu itu juga mencegah mereka untuk melakukan serangan balik.


Pada saat masih kebingungan dengan kondisi pertempuran ini…


“Lapor! Regu di sisi Selatan melihat pergerakan pasukan musuh ke arah hutan! Kemungkinan besar mereka akan melakukan penyergapan dari arah Barat atau Utara!” Teriak salah seorang prajurit penjaga itu.


“Sialan! Bawa 2.000 pasukan ke dinding bagian Barat dan 1.000 untuk dinding bagian Timur! Sisanya akan tetap berkumpul untuk menahan mereka disini!” Balas Komandan itu dengan nada yang penuh kekesalan.


“Dengan segera, Komandan!” Balas prajurit itu sambil memberikan hormat. Ia pun segera pergi meninggalkan tempat ini.


Di sisi lain….


‘Braakkk!! Braakk!!’


Battering Ram atau pendobrak yang didorong oleh puluhan orang itu sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan pintu gerbang Kota ini.


“Jangan takut dengan panah! Perisai di atas aka….”


Beberapa anak panah menembus tubuh Pria itu sebelum sempat menyelesaikan perkataannya. Tubuhnya pun segera berubah menjadi cahaya putih.


“Kapten!” Teriak beberapa Prajurit Salvation yang sedang mendorong Battering Ram itu.


“Jangan panik! Panggil beberapa orang lagi untuk membantu mengayunkan pendobrak ini!” Teriak salah seorang prajurit.


“Oi! Kalian! Cepat kemari dan ba….”


‘Syaaashhh!!! Wuoosshhh!!’


Minyak yang mendidih tiba-tiba mengguyur tubuh puluhan orang yang ada di depan gerbang itu.


“Arrrggh!!!”


“Tolong!!!”


Seketika, semangat mereka yang berapi-api barusan segera dipadamkan oleh guyuran minyak panas yang melelehkan tubuh mereka.


Pada akhirnya, puluhan orang yang mendorong Battering Ram itu berubah menjadi cahaya putih.


Dengan segera, pasukan yang menjaga gerbang Kota ini melempari Battering Ram itu dengan obor sehingga kini alat berat itu terbakar. Alat yang sebelumnya berfungsi untuk membantu pasukan Salvation menerobos memasuki Kota, kini justru menghalangi jalan mereka untuk mendobrak gerbang.


Pasukan pertahanan Kerajaan Farna yang menyaksikan hal ini nampak begitu bahagia.

__ADS_1


“Hahaha! Rasakan itu! Dasar penjajah sialan!”


“Apa kau lihat orang yang terakhir barusan? Ia nampak percaya bahwa pertolongan akan datang!”


Perkataan kasar dari para prajurit yang menghina lawan mereka itu terus menerus bermunculan. Hal yang wajar, karena itulah satu-satunya hal yang menjaga kewarasan mereka di tengah peperangan yang dipenuhi keputusasaan ini.


Bagaimana tidak, pasukan musuh muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka melalui lingkaran sihir teleportasi.


Mereka tidak tahu, kapan musuh akan kabur serta kapan musuh akan mendatangkan bala bantuan.


Oleh karena itu, yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah bertarung dan bersenang-senang sebaik mungkin sebelum mereka mati… atau kehilangan kewarasan mereka.


Sementara itu….


Marquis Ifran yang memimpin penyerangan ini nampak sedang gelisah di atas kuda putihnya. Ia tak menyangka bahwa pertempuran akan menjadi sesengit ini.


“Sialan! Jika aku tidak bisa menjatuhkan kota ini, maka aku akan kehilangan kesempatanku untuk menjadi seorang Duke! Kalian bekerjalah dengan lebih keras! Pikirkan suatu cara untuk meruntuhkan dinding kota ini!” Teriak Marquis Ifran dengan kesal sambil melemparkan gelas minumannya.


“De-dengan segera!”


Pertempuran pun berlanjut di Kota Torka ini.


...***...


...Yogyakarta International Airport...


“Erik. Apakah kau yakin akan pergi? Kenapa begitu tiba-tiba?” Tanya Ayahku dengan tatapan yang terlihat sedikit sedih.


“Ayahmu benar, Erik. Kenapa pergi sejauh itu? Kuharap kau baik-baik saja….” Sambung Ibuku dengan penuh rasa khawatir.


Tapi aku dan Elin menjawabnya dengan santai.


“Tenang saja, kami berdua hanya akan pergi paling lama satu bulan. Lagipula, kami berdua juga membawa beberapa Body Guard, termasuk Rendy. Lisa juga akan ikut untuk membantu mengatasi beberapa hal." Balasku sambil melirik ke arah Rendy dan Lisa.


“Hah…. Orang ini. Dia benar-benar meninggalkan sekolah untuk bekerja dibawahmu ya Kak?” Tanya Rina kesal.


“Fufufu…. Bilang saja kau akan sangat merindukannya, wahai adikku yang pemalu. Jika kau mau berkata jujur, aku akan mempertimbangkan permintaanmu kau tahu?” Ucapku sambil menirukan gaya berbicara Lucien. Bahkan aku menutupi sebagian wajahku dengan tangan kiriku.


“A-apa yang kau katakan?!” Teriak adikku dengan wajah yang semakin memerah.


Aku dan Elin hanya bisa menertawai betapa imutnya tingkah adikku yang mulai memasuki masa-masa dewasanya.


Tentu saja, Rendy yang memiliki tingkat kecerdasan jauh di atasku hanya bisa melirik kesana kemari dengan dipenuhi kebingungan.


Akhirnya, kami pun berpisah untuk beberapa waktu.


Semua itu demi mengikuti Kompetisi Internasional Re:Life yang ke tiga.


Sebuah kompetisi….


Yang diadakan di Rusia mulai tanggal 1 Mei 2074.

__ADS_1


__ADS_2