
...Puncak Pegunungan Alpa...
...Sisi Timur Laut...
Dengan angin yang menerpa dengan sangat kuat ini, kami berenam berjalan dengan menggunakan apapun sebagai tumpuan.
‘Tap! Tap!’
‘Wuuuoosshh!!’
“Elin! Kau baik-baik saja?!” Teriakku dengan keras sambil berpegangan pada tongkat sihirku.
“Baik! Bagaimana dengan kalian?!” Tanya Elin sambil merangkak di tanah menggunakan belatinya.
“Kami baik-baik saja!” Teriak beberapa orang.
Situasi yang kami alami sungguh mencekam. Semua ini terjadi karena kecerobohan kami semua. Atau bisa dibilang…. Ketamakan.
...Kembali ke 1 jam yang lalu…....
Kelompok yang beranggotakan 6 orang ini berjalan di puncak suatu pegunungan. Pemandangannya begitu indah hingga membuat Nico terkesima.
“Wuah! Aku tak bisa mempercayai bahwa aku bisa merekam pemandangan ini!” Teriaknya sambil mengarahkan kamera hologramnya ke segala arah.
Bahkan tanpa menunggu seorang pun meresponnya, Ia segera melanjutkan perkataannya.
“Aku sangat berterimakasih kepada kalian! Jujur saja, dengan levelku yang masih berada pada angka 118 sangat tak mungkin untuk sampai di sini dengan selamat!”
“Tenang saja. Aku juga membutuhkan bantuanmu untuk mengabadikan petualangan ini.” Balasku singkat.
Elin yang ikut mendengarkan percakapan ini nampak mengangguk seakan memahaminya dengan baik.
Meskipun situasi ini cukup santai sekaligus serius, terdapat beberapa orang yang membuat suasana yang indah ini menjadi sedikit heboh.
“Fufufu…. Kegelapan Hutan Keabadian?! Menarik sekali! Aku tak sabar untuk melihat sosok monster seperti apa yang ada disana!” Teriak Lucien sambil menutupi salah satu matanya dengan telapak tangannya.
‘Krauk…. Krauk….’
“Hutan Keabadian ya…. Sepengetahuanku terdapat apel suci yang memiliki cita rasa tinggi. Aku harus mencobanya.” Ucap Cathy sambil memakan rerumputan yang aneh itu.
Sementara itu, Rianne nampak sedang memainkan harpa nya sambil bersenandung. Tentu saja, Ia melakukannya sambil terbang dengan sayap peri miliknya itu.
“Na…. Na…. Na…. Aaah…. Penguasa Angin…. Kupersembahkan lagu ini….”
Jujur saja tak ada yang aneh dari tingkahnya. Lagipula, suaranya yang begitu merdu justru membuat suasana petualangan ini menjadi jauh lebih seru.
Akan tetapi….
[Anda telah mendengarkan lantunan lagu angin!]
[Seluruh kecepatan gerak Anda akan meningkat sebesar 15% selama 5 menit!]
[Seluruh kecepatan serangan Anda akan meningkat sebesar 10% selama 5 menit!]
Notifikasi itu memenuhi pandanganku, Elin, dan Nico.
__ADS_1
“Uh…. Aku tak ingin mengganggu nyanyianmu tapi…. Bukankah Skill itu memiliki Cooldown selama 30 menit?” Tanyaku dengan wajah sinis.
Tapi jawaban dari Rianne hanya membuat penilaianku terhadap peri yang cantik dan pandai memainkan alat musik itu runtuh seketika.
“Ah…. Soal itu? Tenang saja Tuanku. Aku hanya perlu memainkan lagu yang lain. Bagaimana dengan lagu dari pangeran api?” Ucapnya sambil menghentikan permainan musiknya. Ia lalu melantunkan nyanyian yang berbeda.
‘Jika seperti ini…. Bukankah cukup gawat jika….’
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku dalam hati, Cathy nampak berlari dan menghentikan langkah kami semua.
“Tuanku! Aku melihat sesuatu yang sangat menarik di lembah itu!” Teriak Cathy dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan sambil menunjuk ke arah Timur.
“Hal yang menarik?”
Setelah berdiskusi dalam waktu yang singkat dengan anggota kelompok yang lain, pada akhirnya kami memutuskan untuk menerima saran Cathy.
Kami berenam segera berjalan ke arah lembah yang ditunjuk oleh Cathy. Waktu yang diperlukan untuk sampai kesana yaitu sekitar 20 menit lebih. Wajar saja karena kami memberikan kesempatan kepada Nico untuk merekam semuanya dengan baik.
Selama Ia bisa menghasilkan video yang sangat menarik dan laku di MeTube, aku takkan pernah mempermasalahkannya.
Hingga akhirnya….
Kami pun sampai di lembah itu.
Apa yang kami lihat, adalah sesuatu yang tak pernah kami sangka sebelumnya.
Sebuah lembah dengan banyak sekali pohon besar. Di setiap pohon itu, nampak rumah-rumah yang terbuat dari kayu. Semuanya ditinggali oleh Harpy, yaitu monster dengan wujud manusia yang memiliki sayap dan kaki seperti burung. Termasuk cakar yang sangat tajam dan berbahaya.
Setelah kami memeriksa informasi mengenai tempat ini melalui jendela sistem….
...[Tipe : Field]...
...[Respawn Rate : Slow]...
...[Field Boss : Harpy Queen]...
...[Rekomendasi level]...
...[200 ke atas dan telah Rebirth 4 kali atau lebih]...
...[Rekomendasi Party]...
...[8 orang atau lebih dengan formasi yang lengkap]...
Aku pun menoleh ke arah Elin setelah melihat informasi itu.
“Bagaimana menurutmu?” Tanyaku singkat.
“Habisi saja. Lagipula dengan level kita yang di atas 250 dan total Rebirth di atas 6 kali, kurasa takkan menjadi masalah untuk melawan mereka.” Balas Elin sambil mengubah topengnya kembali ke mode [Real] sehingga wajahnya kini tertutup oleh topeng.
Ketika topeng ini dalam mode [Disguised] maka wajah pengguna akan terlihat dengan jelas sedangkan topengnya seakan menjadi tembus pandang.
Mengikuti Elin, aku juga segera mengembalikan topengku ke mode [Real].
“Nico. Akan ada perburuan yang menarik disini. Siapkan kameramu dan rekamlah sesuka hatimu.” Ucapku sambil menoleh ke arah Nico.
__ADS_1
“Tak perlu kau perintah!” Balah Nico sambil tersenyum lebar. Ia dengan segera melemparkan beberapa kamera hologram ke berbagai arah.
“Lucien, Cathy, Rianne. Ambil posisi.” Ucapku singkat.
Mereka segera mengangguk dan mengambil posisi sesuai dengan peran mereka.
Lucien segera berdiri di garis depan bersama dengan Elin. Ia nampak menggunakan skill [Stone Skin] untuk meningkatkan pertahanan pada bagian lengannya.
Sedangkan Cathy berada di bagian tengah untuk memberikan aba-aba mengenai berbagai kelemahan ataupun kelebihan musuh yang perlu diketahui.
Rianne? Ia berdiri di bagian paling belakang bersamaku untuk memberikan Buff dari lantunan musiknya.
“Semua siap? Ayo serbu!”
Kami berenam pun segera berlari secepat mungkin ke arah lembah itu.
Tanpa kami sadari…. Hari ini adalah hari yang diberkati oleh angin.
...***...
...[Aamori’s Journey]...
...[Part 4]...
‘Traaang!! Traang!!’
Hantaman pedang dengan pedang terdengar begitu nyaring.
Hutan yang sebelumnya sangatlah indah dan disebut-sebut sebagai surga dunia virtual itu, kini telah hancur lebur. Semuanya terjadi karena pertarungan sengit antara Aamori melawan 3 orang Imperial Royal Knights.
Sosok Aamori yang mampu mengimbangi 3 Imperial Royal Knights itu sendirian selama setengah jam lebih ini sudah cukup untuk membuat semua orang keheranan.
Jika saja terdapat Imperial Infantry atau prajurit kekaisaran, mereka pasti telah panik karena melihat sosok Ksatria yang dikenal tak terkalahkan itu kesulitan melawan seorang Pria berlevel 1.
Lalu bagaimana jika terdapat para petinggi kekaisaran yang menyaksikan pertarungan ini? Tentu saja mereka semua akan kebakaran jenggot.
Meski sebelumnya Aamori nampak berlari kesana kemari menghindari kejaran mereka, pada akhirnya Ia merasa lelah dan memutuskan untuk mati saja. Oleh karena itu, Ia menghentikan pelariannya dan segera menghadapi 3 musuhnya itu.
Keputusan yang bijak mengingat dirinya yang merupakan Player tak terlalu mengambil pusing mengenai kematiannya. Meskipun terdapat pengurangan level, Aamori tidak takut sama sekali.
Wajar saja karena kini levelnya telah terkunci pada level 1.
Lalu kenapa kini Ia nampak berjuang begitu keras?
Tentu saja…. Itu karena Ia melihat suatu hal yang sama sekali tak Ia sangka-sangka.
...[PERINGATAN!]...
...[HP ANDA BERADA DI BAWAH 10%]...
...[JIKA ANDA MATI, MAKA QUEST : ARROTH’S INVITATION AKAN GAGAL!]...
Dalam hati, Aamori berteriak penuh dengan kekesalan.
‘Kenapa kau tidak memberitahu hal ini sebelumnya?! Jika aku tahu, aku takkan dengan bodohnya melawan 3 orang ini!!!’
__ADS_1