
Mendengar ejekan dari Angie, Robert hanya terdiam sambil membalas perkataannya.
"Ah soal itu. Tenang saja. Aku hanya sedikit terkejut dengan serangan barusan."
Bersamaan dengan itu, pedang satu tangan yang berwarna hitam di tangan kanan Robert itu mulai mengeluarkan cahaya emas yang cukup terang.
Termasuk juga perisai yang ada di tangan kirinya.
Sebuah skill tipe Overbuff yang berasal dari Class yang seharusnya tak bisa diperoleh pemain.
Sebuah Class tingkat legendaris, Paladin.
Angie secara refleks langsung melompat ke belakang karena terkejut atas apa yang baru saja terjadi.
Akan tetapi, ayunan pedang Robert jauh lebih cepat daripada gerakan Angie. Tebasan itu pun mengenai tepat di bagian perutnya.
'Sraaash!'
[Anda telah menerima 11.258 damage!]
'Yang benar saja?!' Teriak Angie kesal dalam hati. Ia pun segera membenahkan posturnya untuk kembali mempersiapkan diri atas serangan yang mungkin dilancarkan kembali oleh Robert.
Benar saja, tiga buah tebasan telah diayunkan ke arah leher Angie. Tapi kini Ia telah siap dan mampu untuk menahannya dengan tombak perak itu.
'Klang! Trrang! Klaang!'
Pertukaran serangan pun terjadi dimana Angie memiliki keunggulan kecepatan, sedangkan Robert memiliki keunggulan dalam hal damage atau kekuatan.
Di tengah pertarungan antara dua orang itu, sebuah anak panah melesat tepat ke arah kepala Robert. Sebuah anak panah yang dipastikan akan membunuh targetnya jika mengenai titik vital.
'Syuuuttt!!'
Seakan menyadari bahwa dirinya akan menerima tembakan itu sesaat lagi, Robert segera melempar perisainya ke tanah dan menarik Angie.
Dengan status Strength yang jauh mengungguli Angie itu, Robert mampu menjadikannya sebagai perisai terhadap panah itu.
'Jleb!'
'Bruuukk!'
Sesaat setelah menerima panah itu, Angie segera menendang tubuh Robert sekuat tenaga hingga melemparnya cukup jauh.
Dalam pikiran Robert, terbesit suatu pertanyaan sederhana.
'Kenapa dia tidak mati? Bukankah barusan Antonio langsung mati setelah menerima panah itu?'
Sebelum sempat menyelesaikan pertanyaan yang membingungkan itu, tiga buah tusukan Rapier dari sisi kiri, serta sebuah tebasan katana dari sisi kanan telah melayang ke arah Robert.
__ADS_1
'Wuusshh!!'
Ia menghindari tebasan katana itu hanya dengan menundukkan tubuhnya. Meski begitu, Ia seakan tak masalah untuk menerima tusukan Rapier yang hanya mampu menggores 1% Health Point miliknya itu.
Di atas sebuah pohon....
'Bagaimana dia bisa menyadari panah itu? Bukankah tak ada suaranya? Memang bisa melihat tapi di tengah pertarungan itu?' Pikir Eric kebingungan sambil menggenggam erat busurnya.
Ia melepaskan skill Stealth dan juga kamuflase miliknya sejak beberapa saat yang lalu karena ingin menghemat Mana Point yang dimilikinya. Hal yang wajar karena kini Mana Potion yang Ia miliki telah menipis sejak melakukan perburuan gila dengan Angie.
Tapi karena itu juga, posisinya menjadi sangat terlihat karena berada di atas sebuah pohon tertinggi di tempat itu.
'Kreseek!!'
"Mati kau!!!" Teriak seorang Pria yang mengenakan perlengkapan seperti ninja itu.
'Klang!'
Eric membalik badannya dan menahan serangan ninja itu dengan sebuah pisau yang Ia ambil dari Inventorynya.
Dengan cepat, Eric segera memutar tubuhnya dan memberikan tendangan yang mengenai tepat di dada Pria berpakaian serba hitam itu.
'Bruuukk!'
"Kugghh!"
Pria itu pun terlempar hingga cukup jauh, menuruni bukit yang memiliki cukup banyak pohon ini.
Sambil menarik busur itu dan bersiap menggunakan skill [Piercing Shot], Eric sedikit memprovokasi lawannya.
"Jika kau memang ingin membunuhku, lakukanlah dengan tenang. Tak perlu berteriak seperti itu. Ya, itu benar. Sama seperti temanmu!" Teriak Eric sambil segera mengganti arah serangannya dengan membalik badannya.
Tanpa memberi jeda, Eric segera melepaskan anak panah itu ke arah sebuah pohon.
'Syuuut!!'
'Kraaaaaakk!!!'
Panah itu menembus pohon itu, memberikan lubang yang cukup besar serta membunuh seorang pemain yang bersembunyi di baliknya.
Segera setelah itu, beberapa gerakan nampak terjadi di balik semak-semak yang ada di sekitar tempat ini. Suaranya pun terdengar cukup keras.
'Dasar amatir. Aku penasaran bagaimana kalian bisa....'
Pada saat itu juga, insting Eric berteriak dengan keras bahwa suatu bahaya yang sangat besar telah ada di sampingnya. Ia terlihat sedikit membelalakkan matanya ke arah kiri dan dengan sangat cepat mengelak tebasan itu.
'Swuuoosh!'
__ADS_1
'Tap! Tap!'
Eric segera melompat menjauhi tempat itu dan sedikit melirik ke arah penyerangnya.
Terlihat sosok seorang Pria berkulit agak gelap yang mengenakan zirah kulit ringan berwarna hitam serta kain hitam yang cukup panjang di lehernya.
Senjatanya adalah sepasang pedang melengkung atau scimitar yang cukup pendek.
Hanya dalam waktu kurang dari satu detik, tubuh Pria itu nampak mulai menghilang.
'Skill yang sama sepertiku?! Tidak.... Skill ini jauh lebih baik daripada milikku.... Assassin?! Sialan!'
Eric segera berlari sejauh mungkin sambil menghitung jumlah lawan yang harus di hadapinya saat ini.
'Empat.... Lima.... Atau nam? Satu orang telah mati. Tidak. Kemungkinan besar hanya tersisa empat orang di sini.'
Pada saat Eric sedikit menurunkan kewaspadaannya, perasaan mengerikan yang sebelumnya menyelamatkan lehernya itu kembali terjadi.
Tanpa mempertanyakan instingnya itu, Eric segera menarik pisaunya dan memberikan serangan memutar di sekelilingnya.
Tapi lawannya telah selangkah lebih maju.
Bukannya memberi tebasan kepada Eric, Assassin yang sebelumnya hampir memotong leher Eric itu menunggu saat yang tepat ketika Eric bereaksi.
Ia menghindari tebasan pisau yang tak memiliki arah itu sambil membungkukkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, Ia mengayunkan dua buah scimitar itu tepat ke arah kaki Eric.
'Zrasshh! Zraaasshh!'
'Klaaang!'
Tanpa di sangka oleh Assassin itu, Eric telah mengeluarkan sebuah pedang besar dua tangan. Pedang itu juga yang menahan tebasan yang seharusnya bisa memotong kaki Eric.
'Secepat itu? Jangan katakan, metode Numbering?' Pikir Assassin itu dengan wajah yang dipenuhi rasa ketidakpercayaan.
Ia pun segera mundur bersama dengan 3 orang yang sama-sama merupakan assassin itu untuk mencari kesempatan menyerang yang lebih baik lagi.
Eric yang baru saja selamat dari maut sebanyak 2 kali berturut-turut masih belum bisa tenang.
Ia memastikan kondisi di sekitarnya telah aman dengan menggunakan [Hawk Eye] miliknya itu.
'Sialan. Mereka benar-benar berniat untuk membunuhku di sini.' Ucap Eric setelah mengetahui tiga orang selain pengguna scimitar itu sedang bersembunyi di balik pohon.
Meski begitu, Ia sama sekali tak bisa melihat keberadaan sang pengguna scimitar.
'Haruskah aku menggunakan skill sembunyi milikku? Tidak, skill milikku akan lepas ketika aku bergerak terlalu banyak atau melancarkan serangan. Maka dari itu aku harus menggunakannya kembali setiap saat dan hal itu juga yang sangat boros Mana Point. Tapi dalam kondisi ini....'
Kini, pertarungan antara pemain yang tersisa di bagian tengah pulau itu pun terjadi dalam dua lokasi.
__ADS_1
Yang satu yaitu Angie, Brunhilda dan Miyamoto yang harus menghadapi pemain dari Eropa yaitu Robert, Frans dan juga Rose.
Sedangkan satu lagi yaitu Eric yang harus menghadapi Assassin yang muncul entah darimana.