
'Sialan, tak kusangka bahwa Ayahku benar-benar menjual semua kepemilikanku termasuk buku-buku komikku!'
Aku terus menggumam pada diriku sendiri setelah meninggalkan rumah sakit itu. Meski bertengkar, tapi kini Ayahku mengakuiku. Terlebih lagi pandangannya mengenai Re:Life sudah mulai membaik.
"Ya, meskipun... aku sedikit lega sekarang meskipun adikku koma, tapi kehidupannya tidak terancam. Sekarang aku harus bekerja dengan lebih keras lagi!"
Aku kembali ke kosku dengan menggunakan kendaraan online. Sedangkan Ayah dan Ibuku akan menjaga Rina. Aku juga telah memberikan 1,5 juta kepada mereka untuk menambah kebutuhan administrasi rumah sakit.
Nampaknya uang yang diperoleh dari menjual barang-barangku juga ikut digunakan untuk menutupi biaya pengobatan Rina. Ya, aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu sekarang.
Hal terpenting saat ini adalah makan lalu tidur.
Aku segera merebus mi instan yang kumiliki dengan sekuat tenaga. Setelah matang, aku segera menyantapnya dengan lahap seakan tak ada lagi kesempatan untuk makan esok hari.
Wajar saja aku kelaparan karena terakhir kali aku makan adalah pagi tadi sedangkan makanan seafood yang kupesan tidak jadi kumakan. Bahkan belum dibuat! Jujur saja saat ini aku masih kesal dengan penjual itu.
Tapi itu cerita untuk lain hari.
Setelah selesai makan, aku meneguk air putih sebanyak-banyaknya lalu tidur dengan lelap.
Esok harinya semua berjalan seperti hari kemarin. Aku makan, minum, lalu pergi untuk menyewa kapsul. Bedanya adalah aku berencana untuk menyewa selama 16 jam kali ini.
Dengan pengeluaranku yang luar biasa kemarin, kini sisa uangku hanya 420 ribu.
Maka dari itu aku harus bekerja lebih keras lagi.
"Memangnya bagaimana caraku bekerja dengan lebih keras? Mana yang aku miliki di dalam game beregenerasi sesuai aturan sistem. Bukan berarti semangatku akan meningkatkan regenerasinya." Tanyaku pada diriku sendiri.
Memang benar bahwa regenerasi mana ditentukan oleh sistem sedangkan penghasilanku berdasarkan seberapa cepat manaku beregenerasi.
"Sungguh merepotkan, mungkin aku akan mencari item regenerasi mana nanti."
Segera setalah mengucapkan hal itu, aku menutup pintu kapsulku dan segera Log In.
Pemandangannya masih sama dengan kemarin. Karakterku berada di dalam sebuah ruangan dengan dinding batuan alami. Di ujung ruangan terdapat pintu bobrok yang sudah lama ada disini.
Di sisi kanan dan kiriku terdapat 2 ekor goblin tingkat Epic yang setia menjagaku.
'Hmm... apakah mereka memiliki nama?'
Tiba-tiba aku penasaran mengenai hal tersebut. Wajar saja, monster juga merupakan NPC. Tidak seperti Player, mereka butuh makan tidur dan istirahat. Biasanya aku memberikan mereka daging yang dijatuhkan oleh monster buruan maka aku tidak berpikir banyak.
Tidur pun mereka juga bisa melakukannya sendiri.
Tapi nama ya?
"Uh, kalian berdua." Tanyaku kepada 2 monster itu.
__ADS_1
"Ya! Tuanku! Ada apa?" Jawab mereka dengan penuh semangat.
Huwaaah, Tuan? Aku?
Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Aneh rasanya jika dipanggil tuan oleh monster. Apalagi mereka nampaknya lebih kuat dariku dalam pertarungan fisik.
"Aku penasaran, tapi apakah kalian memiliki nama?" Tanyaku singkat.
"Kami para monster tidak memiliki nama, Tuanku! Maka dari itu, Anda bebas memanggil kami apapun!" Jawab mereka berdua kompak.
"Baiklah, mulai sekarang nama kalian berdua adalah Guardian, karena kalian memiliki tugas untuk menjaga diriku!" Jawabku tegas sekaligus berusaha untuk terlihat sedikit keren.
Tidak masalah kan jika aku ingin mencoba terlihat sedikit keren?
"Terimakasih Tuanku! Mulai sekarang, kami berdua adalah Guardian tombak dan pedang!"
Ya, meskipun 2 goblin ini sama-sama memiliki tingkat Epic, mereka memiliki senjata yang berbeda.
Yang berada di kananku memiliki pedang yang cukup panjang dan besar. Sedangkan yang berada di kiriku menggunakan tombak besi yang panjang.
'Hmm... aku penasaran bagaimana mereka memperoleh senjata itu?'
Aku penasaran. Bagaimana tidak, jika aku bisa mengganti senjata dan peralatan mereka, kekuatan tempurnya akan meningkat dengan drastis.
Tak ingin terjebak dalam rasa penasaran, aku bertanya kepada mereka kembali.
"Ngomong-ngomong, darimana kalian memperoleh senjata itu? Dan bagaimana kalian bisa menggunakannya?"
"Kami membunuh kobold besar dan mereka menjatuhkan kedua senjata ini saat Tuan tidak ada disini! Karena terlihat kuat, kami memutuskan untuk menggunakannya agar dapat melayani Tuan dengan lebih baik!"
'Eh? Begitu saja? Jadi aku hanya perlu memberikan mereka senjata dan peralatan lainnya lalu mereka akan menggunakannya sendiri?'
Aku merasa bodoh dan kecewa dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui hal sesederhana itu.
Jika aku ingin mereka mengganti senjata mereka, aku hanya perlu menyiapkan senjata itu.
Belum selesai kecewa dengan diriku sendiri, terdengan suara ketukan dari balik pintu.
"Huh? Siapa itu? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun selama 1 hari kedepan." Tanyaku kepada para goblin yang ada di ruangan ini.
Semua menggelengkan kepala termasuk 2 Guardian yang mampu berbicara itu.
"Baiklah, salah satu dari kalian buka pintunya. Yang lain, bersiaplah untuk pertarungan."
Semua goblin bersiaga. 5 goblin kecil berada di depan tempat aku duduk untuk menjadi perisai bagiku. Sedangkan 2 Guardian itu berjaga di kanan dan kiri tubuhku.
'Kreekk....'
__ADS_1
Pintu terbuka secara perlahan.
Dibalik pintu itu, nampak sosok perempuan. Ia memiliki rambut berwarna merah dan pakaian dengan corak merah dan hitam.
Tidak ada nama di atas kepalanya, yang menunjukkan bahwa dia bukan PK.
Itulah kesimpulan yang aku buat setelah bertemu dengan Straf. PK memiliki nama berwarna merah menyala yang terpampang jelas di atas kepala mereka.
Perempuan itu mendekat kepadaku tanpa sepatah katapun. Langkah kakinya menunjukkan Ia sama sekali tidak takut dengan monster yang ada disekitarnya.
Saat Ia sudah ada dihadapanku, mulutnya mulai berbicara.
"Aku mendengar hal yang menarik tentangmu dari para petualang, Tamer." Ucap perempuan itu. Ia kemudian segera melanjutkan perkataannya sambil memandangiku.
"Eric, level 41, total Growth Point 40, Kapasitas Mana mencapai 32 ribu, teknik summoning pemula level 6, teknik kontrak pemula level 4, teknik...."
Perempuan itu terus menerus menyebutkan seluruh statusku, seakan Ia memang bisa melihatnya dengan mudah.
"Oh, jadi seperti itu caramu memperoleh monster ya? Sungguh menarik!" Lanjut perempuan itu.
Aku tak mampu berkata-kata dalam situasi ini. Kedua Guardian telah bersiap untuk pertarungan. Tapi perempuan misterius itu mengakhiri penyebutan kemampuanku setelah melihat reaksiku.
"Unique Skill : Observer." ucapnya.
"A-apa maksudmu?" Tanyaku yang semakin kebingungan.
"Haaah...." Perempuan itu menghela nafasnya sambil menatapku dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Sudah kuduga kau orang yang bodoh ya?"
"A-apa yang kau bilang! Kau tiba-tiba datang kemari, mengatakan hal-hal yang aneh dan kemudian mengatai diriku bodoh?" Jawabku dengan keras.
"Ya, kau bodoh. Sangat bodoh malah. Menjual monster yang menuruti seluruh perintah pembelinya dengan harga murah, selain itu tidak menanyai mengenai apa yang akan mereka gunakan dengan monster itu. Terlebih lagi kau sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi. Jika bukan bodoh apalagi?" Jawab perempuan yang tak ku kenal itu dengan nada sombong.
Belum sempat aku menjawab, perempuan itu melanjutkan perkataannya.
"Maka dari itu, Elin yang pintar ini akan membantumu! Mulai sekarang, kita adalah sepasang partner!"
"Apa yang kau katakan? Kau tidak bisa memutuskannya secara sepihak! Lagipu...."
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, Elin menutupi bibirku dengan ujung jarinya.
"Jika kau menolak tawaranku ini, aku akan menjual informasi mengenai dirimu... Summoner."
Pikiranku mulai tersadar setelah mendengar perkataannya.
__ADS_1
Elin. Unique Skill : Observer.
Dihadapannya, tidak ada informasi yang bisa disembunyikan.