
‘Ttrraaang!’
‘Ttrraaang!!’
‘Ttrraaang!!!’
Suara benturan antara pedang besar milik Oliver dan Minotaurus itu memekikkan telingaku. Meski memiliki level yang tidak diketahui, Oliver nampak mampu mengimbanginya dengan menggunakan sihir dari tangan kirinya.
“Flame!” Teriak Oliver sambil mengarahkan tangan kirinya ke tubuh minotaur itu. Seketika semburan api yang cukup besar membakar tubuhnya. Goblin Warrior yang bertarung bersama Oliver juga terus menerus mengayunkan pedangnya ke arah minotaur.
Setiap 5 detik aku juga terus memberikan Lightning Strike kepada minotaur itu bersamaan dengan Goblin Shaman di sebelahku.
[Anda telah memberikan 86 damage!]
“Sialan! Ada apa dengan kemampuan pertahanannya ini?!” Teriakku melihat notifikasi yang hanya membuat suasana dipenuhi rasa putus asa.
Oliver dan Goblin Warrior yang sejak tadi terus menerus memberikan serangan kepada minotaur itu bahkan tidak mampu menggores HP Bar minotaur sebesar 1% saja.
“Oliver! Pergi dari sini dan persiapkan pasukan di ruang masuk dungeon! Aku dan 2 goblin ini akan menahannya sampai kau siap!” Perintahku kepada Oliver.
“Tapi Tuan, Eric….”
“LAKUKAN!!!” Teriakku pada Oliver.
“Baiklah, Tuanku. Semoga selamat!” Balas Oliver sambil pergi meninggalkan ruangan boss ini. Ia segera kembali ke jalan masuk dungeon Orc ini. Sebuah area tambang yang ditinggalkan karena menjadi tempat pasukan goblin memburu Orc.
Seakan tidak ingin lawannya pergi, minotaur itu mengejarnya hingga ke pintu masuk ruang boss. Tapi aku dan Goblin Shaman segera menahannya dengan menggunakan sihir petir. Meski sekejap, kami berdua mampu memberikan efek Stun kepadanya.
“Lawanmu adalah kami bertiga dasar minotaur sialan!” Teriakku kepada minotaur itu.
“Grrrr!!!” Balas minotaur yang sudah sangat jelas tidak mampu bicara. Apalagi memahami bahasaku.
Ia mengayunkan kapaknya ke lantai. Aku yang memahaminya segera melompat ke belakang dan berhasil untuk menghindar. Kerusakan yang diberikan oleh ayunan kapak minotaur ini jauh lebih mengerikan daripada yang kujumpai sebelumnya.
‘Sekarang bagaimana caraku mengulur waktu?’ Pikirku dalam hati.
Sementara itu….
“Seluruh pasukan! Bersiap di pintu masuk Dungeon Orc! Pasukan jarak pendek bersiap didepan! Pemanah ambil posisi di belakang dan samping! Penyihir bersiaga di belakang barisan!” Teriak Oliver dengan sangat kencang.
Seluruh prajurit goblin yang mendengar teriakan Oliver segera memathu perintahnya. Semuanya bersiaga di posisi masing-masing dan mempersiapkan senjatanya. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 400 goblin.
Sekitar 230 Goblin jarak dekat dimana 10 diantaranya merupakan Goblin Warrior.
Sekitar 160 Goblin jarak jauh yang menggunakan Crossbow sebagai senjatanya. 5 diantaranya merupakan Goblin Warrior.
Sementara penyihir hanya terdiri atas 10 Goblin Shaman. Wajar saja karena hanya goblin yang telah berevolusi menjadi Goblin Shaman yang mampu menggunakan sihir.
Semuanya telah bersiap untuk menjaga jalan masuk ini.
__ADS_1
Jalan masuk ke Dungeon Orc merupakan bekas tambang yang dulu pernah digunakan. Akan tetapi sejak penemuan Dungeon ini, Elin memutuskan untuk mengubah fungsinya menjadi jalan masuk sekaligus benteng pertahanan jika ada Orc yang berjalan keluar dari dungeon.
Penampilan ‘benteng’ ini cukup sederhana. Di samping kanan dan kiri terdapat balok-balok kayu serta lentera yang dulunya digunakan untuk menerangi penambangan. Benteng dengan struktur utama batuan tambang dan sisa-sisa kayu menjaga perbatasan antara peradaban monster dan Dungeon Orc.
Tak cukup sampai disitu, Oliver yang telah memahami kengerian musuh yang dihadapinya memerintahkan 2 ekor goblin untuk memberi kabar kepada seluruh goblin penjaga yang ada di 5 lantai kota goblin ini. Ia memberikan perintah untuk segera bergabung dengan pasukan di jalan masuk dungeon ini dan juga berjaga di pintu masuk area tambang.
Tentu saja seluruh goblin penambang telah dengan cepat dievakuasi oleh beberapa penjaga yang ada di sekitar.
Semuanya telah siap. Hanya perlu menunggu kabar dari Tuan mereka.
Setiap goblin merasa khawatir atas keselamatan Eric. Terutama Oliver yang memahami bahwa Eric telah melemah karena suatu hal. Tapi di saat mereka semua khawatir, terdengar suara langkah kaki yang begitu keras.
“Semuanya bersiap!” Teriak Oliver.
Dibalik jalan masuk ke dungeon itu, muncul sesosok manusia yang tak lain adalah Eric. Keberadaan 2 goblin yang bersamanya tidak diketahui.
Eric yang segera menyadari bahwa pasukan goblin telah bersiap untuk mengepung minotaur ini segera menuju ke barisan belakang. HP yang Eric miliki telah berwarna merah dan hanya tersisa sekitar 10% saja.
“Semuanya tembakkan apapun yang kalian punya!” Teriak Eric dengan sangat keras.
‘Duuaaarrr!!!’
Minotaur itu dengan mudah menjebol jalan masuk ke dalam tambang. Dinding batu yang kecil itu bukanlah tandingan bagi tubuhnya yang sangat besar.
‘Grrrr!!!’
Saat itu juga.
Ratusan anak panah melesat dengan sangat kencang ke arah minotaur itu, menembus tubuh besarnya.
‘Duaarr!’
Tak hanya panah, Goblin Shaman yang berbaris dengan rapi juga mengeluarkan sihir petirnya secara bergantian. Hal ini bertujuan untuk memberikan efek Stun terhadap minotaur itu secara terus menerus. Setiap 1 detik, mereka akan mengeluarkan skill Lightning Strike secara bergantian.
Strategi ini sangat efektif. Minotaur itu terkunci di tempat karena efek Stun dan terus menerus menerima hujan anak panah dari para goblin. Tak hanya itu, Goblin Warrior yang bertugas di garis depan juga terus menerus mengayunkan pedangnya tanpa henti.
‘Jika terus begini maka…. Eh?!’ Teriak Eric dalam hati.
Seketika matanya terbuka dengan sangat lebar.
Mulutnya yang baru saja tersenyum puas kini menganga seakan penuh rasa takut.
Sudah 2 menit minotaur itu menerima serangan tanpa henti dari para goblin. Setiap tebasan pedang para Goblin Warrior nampak memberikan damage yang besar. Ratusan panah yang melesat tiap setengah menit juga selalu menusuk tubuh minotaur itu. Bahkan para Goblin Shaman sama sekali belum berhenti mengeluarkan sihir petirnya.
Tapi kenapa?
‘Kenapa HP Bar milik minotaur itu bahkan belum berkurang 1%?’ Pikir Eric dalam hati.
Ia pun dengan segera mengambil salah satu Crossbow yang digunakan oleh goblin di sebelahnya. Tanpa menunggu lama, Eric menembakkan panah ke arah kepala minotaur itu.
__ADS_1
Akan tetapi….
Notifikasi sistem yang muncul hanya membuatnya putus asa.
[Anda berhasil mengenai titik lemah lawan!]
[Anda telah memberikan 218 damage!]
“Damage yang kuberikan sebesar ini… bahkan jika dikalikan 100 lebih dapat mencapai angka 20 ribu. Tapi kenapa? Hujan panah sebanyak ini, tebasan pedang sebanyak ini, sihir sebanyak ini bahkan tidak mampu menggores HP milik minotaur sialan itu?” Teriak Eric dengan keras.
“Bukankah dia…. Lebih kuat daripada tangan Behemoth?” Ucap Eric pada dirinya sendiri.
Semua nampak berjalan lancar. Akan tetapi ada suatu hal yang dilupakan semua orang.
Goblin Shaman juga memiliki batasan MP.
Menggunakan sihir secara terus menerus membuat mana mereka terkuras dengan sangat cepat. Hingga pada akhirnya, mereka tidak mampu mempertahankan Stun yang diberikan kepada minotaur itu.
Tanpa adanya Stun, minotaur itu menerjang seluruh goblin yang menghadang tanpa memperdulikan apapun. Tujuannya hanya satu. Eric.
Pergerakannya yang sangat cepat membuat ukuran tubuh raksasanya itu sulit dipercayai.
Dalam sekejap, minotaur itu mampu mencapai Erik. Ia segera membuang kapaknya dan memegang tubuh Eric.
“Sialan! Apa yang kau lakukan! Lepaskan!” Teriak Eric.
Tanpa Ia duga, Eric mendengar sesuatu dibalik tatapan tajam minotaur itu.
“SUMMONER! AKU TELAH LAMA MENCARIMU!”
“Eh? Kenapa aku?” Eric yang mendengar suara itu kebingungan bukan main.
Saat itu juga, minotaur itu membawa pergi Eric dalam genggamannya.
“Eeeeeh?!”
“Tuan Eric!!!” Teriak Oliver dengan putus asa.
Tapi Erik hanya bisa pasrah dan menanti kematiannya.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
__ADS_1
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...